Your browser does not support JavaScript!
 03 Aug 2019    16:00 WIB
Berbagai Efek Samping Kemoterapi yang Perlu Diketahui
Memang benar bahwa kemoterapi dapat mengobati berbagai jenis kanker dengan cukup efektif. Akan tetapi, seperti berbagai jenis obat lainnya, kemoterapi seringkali menyebabkan terjadinya berbagai jenis efek samping.Efek samping yang terjadi dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis kanker, lokasi, jenis obat, dosis obat, dan keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan. Mengapa Kemoterapi Menimbulkan Efek Samping?Kemoterapi bekerja pada sel-sel tubuh yang aktif. Sel-sel tubuh yang aktif adalah sel-sel yang bertumbuh dan membelah diri. Sel-sel kanker merupakan sel aktif, tetapi begitu pula dengan sel-sel tubuh yang sehat.Sel-sel tubuh sehat yang termasuk sel-sel aktif adalah sel-sel di dalam darah, mulut, saluran pencernaan, dan folikel rambut. Efek samping terjadi saat kemoterapi merusak sel-sel aktif yang sehat ini. Apakah Efek Samping Kemoterapi Bisa Diobati?Bisa. Dokter Anda biasanya akan membantu Anda mencegah atau mengobati berbagai efek samping yang timbul. Selain itu, dokter Anda mungkin akan memberikan kombinasi obat atau menggunakan cara pengobatan tertentu sehingga efek samping yang timbul pun lebih sedikit. Obat kemoterapi yang berbeda biasanya akan memiliki efek samping yang berbeda. Segera beritahu dokter Anda bila Anda mengalami efek samping. Bagi sebagian besar jenis obat kemoterapi, efek samping tidak berhubungan dengan efektivitas pengobatan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa efek samping kemoterapi yang cukup sering ditemukan. 1.      FatigueFatigue adalah merasa lelah atau sangat lelah hampir di sepanjang hari. Fatigue merupakan efek samping kemoterapi yang paling sering ditemukan. 2.      NyeriKemoterapi kadangkala membuat penderitanya merasa kesakitan, termasuk sakit kepala, nyeri otot, nyeri perut, nyeri akibat kerusakan saraf (rasa seperti terbakar, mati rasa, atau seperti tertusuk-tusuk) yang biasa terjadi pada jari tangan dan jari kaki.Nyeri ini biasanya akan semakin berkurang seiring dengan berlalunya waktu. Akan tetapi, sejumlah orang dapat mengalami kerusakan saraf permanen. Hal ini dapat membuat seseorang kesakitan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan.Pengobata nyeri akibat kemoterapi yang biasanya diberikan oleh dokter adalah mengobati sumber nyeri, memberikan obat anti nyeri, dan menghambat sinyal nyeri dari saraf ke otak.  3.      SariawanKemoterapi dapat merusak sel-sel di bagian dalam mulut dan tenggorokan. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya sariawan yang terasa sangat nyeri di kedua bagian tubuh tersebut. Keadaan ini disebut dengan mukositis.Sariawan biasanya mulai muncul pada hari ke 5-14 paska kemoterapi. Sariawan ini dapat mengalami infeksi. Mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga kebersihan mulut dan gigi dapat menurunkan resiko terjadinya sariawan. Sariawan ini biasanya akan menghilang seluruhnya setelah pengobatan selesai. 4.      DiareSejumlah kemoterapi dapat menyebabkan diare cair. Mencegah atau mengobati diare sejak dini dapat mencegah terjadinya dehidrasi. 5.      Mual dan MuntahKemoterapi dapat menyebabkan mual dan muntah. Terjadinya efek samping ini dan seberapa buruk gejalanya tergantung pada jenis obat dan dosis obat yang digunakan. Pemberian obat yang tepat sebelum dan setelah kemoterapi biasanya dapat mencegah terjadinya mual dan muntah. 6.      SembelitKemoterapi dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Hal ini berarti sulit atau tidak sering buang air besar. Beberapa jenis obat-obatan lain seperti obat anti nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Untuk menurunkan resiko terjadinya sembelit; konsumsilah banyak air putih, makan makanan sehat, dan cukup olahraga. 7.      Gangguan Darah Sumsum tulang merupakan suatu jaringan seperti spons yang berada di dalam tulang Anda. Sumsum tulang berfungsi untuk membentuk sel-sel darah baru. Kemoterapi biasanya akan mengganggu proses ini, sehingga Anda mungkin akan mengalami berbagai gangguan kesehatan akibat kurang darah.Dokter Anda biasanya akan melakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui berapa kadar sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit di dalam darah Anda.Kekurangan sel darah merah dapat menyebabkan terjadinya anemia, dengan gejalanya berupa fatigue, pusing, dan sesak napas. Sementara itu, kekurangan sel darah putih (leukopenia) akan membuat Anda lebih mudah jatuh sakit. Kekurangan trombosit akan membuat Anda lebih mudah mengalami perdaharan dan memar daripada biasanya. Baca juga: Cara Atasi Rasa Mual Akibat Kemoterapi Sekarang ini, telah tersedia obat-obatan yang dapat mengobati berbagai jenis gangguan darah di atas dan mencegah terjadinya leukopenia pada pasien dengan resiko tinggi. Obat-obatan ini dapat membantu sumsum tulang Anda membentuk sel-sel darah baru. 8.      Gangguan Sistem SarafSejumlah obat kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan saraf. Obat ini dapat menyebabkan timbulnya beberapa gejala seperti kesemutan, rasa seperti terbakar, kelemahan atau mati rasa pada tangan, kaki, atau keduanya; otot terasa lemah, nyeri, atau mudah lelah; hilang keseimbangan, dan gemetar.Anda mungkin juga akan mengalami kaku leher, nyeri kepala, kesulitan melihat, kesulitan mendengar, atau kesulitan berjalan dengan normal. Anda akan merasa mudah jatuh. Berbagai gejala ini biasanya akan membaik saat dosis obat kemoterapi diturunkan atau dihentikan. Akan tetapi, kadangkala kerusakan yang terjadi bersifat permanen. 9.      Perubahan Cara Berpikir dan Daya IngatSejumlah orang dapat mengalami kesulitan berpikir jernih dan berkonsentrasi setelah melakukan kemoterapi.  10.  Gangguan Seksual dan Organ ReproduksiKemoterapi dapat mempengaruhi kesuburan Anda. Bagi wanita, kemoterapi akan mempengaruhi kemampuannya untuk hamil. Sementara itu, bagi pria, kemoterapi akan mempengaruhi kemampuannya untuk membuat seorang wanita hamil.Selain itu, merasa lelah atau tidak enak badan karena menderita kanker atau karena kemoterapi juga dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk menikmati seks. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai efek samping yang satu ini sebelum Anda memulai kemoterapi.Kemoterapi juga dapat membahayakan jiwa janin, terutama bila kehamilan masih berusia kurang dari 3 bulan saat semua organ bayi masih dalam masa pembentukan. Jika Anda memiliki kemungkinan untuk hamil selama pengobatan, gunakanlah pil KB. Jika Anda hamil, segera beritahu dokter Anda. 11.  Hilangnya Nafsu MakanSaat melakukan kemoterapi, Anda mungkin akan makan lebih sedikit daripada biasanya, tidak merasa lapar sama sekali, atau merasa kenyang setelah makan sedikit. Jika hal ini terus berlangsung selama pengobatan, maka Anda mungkin akan mengalami penurunan berat badan dan kurang gizi. Anda juga mungkin akan mengalami penurunan massa otot dan kekuatan otot. Semua hal ini dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk sembuh. 12.  Rambut RontokBeberapa jenis kemoterapi dapat menyebabkan rambut rontok dari seluruh bagian tubuh. Hal ini mungkin terjadi secara perlahan atau sekaligus. Rambut rontok biasanya mulai terjadi setelah beberapa minggu pertama kemoterapi dan cenderung meningkat dalam waktu 1-2 bulan. Dokter Anda dapat memprediksi hal ini berdasarkan pada jenis obat dan dosis obat yang Anda terima. 13.  Efek Samping Jangka PanjangSebagian besar efek samping di atas akan menghilang setelah pengobatan dihentikan. Akan tetapi, sejumlah efek samping akan tetap berlanjut, kambuh, atau baru timbul kemudian. Contohnya, beberapa jenis kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, atau sistem reproduksi. Dan sejumlah orang mungkin akan mengalami kesulitan berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat selama beberapa bulan atau beberapa tahun paska kemoterapi.Kerusakan atau perubahan sistem saraf dapat terjadi paska pengobatan. Anak-anak yang menjalani kemoterapi mungkin akan mengalami efek samping yang akan berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun paska kemoterapi. Orang yang berhasil sembuh dari kanker juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker lagi di kemudian hari. Pentingnya Perawatan Paska KemoterapiPerawatan saat kemoterapi telah selesai sangat penting. Dokter Anda dapat membantu Anda mengatasi berbagai efek samping jangka panjang dan memperhatikan apakah ada efek samping baru (late effects) yang timbul paska kemoterapi. Dokter Anda mungkin akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: cancer 
 11 Jul 2019    16:00 WIB
Penanganan Muntah Pada Bayi
Setiap anak atau bayi pasti pernah mengalami muntah. Muntah pada anak atau bayi seringkali membuat orang tua nya menjadi cemas. Secara umum, muntah bersinonim dengan vomit, vomiting, vomitus, dan emesis. Muntah adalah pengeluaran yang cepat dari isi lambung melalui mulut akibat kontraksi otot-otot perut yang kuat. Sesungguhnya muntah adalah hal yang cukup normal dan tidak perlu di khawatirkan bila terjadi hanya satu hari serta tidak ada gejala lain serta si bayi atau anak tidak dehidrasi. Muntah yang perlu di khawatirkan adalah : 1. Muntah yang sering dan berpotensi menyebabkan dehidrasi. 2. Muntah Darah dan berlendir, Muntah berwarna hijau. 3. Muntah yang terjadi berulangkali dalam jangka waktu lebih dari 2 hari. 4. Muntah yang di sertai nyeri perut, anak tidak mau minum, dan tidak membaik setelah diobati. Cara mengatasi Bayi atau Anak yang muntah : 1. Penolong tetap tenang dan tidak panik. 2. Ketika di tempat tidur, posisikan tubuh Bayi/Anak miring, untuk mencegah si Anak agar tidak tersedak. 3. Bila anak/bayi muntah dalam posisi duduk/ berdiri, segera tundukan kepala si anak dan biarkan si anak menuntaskan muntahnya. 4. Bersihkan mulut anak dan bagian tubuh yang terkena muntahan dengan handuk yang lembab. 5. Setelah Anak selesai muntah, bantu dia untuk berkumur. Pada bayi yang belum dapat berkumur, orangtua dapat memeberikan beberapa sendok air putih untuk diminum, yang berfungsi membersihkan mulut dan mengurangi rasa asam di mulut. 6. Bayi/Anak yang mengalami muntah harus banyak beristirahat. 7. Jaga anak/bayi jangan sampai kekurangan cairan/dehidrasi. Berikan makan/minum sedikit saja tetapi sering. 8. Bila muntah disebabkan oleh makanan/minuman tertentu karena si bayi/anak alergi, hentikan jenis makanan/minuman tersebut. 9. Terkadang bayi perlu dipuasakan selama muntah maksimum 2 jam. 10. Bila anak/bayi anda muntah yang terlalu sering atau berpotensi menyebabkan dehidrasi, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak terdekat.
 18 Jun 2019    11:00 WIB
Tips Untuk Mengatasi Serangan Mual dan Muntah
Mual dan muntah merupakan hal yang umum dialami oleh anak-anak dan biasanya tidak berbahaya. Beberapa penyebab paling sering dari terjadinya mual dan muntah adalah infeksi virus pada saluran pencernaan dan kadangkala keracunan makanan. Hubungi dokter Anda bila anak Anda baru berusia kurang dari 12 minggu, tampak sangat sakit, atau bila Anda merasa khawatir. Salah satu hal terpenting yang perlu Anda perhatikan bila anak Anda menderita mual, muntah, atau diare adalah tanda-tanda terjadinya dehidrasi. Anak-anak lebih mudah mengalami dehidrasi dibandingkan dengan orang dewasa. Beberapa gejala dehidrasi yang perlu Anda perhatikan adalah: Tampak lelah atau rewel Mulut kering Air mata sedikit atau tidak ada saat menangis Kulit terasa dingin Mata tampak cekung Tidak buang air kemih sesering biasanya atau volume air kemih berkurang atau sedikit Air kemih berwarna kuning pekat Untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi, usahakanlah agar anak Anda dapat minum. Bahkan jika anak Anda terus muntah, ia tetap memperoleh cairan. Anda dapat memberikan air putih, minuman energi, atau oralit. Berikanlah anak Anda minum (air putih) dengan menggunakan sendok makan dan tambahkan terus jumlahnya bila anak Anda telah dapat mengkonsumsi lebih banyak air putih dan perhatikan seberapa sering anak Anda buang air kecil. Selain mencegah dan mengatasi dehidrasi, terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi serangan mual dan muntah seperti di bawah ini.  1.      Diet Cair Jika serangan mual dan muntah telah berlangsung selama beberapa jam, Anda dapat mulai memberikan diet atau makanan cair (bening) atau oralit atau minuman elektrolit selain air putih. Berbagai jenis makanan dan minuman cair seperti sup atau jus buah lebih mudah dicerna dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak Anda.  2.      Pemberian Obat-obatan Serangan muntah pada anak biasanya sembuh dalam waktu singkat, jadi akan lebih baik bila Anda menunggu selama beberapa waktu terlebih dahulu sebelum mulai memberikan obat-obatan. Tergantung pada penyebabnya, beberapa jenis obat-obatan mungkin tidak dapat membantu mengatasi mual dan muntah. Memberikan cairan yang cukup merupakan kunci yang lebih penting untuk mengatasi serangan mual dan muntah dibandingkan dengan pemberian obat-obatan. Akan tetapi, bila anak Anda mengalami muntah hebat, maka jangan ragu untuk segera menghubungi dokter.  3.      Jahe Jahe telah digunakan selama beribu-ribu tahun untuk mengurangi rasa nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut. Para peneliti menduga bahwa berbagai zat kimia yang terdapat di dalam jahe dapat membantu mengatasi gangguan pada lambung dan usus, begitu juga otak dan sistem saraf yang mengendalikan rasa mual. Walaupun belum terbukti mampu meredakan mual dan muntah pada anak-anak, akan tetapi juga patut dicoba. Jahe aman diberikan pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun.  4.      Akupresur Akupresur merupakan suatu prosedur di mana dilakukan penekanan pada titik-titik tertentu pada bagian tubuh untuk mengubah sesuatu hal di bagian tubuh lainnya, seperti halnya akupuntur. Untuk mengurangi rasa mual dan muntah, Anda dapat menggunakan jari tengah dan jari telunjuk Anda pada bagian tengah pergelangan tangan bagian dalam, di antara 2 tendon besar.   Kapan Hubungi Dokter Segera hubungi dokter anak Anda atau segera cari pertolongan medis bila anak Anda mengalami beberapa hal di bawah ini, yaitu: Berusia kurang dari 12 minggu dan muntah lebih dari 1 kali. Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi atau mencurigai bahwa anak Anda mengkonsumsi racun Tampak bingung atau mengalami demam tinggi, nyeri kepala, kaku kuduk, nyeri perut, atau terdapat bercak kemerahan pada kulit Ada daerah atau cairan empedu pada muntahannya atau bila Anda menduga anak Anda mungkin mengalami usus buntu Sulit dibangunkan atau tampak sakit atau telah muntah selama lebih dari 8 jam atau jika Anda merasa khawatir     Sumber: webmd
 19 Oct 2018    08:00 WIB
Bayi Anda Sering Muntah, Normal Atau Tidak?
Apakah normal bagi seorang bayi untuk muntah? Muntah merupakan hal yang normal terjadi pada bayi, terutama pada bayi baru lahir karena mereka sedang beradaptasi dengan makan dan organ tubuhnya masih dalam tahap perkembangan. Selain makan, ada berbagai hal lain yang dapat memicu terjadinya muntah pada bayi. Beberapa hal lain tersebut adalah mabuk kendaraan, gangguan pencernaan, terlalu lama menangis, atau terlalu lama batuk. Jadi, Anda pasti akan melihat bayi Anda sering muntah. Serangan muntah ini biasanya akan reda dalam waktu 6-24 jam setelah dimulai. Bayi Anda biasanya tidak memerlukan pengobatan, kecuali banyak minum air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Jadi, selama bayi Anda tampak sehat dan terus mengalami peningkatan berat badan, maka Anda tidak perlu merasa khawatir bila bayi Anda cukup sering muntah. Percayailah insting Anda dan segera periksakan bayi Anda ke dokter bila Anda merasa khawatir.   Kapan Perlu Merasa Khawatir? Pada beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi Anda biasanya muntah akibat masalah pencernaan ringan, misalnya karena terlalu kenyang. Setelah melewati usia beberapa bulan, muntah dapat merupakan gejala dari suatu infeksi, misalnya gastroenteritis. Infeksi jenis ini biasanya juga disertai oleh diare. Selain itu, bayi Anda mungkin juga akan muntah saat ia mengalami flu, infeksi saluran kemih, dan infeksi telinga. Kadangkala, alergi makanan juga dapat menyebabkan muntah. Jika muntah memang disebabkan oleh alergi makanan, maka keluhan muntah biasanya akan reda saat bayi Anda tidak lagi mengkonsumsi makanan tersebut. dianjurkan agar Anda berkonsultasi dengan dokter anak Anda sebelum menghentikan konsumsi suatu makanan bagi bayi Anda. Muntah juga dapat merupakan gejala dari suatu penyakit yang lebih serius. Segera periksakan bayi Anda ke seorang dokter bila muntah juga disertai oleh beberapa gejala di bawah ini, yaitu: Tanda-tanda dehidrasi seperti mulut kering, air mata berkurang, ubun-ubun cekung, bayi tampak lesu, dan lebih jarang buang air kecil (kurang dari 6 popok basah setiap harinya) Demam Tidak mau minum susu Muntah lebih dari 12 jam atau muntah menyemprot Ada bercak kemerahan pada kulit yang tidak menghilang saat kulit ditekan Tampak mengantuk atau sangat rewel Ubun-ubun menonjol Sesak napas Perut membesar Adanya darah atau cairan empedu (cairan berwarna kehijauan) pada muntahan Muntah menyemprot pada bayi baru lahir yang terjadi dalam waktu 30 menit setelah makan Adanya darah atau cairan empedu di dalam muntahan bayi Anda tidak perlu Anda khawatirkan bila bayi Anda tampak sehat sebelum muntah. Hal ini mungkin terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil pada kerongkongan akibat muntah atau bila bayi Anda baru saja mengalami mimisan dalam waktu 6 jam terakhir. Akan tetapi, segera periksakan bayi Anda ke dokter bila terus ada darah pada muntahan bayi Anda atau bila jumlah darah dalam muntah meningkat. Adanya cairan empedu dalam muntahan dapat menunjukkan adanya sumbatan pada usus, yang membutuhkan pengobatan segera. Muntah terus-menerus atau muntah menyemprot pada bayi baru lahir dalam waktu 30 menit setelah makan dapat disebabkan oleh stenosis pylorus, suatu kondisi langka yang biasanya mulai menimbulkan gejala saat bayi berusia beberapa minggu, tetapi dapat pula saat bayi sudah berusia 4 bulan. Stenosis pylorus menyebabkan katup yang terdapat di antara lambung dan usus menebal sehingga katup tidak dapat terbuka sebagaimana mestinya agar makanan dapat lewat. Hal ini akan menyebabkan bayi muntah tidak lama setelah makan. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah tindakan pembedahan, yang harus segera dilakukan.   Baca juga: Mengapa Bau Badan Bayi Selalu Harum?   Apa yang Harus Dilakukan Saat Bayi Anda Muntah? Biasanya muntah merupakan hal yang sering terjadi pada bayi dan tidak perlu dikhawatirkan karena akan segera membaik. Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membuat bayi Anda lebih cepat sembuh. Cukupi Kebutuhan Cairannya Saat bayi Anda muntah, maka ia akan kehilangan sejumlah cairan tubuh. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengganti cairan tubuh yang hilang ini agar bayi Anda tidak mengalami dehidrasi. Untuk mencukupi kebutuhan cairannya, Anda dapat memberikan beberapa tetes cairan oralit, beberapa kali setiap jamnya; sambil tetap memberikan ASI atau susu formula dan air putih. Jangan berikan bayi Anda jus buah. Kembali ke Pola Makannya Bila bayi Anda tidak lagi muntah selama 12-24 jam, maka Anda dapat mengembalikan pola makannya ke pola makan yang biasanya. Tetapi, pastikan Anda tetap memberikan cukup cairan. Jika bayi Anda sudah dapat mengkonsumsi makanan padat, mulailah dengan makanan yang mudah dicerna, misalnya sereal atau yogurt. Istirahat yang Cukup Tidur dapat membantu pemulihan tubuh bayi Anda. Selain itu, lambung seringkali akan menjadi kosong saat tidur, yang dapat mengurangi keinginan bayi Anda untuk muntah. Jangan berikan bayi Anda obat anti mual, kecuali bila dianjurkan oleh dokter Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: babycentre
 09 Oct 2017    11:00 WIB
Mual dan Muntah? Hati-hati Keracunan Makanan!
Keracunan makanan merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi saat seseorang mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh berbagai jenis kuman seperti bakteri, virus, parasit, dan berbagai jenis racun yang dihasilkannya. Kontaminasi ini dapat terjadi kapan pun, termasuk saat proses menanam, memanen, pengolahan, menyimpan, pengiriman, dan saat memasak suatu bahan makanan. Oleh karena itu, berbagai jenis makanan mentah atau siap makan memiliki resiko keracunan yang lebih tinggi karena mereka tidak dimasak hingga suhu tertentu sehingga berbagai kuman berbahaya di dalamnya pun tidak akan mati. Gejala keracunan makanan biasanya akan terjadi dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah penderita mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala keracunan makanan ini dapat bervariasi tergantung dari kuman penyebabnya. Gejala yang biasa ditemukan adalah: Mual Muntah Diare Nyeri perut atau kram perut Demam Sebagian besar kasus keracunan makanan merupakan kasus ringan yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, akan tetapi pada beberapa kasus, keracunan makanan yang dialami dapat sangat berat, yang membuat penderita memerlukan pengobatan atau bahkan perawatan di rumah sakit.   Baca juga: Jenis Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bersamaan   Kapan Hubungi Dokter? Segera hubungi dokter Anda atau cari pertolongan medis bila Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini: Muntah berulang dan tidak dapat minum atau makan Muntah darah atau ada darah pada tinja Diare yang berlangsung selama lebih dari 3 hari Nyeri perut hebat atau kram perut berat Demam lebih dari 38 derajat Celcius Mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan atau terus-menerus, mulut kering, jarang atau bahkan sama sekali tidak buang air kecil, badan terasa sangat lemah, pusing, atau kepala terasa ringan Adanya gangguan neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot, dan kesemutan pada lengan   Apa yang Dapat Anda Lakukan? Saat Anda mengalami diare atau terus-menerus muntah; konsumsilah banyak air putih dan konsumsilah makanan hambar untuk mengurangi stress pada sistem pencernaan Anda. Jika anak Anda yang mengalami kedua hal di atas, berikanlah juga banyak air putih dan makanan hambar. Bila anak Anda masih menyusui, tetap berikan ASI atau susu formula pada anak Anda seperti biasanya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: mayoclinic
 28 Sep 2017    18:00 WIB
10 Makanan yang Paling Sering Menyebabkan Keracunan
Pernahkah Anda bertanya-tanya apakah mengkonsumsi berbagai jenis sayuran seperti salad juga dapat menyebabkan Anda mengalami keracunan makanan? Di Amerika, salad sayuran merupakan salah satu jenis makanan yang cukup sering menyebabkan terjadinya keracunan makanan. Dari 76 juta kasus keracunan makanan di Amerika setiap tahunnya, sayuran berdaun hijau merupakan penyebab dari sekitar 30% kasus di antaranya.Keracunan makanan sendiri sebenarnya merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi saat seseorang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau toksin yang dihasilkan oleh ketiganya.Di bawah ini Anda dapat melihat hasil analisis data yang dilakukan oleh The Washington-based Centers for Science dari tahun 1990 sampai tahun 2006 mengenai berbagai jenis makanan yang paling sering menyebabkan terjadinya keracunan makanan dalam kurun waktu tersebut.  1.      Sayuran Berdaun HijauBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, sayuran berdaun hijau telah menyebabkan sekitar 363 kasus keracunan makanan. Hal ini dikarenakan sayuran berdaun hijau mengandung berbagai jenis kuman seperti bakteri E.coli, norovirus, dan salmonella. Berbagai jenis kuman ini biasanya mengkontaminasi sayuran pada waktu sayuran tersebut dipanen atau saat dicuci sebelum dikemas. 2.      TelurBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, telur telah menyebabkan sekitar 325 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus keracunan makanan akibat telur disebabkan oleh adanya salmonella di dalamnya karena proses memasak yang tidak tepat. Kejadian ini paling sering terjadi di restoran, misalnya saat mereka menyajikan telur yang terlalu mentah atau terlalu lama membiarkannya di dalam tempat terbuka, misalnya di tempat makan buffet. 3.      Ikan TunaBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, ikan tuna telah menyebabkan sekitar 268 kasus keracunan makanan. Penyebab utamanya adalah karena keracunan scombroid, sejenis racun yang dilepaskan saat ikan segar disimpan di dalam tempat bersuhu kurang dari 15.5 derajat Celcius. Gejala yang biasa ditemukan adalah nyeri kepala, kram perut, mual, diare, berdebar-debar, dan gangguan penglihatan. 4.      TiramBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, tiram telah menyebabkan sekitar 132 kasus keracunan makanan. Penyebab utamanya adalah adanya norovirus di dalam tiram dan biasanya berasal dari air tempatnya berasal. Selain norovirus, sejenis bakteri yang bernama Vibrio juga dapat ditemukan di dalam tiram dan dapat masuk ke dalam aliran darah dan mengancam nyawa seseorang. 5.      KentangBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, kentang telah menyebabkan sekitar 108 kasus keracunan makanan. Keracunan ini biasanya berasal dari kentang yang telah terkontaminasi atau karena kentang salad yang tidak dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Bakteri yang paling sering menjadi penyebab keracunan makanan akibat kentang adalah E. coli dan salmonella. Baca juga: Keracunan Makanan Lebih Sering Terjadi di Restoran Daripada di Rumah 6.      KejuBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, keju telah menyebabkan sekitar 83 kasus keracunan makanan. Penyebab tersering adalah adanya bakteri salmonella. Selain itu, dianjurkan agar para ibu hamil tidak mengkonsumsi berbagai jenis keju lunak seperti Brie atau Camembert karena keduanya sering mengandung Listeria, yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran. 7.      Es KrimBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, es krim telah menyebabkan sekitar 75 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus terjadi akibat adanya bakteri salmonella dan staphylococcus yang seringkali berasal dari telur mentah di dalam es krim rumahan. 8.      TomatBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, tomat telah menyebabkan sekitar 31 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus terjadi akibat adanya bakteri salmonella di dalam tomat. Kasus keracunan makanan akibat tomat sebagian besar terjadi di restoran, yaitu sekitar 70%. 9.      KecambahBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, kecambah telah menyebabkan sekitar 31 kasus keracunan makanan. Hal ini dikarenakan biji kecambah telah terkontaminasi oleh salmonella atau E.coli saat disimpan. Oleh karena itu, BPOM Amerika menganjurkan agar orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, orang lanjut usia, dan anak-anak tidak mengkonsumsi kecambah mentah. 10.  Buah BeriBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, buah beri telah menyebabkan sekitar 25 kasus keracunan makanan. Buah beri seringkali terkontaminasi oleh virus hepatitis A atau cyclospora. Kontaminasi kemungkinan terjadi saat panen atau proses pengemasan.Berdasarkan berbagai penelitian, mengkonsumsi suplemen probiotik setiap harinya dapat membantu mengurangi keparahan dan membantu mengatasi gejala keracunan makanan.  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: newsmax
 16 Sep 2014    16:00 WIB
Tindakan Pertama Saat Anak Keracunan
Waspadai terjadinya keracunan pada anak kecil. Salah satu penyebab keracunan adalah karena kebiasaan anak yang sering memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Berikut adalah penjelasan mengenai gejala dan apa yang harus Anda ketahui saat anak Anda keracunan. Berikut adalah gejala keracunan yang harus Anda waspadai: • Kesulitan bernapas • Nyeri tenggorokan yang parah • Luka bakar pada bibir atau mulut • Kejang • Tidak sadar • Kantuk yang ekstrim Apabila Anda melihat kejadian diatas maka sebaiknya yang harus Anda lakukan sebagai tindakan pertama: • Tanyakan kepada anak, atau minta dia untuk menunjuk apa yang telah dimakan atau diminum • Apabila ada botol atau wadah yang berlabel disekitar anak, segera baca labelnya dan ikuti cara penangangan pertama kejadian keracunan • Bawa botol yang Anda temukan di sekitar anak, kemungkinan anak Anda keracunan bahan tersebut • Bebaskan jalan nafas. Longgarkan pakaian lalu bersihkan lubang hidung dan rongga mulut dari berbagai kotoran atau sisa bahan racun dengan kain bersih • Jangan mencoba untuk membuat anak Anda muntah. Apabila anak Anda Jika anak Anda telah menelan zat asam yang kuat, seperti pembersih toilet, atau basa kuat, seperti pembersih oven. Apabila anak Anda muntah, hal ini bisa melukai tenggorokan dan mulutnya. • Hubungi pusat penanganan racun segera. Sentra Informasi Keracunan (SIKer) Nasional. No telp: 500533 • Apabila keadaan anak Anda tidak membaik, maka sebaiknya Anda segera membawa kerumah sakit terdekat Sumber: babycenter