Your browser does not support JavaScript!
 13 Jan 2018    18:00 WIB
Keintiman Dengan Pasangan Dapat Membantu Anda Melewati Berbagai Cobaan di Hari Tua
Berbagai gangguan kesehatan dapat menimbulkan suatu tekanan dalam kehidupan pernikahan anda, berapa pun usia anda. Akan tetapi, seiring dengan semakin bertambahnya usia anda, berbagai penyakit kronik yang anda alami dapat membuat percikan-percikan cinta di antara anda dan pasangan semakin berkurang.   Beberapa orang ahli di Amerika telah berhasil menemukan suatu cara untuk membuat anda dan pasangan anda mengatasi berbagai tekanan akibat berbagai penyakit dan penuaan, yaitu jagalah keintiman anda dengan pasangan anda, baik fisik maupun mental.   Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa pasangan yang tetap memiliki kehidupan seksual yang aktif setelah bertahun-tahun menikah memiliki kadar kepuasan yang lebih tinggi dalam pernikahan mereka.Untuk itu, anda hanya perlu kembali aktif dalam kehidupan seksual anda. Dari tidak pernah berhubungan seks selama setahun menjadi berhubungan seks satu kali sebulan atau lebih telah ditemukan berhubungan dengan peningkatan kualitas pernikahan anda, bahkan walaupun berbagai penyakit yang anda alami membuat hubungan seks menjadi sulit dilakukan.     Untuk membangun suatu keintiman dengan pasangan anda, berhubungan seks bukanlah satu-satunya cara. Seiring dengan semakin bertambahnya usia seseorang, makna dari hubungan seks pun dapat berubah. Untuk menemukan adanya hubungan antara seks, kebahagiaan hidup pernikahan, dan kesehatan; para ahli mengamati sekitar 500 pasangan yang berusia di antara 58-85 tahun, di mana sebagian besar pasangan telah menikah selama setidaknya 40 tahun.   Para peneliti mengukur kualitas pernikahan masing-masing pasangan dengan cara menanyakan berbagai pertanyaan tentang seberapa dekat atau intim anda dengan pasangan anda. Pertanyaan yang diajukan dapat berupa seberapa sering anda menceritakan apa yang sebenarnya anda rasakan dan seberapa sering anda merasa pasangan anda terlalu bnayak menutut anda. Para peneliti juga memeriksa kesehatan fisik dan mental setiap orang, serta seberapa sering tiap-tiap pasangan melakukan aktivitas seksual, mulai dari sekadar belaian lembut hingga berhubungan seksual (penetrasi).   Walaupun telah ditemukan hubungan yang jelas antara kualitas pernikahan dan seberapa sering anda berhubungan intim atau melakukan berbagai aktivitas seksual lainnya dengan pasangan anda, akan tetapi para ahli masih tidak dapat menemukan seberapa besar efek aktivitas seksual ini terhadap kualitas pernikahan seseorang.   Walaupun banyak pasangan beranggapan bahwa seks bukanlah satu-satunya penentu keintiman atau kedekatan mereka dengan pasangannya, akan tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata orang yang sering berhubungan seks dengan pasangannya memiliki kualitas pernikahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang jarang melakukan aktivitas seksual.Sumber: npr
 26 Mar 2016    11:00 WIB
Saat Istri Sakit, Resiko Terjadinya Perceraian Meningkat
Resiko terjadinya perceraian meningkat pada pasangan yang sudah lama menikah ketika sang istri sakit, tetapi tidak terjadi saat sang suami yang sakit. Hal ini berdasarkan penelitian terbaru the University of Michigan Institute for Social Research. Studi ini dilakukan untuk meneliti bagaimana pernikahan dipengaruhi oleh terjadinya empat penyakit serius yaitu: kanker, penyakit jantung, penyakit paru dan stroke. Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa 31% pernikahan berakhir pada perceraian selama masa penelitian berlangsung. Sebanyak 15% kasus perceraian terjadi ketika sang istri sakit. "Dari hasil penemuan tersebut bisa disimpulkan saat wanita sakit, mereka lebih mungkin diceraikan" kata Amelia Karraker, penulis dari penelitian tersebut. Angka kejadian penyakit kronis terus meningkat seiring berjalannya waktu, dan lebih banyak suami yang mengalami penyakit serius dibandingkan istri.Para peneliti menganalisis data dari 20 tahun yang mencakup 2.717 pernikahan. Pada saat para peneliti pertama kali mengwawancarai pasangan pada studi ini, paling tidak salah seorang dari pasangan tersebut sudah mencapai usia lebih dari 50 tahun. Konsekuensi kesehatan dari perceraian memang sudah diketahui, tetapi hanya beberapa studi yang meneliti efek kesehatan terhadap resiko perceraian. Yang membuat studi ini berbeda dari studi lain adalah penelitian ini mencari tahu faktor resiko pada populasi usia 50 tahun keatas terhadap terjadinya perceraian. Angka terjadinya perceraian terus meningkat selama 20 tahun terakhir. Para peneliti memang tidak memiliki informasi tentang siapa yang berinisiatif memulai perceraian, tetapi studi sebelumnya mengindikasikan bahwa pihak istrilah yang berinisiatif. Para peneliti juga tidak mendalami penyebab mengapa perceraian lebih banyak terjadi saat sanga istri mengalami sakit serius dan tidak saat sang suami yang mengalami sakit. Saat wanita sakit, kemungkinan suami tidak dapat memenuhi peran sebagai pengambil alih peran dengan baik. Sebagai hasilnya mereka akan bergantung kepada teman atau anggota keluarga untuk merawat mereka. Para peneliti menambahkan, pada kelompok usia ini, jumlah wanita lebih banyak dari jumlah pria, sehingga pria bercerai memiliki lebih banyak pilihan untuk pasangan prospektifnya.Sumber: foxnews
 10 May 2014    14:00 WIB
Apa Penyebab Dari Nyeri Kronik?
Nyeri, walaupun bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi merupakan cara tubuh Anda memperingatkan ada sesuatu yang salah. Rasa kaku, kesemutan, merupakan tanda bahwa otot Anda mengalami kerusakan syaraf atau telah bekerja terlalu berat. Nyeri yang berkepanjangan (paling tidak berlangsung minimal tiga bulan atau lebih) dianggap sebagai nyeri kronik. Nyeri kronik dapat menyerang berbagai bagian tubuh, terutama di bagian bawah tubuh dan rentang sakit bisa dari ringan sampai berat. Nyeri dapat bersifat tajam, tumpul, sensasi seperti terbakar, gatal atau ditandai dengan kekakuan. Nyeri yang ditimbulkan oleh cedera atau trauma adalah hal yang lumrah, tetapi nyeri yang bersifat kronik dapat mengganggu kehidupan Anda sehari-hari dan juga pekerjaan Anda. Nyeri kronik dapat merusak emosi dan fisik Anda. rasa stress yang Anda alami bahkan dapat memperlemah sistem imunitas tubuh Anda dan dapat menyebabkan infeksi, kelelahan dan depresi.Pemicu dari nyeri kronik Sebanyak satu dari tiga orang di Amerika mengalami nyeri kronik, yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan tahunan. Akar penyebab dari nyeri kronis bisa berupa:•  Kimia: jika keseimbangan kimiawi di otak Anda terganggu maka Anda bisa merasakan nyeri yang berlangsung lama•  Neurogenik: jenis nyeri ini dapat dihasilkan oleh kerusakan sistem syaraf pusat yang menyebabkan gangguan pada syaraf pengatur nyeri•  Psikogenik: nyeri ini dapat dipicu oleh gangguan emosional dan masalah mental•  Psikologis: nyeri ini ditimbulkan karena gangguan personalistas atau masalah kejiwaan yang bermanifestasi menjadi nyeri secara fisik•  Tidak teridentifikasi: saat tes yang dilakukan tidak dapat memastikan penyebab pasti dari nyeri maka dokter akan menggolongkannya ke dalam nyeri yang tidak dapat diidentifikasi. Faktor resiko dari nyeri kronikDengan mengetahui penyebab dari nyeri kronis yang Anda rasakan maka Anda dapat mengatasi dan mencegah munculnya nyeri. Berbagai penyebab dari nyeri adalah:•  Usia: nyeri kronis memang bukanlah sesuatu yang normal terjadi, tetapi beberapa penyakit seperti arthritis dan diabetes dapat menyebabkan munculnya berbagai nyeri kronis karena gangguan sendi dan kerusakan nervus•  Kondisi kesehatan: fibromialgia, depresi atau gangguan kecemasan, cedera sendi, amputasi kaki dan operasi dapat menimbulkan nyeri yang bersifat kronik.•  Sistem imunitas: sistem imunitas yang melemah dapat menimbulkan berbagai ganguan seperti infeksi dan penyakit lainnya.•  Merokok: merokok dapat menyebabkan nyeri kronik dan menghambat penyerapan obat yang digunakan untuk meredakan sakit tersebut.•  Diet dan gaya hidup: memakan junk food, gaya hidup tidak sehat, mengkonsumsi alkohol dan kebiasaan tidak sehat lainnya dapat menyebabkan timbulnya nyeri kronik.Sumber: healthline