Your browser does not support JavaScript!
 16 Oct 2019    11:00 WIB
Penanganan Mengatai Gejala Menopause
Menopause merupakan terhentinya menstruasi. Menopause dapat menyebabkan timbulnya beberapa gejala di bawah ini yang seringkali mengganggu aktivitas anda. Berikut terdapat beberapa tips untuk mengatasi gejala-gejala tersebut. Dada Terasa Panas atau TerbakarAnda harus mencatat berbagai hal yang dapat menyebabkan gejala ini. Kopi, alkohol, cuaca panas, dan stress seringkali menjadi penyebabnya. Bila anda sedang mengalami gejala ini, tarik napas melalui hidung anda dan buanglah melalui mulut. Bila gejala sangat berat atau memburuk, segera hubungi dokter anda. Badan Terasa PanasGejala ini sering terjadi pada malam hari dan menyebabkan anda berkeringat serta sulit tidur. Untuk mengatasinya, anda dapat meletakkan sekantong es di bawah bantal kepala anda beberapa jam sebelum tidur, kemudian baliklah bantalnya saat anda tidur. Rasa dingin di bantal kepala anda dapat mengurangi rasa panas yang anda rasakan dan membuat anda dapat tidur lebih nyenyak. Sulit TidurUntuk mengatasi gejala yang satu ini anda dapat melakukan olahraga ringan selambat-lambatnya 3 jam sebelum tidur. Jangan mengemil sebelum tidur dan jangan minum minuman beralkohol. Anda dapat meminum segelas susu hangat untuk membuat tidur anda lebih nyenyak. Bila anda masih sulit tidur, anda dapat membaca buku sampai anda mengantuk. Bila hal ini juga tidak membantu, anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anda. Vagina Mengering Salah satu masalah lainnya yang cukup mengganggu adalah vagina anda mengering di saat anda menopause. Hal ini dapat membuat anda merasa nyeri saat berhubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini, anda dapat menggunakan pelumas vagina yang saat ini sudah banyak dijual bebas di pasaran. Gairah Seksual MenurunPerubahan hormonal saat menopause juga seringkali menurunkan gairah seksual anda. Untuk mengatasinya, anda dapat menggunakan metode yang berbeda daripada biasanya untuk meningkatkan gairah seksual anda, misalnya dengan meminta pasangan anda memijat anda atau metode berbeda lainnya. Perubahan MoodSeperti halnya perubahan mood yang terjadi pada masa premenstruasi, pada saat anda memasuki fase awal menopause, anda juga akan mengalami perubahan mood. Perubahan mood yang terjadi biasanya lebih berat daripada saat premenstruasi. Penggunaan obat-obatan seperti pil KB, anti depresi, atau olahraga seperti tai chi, yoga, atau meditasi dapat membantu anda mengatasi masalah ini. Nyeri KepalaNyeri kepala seperti migrain sering timbul pada fase awal menopause. Bila anda sering mengalami nyeri kepala sebelum menopause, maka nyeri kepala ini dapat memburuk. Anda juga harus memperhatikan hal-hal apa saja yang dapat memicu terjadinya nyeri kepala, bila rasa lapar atau kurang tidur membuat anda mengalami gejala ini, anda dapat mulai makan porsi kecil lebih sering atau tidur siang. Rambut Rontok dan Pertumbuhan Rambut Pada WajahPada saat menopause, rambut anda menjadi lebih mudah rontok. Hindari sinar matahari karena matahari membuat rambut kering dan mudah rontok. Selain itu, sering terjadi pertumbuhan rambut baru di tempat yang tidak diinginkan, seperti pada wajah, biasanya di pipi. JerawatPada saat anda akan mengalami menopause, perubahan hormonal yang terjadi menyebabkan jerawat dapat timbul walaupun anda sudah melalui masa pubertas anda. Gangguan Daya IngatGangguan daya ingat juga sering terjadi pada saat awal menopause. Untuk mengatasinya, anda dapat kembali mempelajari hal baru dan mengurangi stress juga dapat membantu.  
 10 Jul 2019    16:00 WIB
Apa Sebenarnya Dampak Menopause Pada Tubuh ?
Pada sejumlah wanita, terjadinya menopause hanya ditandai oleh sesekali mengalami hot flush dan mudah lelah. Akan tetapi, pada sejumlah wanita lainnya, gejala menopause yang timbul bisa sangat banyak, baik gejala fisik maupun psikologis, yang membuat mereka sangat menderita. Namun, karena banyak gejala menopause seperti bau mulut, kulit gatal, dan bahkan irritable bowel syndrome tidak memiliki hubungan langsung dengan hormon; maka banyak wanita tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang mengalami gejala menopause. Kabar baiknya adalah perubahan gaya hidup sederhana sekalipun dapat membantu mengurangi sebagian besar gejala menopause, kecuali gejala yang paling berat. Di bawah ini Anda apa sebenarnya dampak menopause pada tubuh Anda dan gejala apa saja yang ditimbulkannya.   Otak Depresi, Gangguan Cemas, Perubahan Mood Estrogen berfungsi untuk membantu meningkatkan kadar serotonin dan dopamin, yang berfungsi untuk mengatur mood. Kadar estrogen yang rendah dapat menyebabkan mood seseorang menjadi buruk dan mempengaruhi kemampuannya untuk menghadapi situasi penuh tekanan, lebih mudah gelisah, mulut kering, napas cepat, denyut jantung cepat, dan sesak napas. Pusing Pusing mungkin disebabkan oleh serangan cemas atau panik (napas cepat dan denyut jantung cepat dapat mengurangi aliran darah dan oksigen ke dalam otak). Gangguan Tidur Gangguan tidur mungkin terjadi akibat berkeringat pada malam hari, tetapi juga dapat disebabkan oleh penurunan kadar hormon estrogen. Estrogen juga berfungsi untuk mengatur kadar magnesium di dalam tubuh. Magnesium berfungsi untuk membantu melemaskan otot yang akan membuat seseorang tertidur. Rendahnya kadar hormon estrogen akan membuat otot-otot leher menjadi kendur dan membuat wanita menjadi mendengkur. Brain Fog Sering lupa, sulit berkonsentrasi, dan tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat dapat berhubungan dengan penurunan kadar hormon estrogen. Hal ini dikarenakan tidak hanya estrogen tidak hanya dapat membantu otak menjalankan fungsinya, tetapi juga turut mengatur aliran darah yang masuk ke dalam otak. Gejala ini biasanya hanya berlangsung sementara dan kemampuan berpikir biasanya akan kembali normal setelah menopause. Fatigue/Mudah Lelah Hormon membantu mengatur bagaimana sel-sel tubuh Anda menggunakan energi, jadi saat kadarnya turun, maka kadar energi Anda pun akan ikut turun. Banyak wanita yang baru memasuki masa menopause mengeluhkan badan terus terasa lemas, mudah lelah, dan apatis; walaupun sudah cukup tidur setiap harinya. Akan tetapi, karena gejala yang satu ini juga dapat merupakan gejala dari gangguan tiroid atau kekurangan zat besi, maka ada baiknya bila Anda segera memeriksakan diri ke seorang dokter. Rambut Penurunan kadar hormon estrogen akan menyebabkan penurunan kolagen, protein alami di dalam rambut; sehingga rambut pun akan menjadi rapuh dan mudah rontok. Kecepatan rambut rontok pun akan meningkat, baik pada rambut di kepala maupun pada bagian tubuh lain. Hal ini dikarenakan folikel rambut membutuhkan estrogen untuk proses pertumbuhan rambut. Mulut Hormon estrogen juga penting untuk melumasi membran mukosa seperti mulut. Kadar estrogen yang rendah akan membuat mulut menjadi kering, sehingga bakteri pun lebih mudah berkembang biak dan menyebabkan kerusakan gigi serta gusi berdarah. Hal ini juga dapat merusak tonjolan lidah yang berfungsi sebagai indra perasa, menyebabkan bau mulut, rasa seperti terbakar pada lidah, atau rasa tidak enak pada lidah. Jantung Kekurangan estrogen juga akan menyebabkan stimulasi berlebihan pada saraf dan sistem sirkulasi, yang akan membuat jantung berdenyut lebih cepat dan tidak teratur. Segera periksakan diri Anda ke seorang dokter untuk menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan jantung. Paru-paru Karena hormon dan sistem kekebalan tubuh memiliki hubungan yang erat, maka penurunan kadar hormon estrogen dapat membuat gejala alergi semakin memburuk atau Anda mungkin akan mulai mengalami alergi untuk pertama kalinya, terutama asma dan dermatitis. Payudara Kadar hormon yang tidak seimbang dapat menyebabkan hormon progesteron menjadi dominan untuk sesaat. Hal ini dapat memicu terjadinya retensi cairan, yang akan membuat payudara menjadi kencang. Suhu Tubuh Seiring dengan menurunnya kadar hormon estrogen, maka kelenjar hipotalamus (pengatur suhu di dalam tubuh) dapat "ditipu" dan menyangka bahwa tubuh Anda sedang kepanasan, sehingga ia pun akan memicu pembentukan keringat dan hot flushes untuk menurunkan suhu tubuh. Pada hot flushes, Anda mungkin akan merasa panas atau kulit tampak merah secara mendadak. Hot flushes biasanya dimulai pada wajah, leher, atau dada dan kemudian menyebar. Keringat pun akan mulai keluar. Denyut jantung Anda mungkin akan meningkat atau Anda mungkin akan merasa berdebar-debar.   Baca juga: Menopause Pada Pria   Perut/Pencernaan Peningkatan Berat Badan Anda mungkin akan mengalami kesulitan untuk menjaga berat badan tetap ideal karena tubuh Anda akan "berjuang" untuk menyimpan lebih lemak terutama di daerah perut karena lemak berfungsi untuk memproduksi estrogen. Selain itu, karena kadar hormon testosteron juga menurun, maka laju metabolisme tubuh Anda juga akan ikut menurun. Jadi, seorang wanita harus mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsinya bila mereka tidak ingin menjaga berat badannya tetap ideal saat memasuki masa menopause. Perut Kembung Estrogen sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air dan empedu di dalam tubuh Anda. Jadi, saat kadarnya menurun, tubuh Anda pun akan cenderung menyimpan lebih banyak air, yang akan membuat Anda merasa kembung. Selain itu, karena tubuh Anda akan memproduksi lebih sedikit empedu, maka Anda pun tidak dapat mencerna lemak dengan baik, yang akan menyebabkan Anda lebih sering buang gas. Berbagai perubahan yang terjadi di dalam usus akan membuat makanan lebih lama tinggal di dalam usus, yang mengakibatkan lebih banyak gas yang terbentuk. Perut kembung saat memasuki masa menopause lebih sering dialami oleh wanita yang juga mengalami hal ini saat mereka masih menstruasi dulu (menunjukkan bahwa usus Anda sensitif terhadap perubahan kadar hormonal). Irritable Bowel Syndrome Otot-otot usus memiliki reseptor estrogen, jadi penurunan kadar hormon estrogen dapat menurunkan tonus otot, melambatkan pergerakan usus, dan memicu terjadinya diare, mual, atau sembelit. Kram Perut Kadar hormon yang sangat fluktuatif dapat menyebabkan terjadinya nyeri perut bawah seperti saat menstruasi.   Kulit/Kuku Tubuh membutuhkan estrogen untuk memproduksi kolagen (protein yang berfungsi untuk menjaga kulit tetap kenyal) dan untuk lubrikasi. Jadi, penurunan kadar hormon estrogen akan membuat kulit menjadi kering, bersisik, dan gatal. Kulit kering dapat membuat Anda merasa seperti ada sesuatu yang berjalan di atas kulit Anda. Kulit juga akan menjadi lebih tipis. Kehilangan kolagen biasanya paling cepat pada awal masa menopause. Kurangnya lubrikasi alami juga akan membuat kuku lebih mudah pecah-pecah.   Otot/Sendi Nyeri dan Kelemahan Otot Estrogen memiliki efek menenangkan bagi tubuh. Jadi penurunan kadar estrogen, akan membuat efek hormon kortisol, hormon stress, menjadi dominan, yang akan membuat otot menjadi kencang dan lelah. Karena semua otot memiliki reseptor estrogen, maka penurunan kadar hormon estrogen akan memicu terjadinya nyeri otot dan mempengaruhi tonus otot. Nyeri Sendi Estrogen juga akan mempengaruhi persendian Anda. Kadar hormon estrogen yang rendah saat menopause dapat menyebabkan rasa nyeri sendi semakin menjadi atau memicu terjadinya nyeri sendi untuk pertama kalinya, yang dikenal dengan nama artritis menopause.   Rahim/Kandung Kemih Perdarahan Hebat Gangguan keseimbangan kadar hormonal dapat menyebabkan perubahan volume darah (darah menstruasi yang keluar dapat menjadi lebih banyak atau lebih sedikit daripada biasanya dan mungkin akan ditemukan bekuan darah) dan frekuensi menstruasi (siklus menstruasi menjadi lebih panjang, lebih pendek, atau tidak teratur). Pada keadaan normal, estrogen akan membuat dinding rahim menebal dan karena tidak ada sel telur yang dikeluarkan (sel telur akan melepaskan hormon progesterone yang berfungsi untuk mengurangi efek penebalan ini), maka dinding rahim yang menebal ini akan menyebabkan volume darah menstruasi menjadi lebih banyak daripada biasanya. Inkontinensia Berkurangnya kolagen karena penurunan kadar hormon estrogen akan menyebabkan jaringan di sekitar kandung kemih menjadi lebih tipis dan tidak terlalu elastis. Jaringan di sekitar otot-otot panggul juga akan melemah, yang akan menyebabkan air kemih "bocor" saat Anda batuk, tertawa, bersin, atau membuat Anda menjadi lebih sering buang air kecil, atau sering mengalami infeksi saluran kemih.   Seks Penurunan Gairah Seksual Penurunan kadar hormon estrogen akan membuat sensitivitas di daerah vagina berkurang dan juga akan mempengaruhi kemampuan seorang wanita untuk mencapai orgasme. Kadar hormon progesteron yang menurun juga akan menyebabkan gairah seksual menurun, karena progesteron berfungsi untuk menstimulasi produksi hormon testosteron, yang merupakan hal penting bagi gairah seksual. Vagina Kering Membran mukosa pada dinding vagina akan menjadi kering; yang akan membuat vagina terasa gatal, panas, atau terasa seperti terbakar, dan mungkin terasa nyeri saat berhubungan intim.   Pemeriksaan Apa yang Dapat Dilakukan Untuk Mendeteksi Menopause? Walaupun tidak ada pemeriksaan yang dapat menentukan apakah Anda memang sudah memasuki masa menopause atau belum, akan tetapi ada beberapa pemeriksaan darah yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah Anda sudah menuju masa menopause atau belum. Pemeriksaan darah yang dimaksud adalah pemeriksaan kadar FSH (follicle stimulating hormone). Hormon ini diproduksi oleh tubuh untuk menstimulasi indung telur untuk memproduksi sel telur. Karena indung telur tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya saat seorang wanita mulai memasuki masa menopause, maka tubuh Anda meningkatkan produksi FSH di dalamnya untuk membuat indung telur kembali "bekerja" dengan baik. Karena kadar FSH sangat fluktuatif dari bulan ke satu ke bulan berikutnya, maka pemeriksaan kadar FSH biasanya dilakukan 2 kali dengan jarak 6 minggu. Bila dari 2 pemeriksaan yang dilakukan kadar FSH lebih dari 25 (kadar normal FSH adalah 4.7-21.5), maka hal ini menunjukkan bahwa Anda telah mulai memasuki masa menopause. Beberapa orang dokter mungkin juga akan menganjurkan Anda untuk memeriksa kadar hormon estrogen. Kadar hormon estrogen normal adalah antaa 30-400. Kadar hormon estrogen yang kurang dari 30 menunjukkan bahwa Anda telah mulai memasuki masa menopause. Pemeriksaan lainnya yang dapat membantu mendeteksi menopause adalah mengukur kadar Anti-Mullerian Hormone (AMH), yang dapat memberikan perkiraan berapa jumlah sel telur yang masih tersisa. Selain itu, dokter Anda mungkin juga akan menganjurkan Anda untuk melakukan pemeriksaan fungsi tiroid karena gangguan pada kelenjar tiroid juga dapat menyebabkan terjadinya berbagai gejala yang mirip dengan gejala menopause seperti berdebar-debar, perubahan mood, dan badan lesu. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: dailymail
 03 Jan 2019    08:00 WIB
Mengenal Menopause (Penyebab, Gejala, Perawatan)
Halo para ladies, kalian pasti tahu dong setiap wanita akan mengalami Menopause. Namun apa kalian tahu gejala-gejala apa yang akan dialami, Menopause adalah proses di mana seorang wanita berhenti menstruasi dan masa suburnyapun berhenti. Ini adalah bagian normal dari kehidupan dan tidak dianggap sebagai penyakit. Menopause terjadi ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi dalam 12 bulan berturut-turut dan tidak bisa hamil lagi. Di Amerika Serikat (AS), usia rata-rata untuk menopause adalah 51 tahun. Meskipun merupakan proses alami di dalam tubuh wanita manapun, menopause dapat menyebabkan perubahan drastis yang memicu beberapa gejala. Kita juga perlu tahu, mengapa menopause terjadi? Menopause terjadi karena: 1. Terjadinya penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron memicu efek menopause. Estrogen mengatur menstruasi, dan progesteron terlibat dengan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. 2. Perimenopause dimulai ketika ovarium mulai memproduksi lebih sedikit dari dua hormon ini. Pada saat seorang wanita mencapai akhir tiga puluhan, indung telur mulai memproduksi lebih sedikit progesteron dan estrogen. Kesuburan mulai menurun jauh sebelum timbulnya gejala menopause atau perimenopause. 3. Ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron lebih sedikit dari waktu ke waktu sampai mereka benar-benar mati. Menstruasi kemudian akan berhenti sepenuhnya. Perubahan ini terjadi secara bertahap pada sebagian besar wanita, tetapi beberapa menemukan bahwa siklus menstruasi mereka berlanjut seperti biasa dan kemudian tiba-tiba berhenti. 4. Ovarium cenderung berhenti memproduksi telur setelah usia 45 tahun, tetapi mereka mungkin berhenti berproduksi sebelum itu. Ini dikenal sebagai menopause dini. Meski jarang, ini bisa terjadi pada usia berapa pun. Sejumlah kondisi yang mendasari dapat menyebabkan menopause dini, termasuk: Kekurangan enzim. Sindrom Down. Sindrom Turner. Penyakit Addison. Hipotiroidisme. Pembedahan dan prosedur tertentu juga dapat menyebabkan kegagalan ovarium prematur, seperti: Operasi untuk mengangkat indung telur. Operasi untuk mengangkat rahim. Radioterapi ke area panggul. Kemoterapi ke area panggul.   Lalu apa saja gejala menopause, pada dasarnya pengalaman menopause setiap wanita itu unik. Gejala biasanya lebih parah ketika menopause terjadi secara tiba-tiba atau dalam periode waktu yang lebih singkat. Kondisi yang mempengaruhi kesehatan ovarium, seperti kanker atau histerektomi, atau pilihan gaya hidup tertentu, seperti merokok, cenderung meningkatkan keparahan dan durasi gejalanya. Selain perubahan menstruasi, gejala perimenopause, menopause, dan postmenopause pada umumnya sama. Tanda-tanda awal paling umum dari perimenopause adalah: Kurang sering menstruasi. Periode lebih berat atau lebih ringan dari yang biasanya kita alami. Gejala vasomotor, termasuk hot flashes, keringat malam, dan kemerahan.   Gejala menopause umum lainnya termasuk: insomnia kekeringan vagina penambahan berat badan depresi kegelisahan kesulitan berkonsentrasi masalah memori mengurangi libido, atau dorongan seksual kulit kering, mulut, dan mata meningkatkan buang air kecil payudara nyeri atau perih sakit kepala jantung berdegup-degup infeksi saluran kemih (ISK) mengurangi massa otot nyeri atau sendi kaku mengurangi massa tulang payudara mengecil rambut menipis atau rontok Selama menopause, kita dapat menjalani sejumlah perawatan untuk menjaga kenyamanan. Pada dasarnya ketika kita mengalami Menopause, kita tidak perlu menjalani perawatan medis. Namun, seorang kita harus mengunjungi dokter jika gejalanya mempengaruhi kualitas hidup kita (menggangu). Kita harus memilih jenis terapi yang tergantung pada gejala menopause kita, termasuk riwayat medis yang kita miliki. Perawatan yang dapat kita lakukan, seperti: Hormone replacement therapy (HRT), HRT efektif mengobati banyak gejala menopause yang menyusahkan. Dapat membantu mencegah osteoporosis. HRT dapat menurunkan risiko kanker kolorektal. Antidepresan dosis rendah. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) telah terbukti mengurangi hot flashes menopause. Obat-obatan ini termasuk: venlafaxine (Effexor), fluoxetine (Prozac, Sarafem), paroxetine (Paxil, lainnya), citalopram (Celexa), Perawatan obat untuk hot flashes. Hot flashes dapat diobati menggunakan gabapentin, tersedia dengan nama merek Neurontin, dan clonidine, yang sering dijual sebagai Catapres. Clonidine dapat diambil baik secara lisan sebagai pil atau ditempatkan pada kulit sebagai patch. Ini efektif dalam mengobati hot flashes, tetapi efek samping yang tidak menyenangkan adalah umum, termasuk sembelit, mata kering, dan mimpi buruk. Perawatan osteoporosis untuk osteoporosis termasuk suplemen makanan dan terapi obat. Perawatan obat untuk gejala vagina. Estrogen vagina dapat diaplikasikan ke area tersebut sebagai tablet, cincin, atau krim. Obat ini secara efektif mengobati kekeringan vagina, dispareunia, dan beberapa masalah kencing. So, para kaum hawa, moga pembahasan hari ini sangat bermanfaat bagi kita semua, jadi bagi yang mengalami, jangan kaget atau stress yah ketika mengalami banyak perubahan pada diri kita, karena menopause bukan akhir dari segalanya. Sumber : www.webmd.com, medicalnewstoday.com, www.healthline.com.
 07 Sep 2018    18:00 WIB
12 Hal Pembunuh Gairah Seksual
1. Stress Stress dapat membuat anda melakukan berbagai hal, akan tetapi seks bukanlah salah satunya. Setiap orang pasti pernah merasa stress akibat pekerjaan ataupun hubungannya dengan pasangan. Belajarlah mengatasi rasa stress anda, hal ini dapat sangat membantu. Jika anda merasa tidak mampu untuk mengatasinya sendiri, segera hubungi dokter anda.   2. Permasalahan Dengan Pasangan Permasalahan antara anda dan pasangan anda merupakan salah satu hal pembunuh gairah seksual. Bagi seorang wanita, kedekatan dengan pasangannya merupakan hal terpenting dalam berhubungan seksual.   3. Alkohol Mengkonsumsi segelas bir mungkin dapat meningkatkan gairah seksual anda, akan tetapi terlalu banyak alkohol justru dapat membunuh gairah seks anda. Melihat anda mabuk juga dapat membuat pasangan anda kehilangan gairah seksnya. Bila anda mengalami kesulitan untuk berhenti mengkonsumsi alkohol, segera hubungi dokter anda.   4. Kurang Tidur Berbagai hal yang menyebabkan anda tidak memperoleh waktu tidur yang cukup dapat membuat gairah anda berkurang. Rasa lelah dapat membuat anda enggan behubungan seksual.   5. Mempunyai Anak Mempunyai anak bukan berarti anda tidak lagi memiliki gairah terhadap pasangan anda, tetapi anda memiliki waktu yang lebih sedikit untuk dapat berduaan dengan pasangan anda. Buatlah waktu untuk dapat tetap bersama dengan pasangan anda, berkencan saat anak anda sedang bersama orang tua anda atau berhubungan seks saat anak anda sedang tidur siang dapat membantu.   6. Obat-obatan Beberapa obat memiliki efek samping berupa menurunkan gairah seksual penggunanya, obat-obatan tersebut adalah: Obat anti depresan Obat anti hipertensi Pil KB Kemoterapi Obat anti HIV Finasteride Konsultasikan dengan dokter anda bila anda mengalami penurunan gairah akibat mengkonsumsi obat-obatan di atas, penggantian jenis obat atau mengubah dosis obat mungkin dapat membantu.   7. Kurangnya Rasa Percaya Diri Menerima dan menyukai bentuk tubuh anda apa adanya saat ini dapat membantu meningkatkan gairah anda. Jika pasangan anda merasa tidak percaya diri, yakinkanlah ia bahwa anda menyukai ia apa adanya dan bahwa ia seksi.   8. Obesitas Obesitas dapat menurunkan gairah seksual anda. Hal ini mungkin disebabkan oleh anda kurang menikmati seks, stamina berkurang, atau merasa kurang percaya diri.   9. Gangguan Ereksi Rasa cemas akibat disfungsi ereksi dapat menghilangkan gairah seksual anda. Segera hubungi dokter anda untuk memperoleh pengobatan bagi disfungsi ereksi yang anda alami.   10. Rendahnya Kadar Testosteron Hormon testosteron merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan gairah seksual anda. Seiring dengan bertambahnya usia pria, maka kadar hormon ini pun akan sedikit menurun.   11. Depresi Depresi dapat membuat anda kehilangan minat dan tidak merasa senang saat melakukan kegiatan apapun, termasuk berhubungan seksual.   12. Menopause Bagi wanita, gairah seksual biasanya mulai menurun saat menopause. Hal ini dapat disebabkan oleh vagina yang kering sehingga nyeri saat berhubungan seksual. Akan tetapi, tidak semua wanita menopause mengalami penurunan gairah seksual.
 09 Jul 2018    13:00 WIB
8 Penyebab Timbulnya Keringat dan Cara Mengatasinya
1.      Panas dan Kelembaban Udara Berkeringat merupakan salah satu cara pendinginan tubuh anda. Saat suhu udara meningkat, maka berjuta-juta kelenjar keringat kecil pada kulit anda teraktivasi dan mengeluarkan keringat melalui pori-pori kulit anda. Saat keringat anda ini menguap, maka suhu tubuh anda pun akan menurun. Keringat yang tersisa pada kulit anda akan membuat kulit anda tetap lembab dan basah, terutama saat kelembaban udara tinggi yang membuat keringat menguap lebih lambat. Apa yang Harus Dilakukan? Anda tidak dapat mencegah terbentuknya keringat. Tubuh anda memerlukannya untuk menjaga suhu tubuh anda. Akan tetapi, bila anda berkeringat secara berlebihan saat keluar ruangan di udara panas, maka gunakanlah deodoran antiperspirant yang dapat mengurangi keringat dan mencegah timbulnya bau badan. Selain itu, gunakanlah pakaian tipis dan menyerap keringat sehingga kulit anda tetap kering.   2.      Olahraga atau Aktivitas Berat Berolahraga meningkatkan sistem pemanas di dalam tubuh anda. Saat anda menggerakkan tangan dan kaki anda, maka suhu tubuh anda pun meningkat. Berkeringat merupakan salah satu cara tubuh anda mengeluarkan panas yang berlebih. Apa yang Harus Dilakukan? Berolahragalah di dalam ruangan yang dingin sehingga anda tidak berkeringat terlalu banyak. Jika anda lebih menyukai berolahraga di luar ruangan, maka lakukanlah di pagi atau sore hari saat cuaca tidak terlalu panas. Ingatlah bahwa berkeringat membuat anda kehilangan cairan tubuh. Oleh karena itu, minumlah banyak air putih sebelum, selama, dan setelah anda berolahraga.   3.      Perubahan Emosional Berbagai emosi anda, marah, gugup, senang, atau stress dapat membuat anda berkeringat. Perubahan emosi memicu kelenjar keringat pada telapak tangan, ketiak, dan telapak kaki anda. Hal inilah yang menyebabkan telapak tangan anda menjadi basah saat anda gugup. Apa yang Harus Dilakukan? Gunakanlah deodoran antiperspirant pada ketiak anda. Untuk mengatasi keringat berlebih pada telapak tangan dan telapak kaki anda, anda dapat melakukan tindakan iontoforesis. Pada iontoforesis, telapak tangan atau telapak kaki anda akan direndam di dalam air beraliran listrik kecil.   4.      Mengkonsumsi Makanan Panas dan Pedas Makanan pedas memicu kelenjar keringat melalui proses yang sama seperti cuaca panas memicu kelenjar keringat. Mengkonsumsi bir bersamaan dengan makanan pedas dapat membuat anda lebih berkeringat karena bir membuat pembuluh darah pada kulit anda melebar. Hal ini juga dapat terjadi bila anda mengkonsumsi kopi, karena kafein di dalamnya juga menstimulasi kelenjar keringat. Apa yang Harus Dilakukan? Hal termudah untuk mencegah timbulnya keringat adalah berhenti mengkonsumsi makanan pedas. Berkeringat saat anda makan juga dapat terjadi akibat efek samping setelah tindakan pembedahan pada kelenjar air liur atau leher. Penyuntikan racun botulinum kadang dapat membantu mengatasi keringat akibat hal ini. Jika mengkonsumsi alkohol membuat anda berkeringat, maka berhentilah mengkonsumsinya.   5.      Sakit Demam merupakan suatu cara tubuh anda untuk melawan infeksi. Saat demam turun dan penyakit menyembuh, maka pengatur suhu di dalam tubuh anda pun kembali normal. Akan tetapi, karena suhu tubuh anda masih beberapa derajat lebih tinggi dari suhu tubuh normal anda, maka tubuh akan merangsang pengeluaran keringat untuk mendinginkan tubuh anda. Terdapat berbagai penyakit yang dapat menyebabkan penderitanya berkeringat, seperti diabetes, angina (nyeri dada), dan kanker. Apa yang Harus Dilakukan? Anda dapat menurunkan suhu tubuh anda dengan mengkonsumsi obat penurun panas saat demam. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami demam yang juga disertai dengan kekakuan pada leher, kesulitan bernapas, bercak kemerahan pada kulit, muntah, atau kejang.   6.      Mengkonsumsi Nikotin Satu lagi alasan mengapa anda harus berhenti merokok adalah rokok membuat anda berkeringat. Saat anda merokok, nikotin yang terhirup oleh anda membuat tubuh anda melepaskan suatu zat kimia yang disebut asetilkolin. Asetilkolin inilah yang menstimulasi kelenjar keringat anda. Apa yang Harus Dilakukan? Berhenti merokok merupakan cara terbaik untuk menghentikan keringat berlebihan anda. Selain itu, berhenti merokok juga dapat menurunkan resiko terjadinya kanker, penyakit jantung, dan stroke. Berkonsultasilah dengan dokter anda mengenai beberapa hal yang dapat membantu anda berhenti merokok.   7.      Kehamilan dan Menopause Selama kehamilan, perubahan kadar hormonal menyebabkan peningkatan aliran darah, yang menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat. Pada saat menopause, penurunan kadar estrogen dapat mempengaruhi pengatur suhu tubuh di dalam tubuh anda. Akan tetapi, berkeringat dapat membantu anda mengatasi rasa panas pada tubuh anda selama menopause. Apa yang Harus Dilakukan? Gunakanlah pakaian tipis dan menyerap keringat. Dinginkan badan anda dengan mandi. Konsumsilah banyak air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.   8.      Obat-obatan Beberapa jenis obat-obatan dapat membantu menurunkan suhu tubuh anda saat anda demam. Selain itu, obat anti depresan, obat anti hipertensi, dan obat anti diabetes pun dapat membuat anda berkeringat lebih banyak. Apa yang Harus Dilakukan? Berkonsultasilah dengan dokter anda mengenai kemungkinan perubahan dosis obat atau penggantian obat. Jangan mengubah dosis atau menghentikan penggunaan obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda.     Sumber: webmd  
 14 May 2018    11:00 WIB
5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Seputar Menstruasi
Mengapa Sindrom Premenstrual Terjadi? Sindrom premenstrual biasanya terjadi dalam waktu 2 minggu sebelum menstruasi dimulai dan terjadi akibat perubahan kadar hormon progesteron dan estrogen. Terjadinya sindrom premenstruasi juga berhubungan dengan faktor genetika dan riwayat keluarga.  Gejala sindrom premenstrual adalah mood yang berubah-ubah, mudah marah, payudara terasa keras, dan tertahannya air di dalam tubuh. Berbagai gejala ini dapat dikurangi dengan mengkonsumsi diet sehat dan berolahraga secara teratur. Stress dan kurang tidur dapat membuat gejala menjadi lebih buruk. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai berbagai hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi gejala sindrom premenstrual yang Anda alami.   Apakah Siklus Menstruasi Saya Normal? Siklus menstruasi yang normal tidaklah selalu harus terjadi setiap 28 hari. Siklus menstruasi dapat berlangsung antara 21-36 hari. Akan tetapi, sebagian besar wanita usia produktif memiliki siklus menstruasi sekitar 26-32 hari.  Ovulasi atau keluarnya sel telur dari indung telur terjadi pada 14 hari sebelum menstruasi dimulai. Oleh karena itu, wanita yang memiliki siklus menstruasi selama 34 hari, maka ovulasi akan terjadi pada hari ke 20 dari siklus menstruasi. Siklus menstruasi yang teratur menunjukkan bahwa proses ovulasi Anda telah berlangsung, akan tetapi bila Anda memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau jarang mendapat menstruasi, maka hal ini menAndakan bahwa ovulasi tidak terjadi. Sebagian besar wanita memiliki lama menstruasi sekitar 2-8 hari, di mana jumlah darah yang keluar dapat bervariasi dari sedikit, sedang, dan banyak.  Terdapat banyak hal yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi Anda seperti kurang tidur, waktu kerja, stress, penambahan atau penurunan berat badan, olahraga berlebihan, dan gangguan keseimbangan hormonal. Jika Anda tidak berovulasi secara teratur, misalnya karena Anda menderita penyakit ovarium polikistik, maka menstruasi Anda pun menjadi tidak teratur. Jika menstruasi Anda terlambat dan Anda pernah berhubungan seks, maka mungkin telah terjadi kehamilan.   Apakah Saya Dapat Hamil Saat Menstruasi atau Sebaliknya? Walaupun sangat jarang sekali terjadi kehamilan saat Anda menstruasi, akan tetapi hal ini bukan tidak mungkin. Tidak ada waktu tertentu yang cukup aman untuk berhubungan seks tanpa kondom dan pasti tidak hamil. Seorang wanita dapat hamil kapanpun di sepanjang siklus menstruasinya, walaupun kehamilan lebih sering terjadi bila Anda berhubungan seksual pada masa subur Anda. Sperma dapat bertahan di dalam tubuh seorang wanita (organ reproduksi wanita) selama 1 minggu, sedangkan sel telur wanita akan tetap subur dalam waktu 24 jam setelah ovulasi. Oleh karena itu, bila Anda berhubungan seks pada hari-hari terakhir menstruasi Anda, kemudian terjadi ovulasi dan sperma masih ada di dalam organ reproduksi Anda, maka Anda pun dapat hamil. Bila Anda mengalami perdarahan dari vagina saat hamil, maka hal ini mungkin merupakan tAnda telah terjadinya keguguran atau justru menstruasi. Kedua hal ini sulit dibedakan.  Kadangkala, saat janin menempel pada dinding rahim, Anda dapat mengalami perdarahan, yang oleh banyak wanita seringkali disalahartikan sebagai menstruasi dan membuat mereka salah menghitung umur bayi di dalam kandungannya. Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi kedokteran dan bantuan USG abdomen (perut), maka dokter tetap dapat mengetahui berapa usia kehamilan Anda dengan tepat. Seorang ahli menyatakan bahwa sekitar 20% wanita hamil dapat mengalami perdarahan di atas pada 3 bulan pertama kehamilannya. Sebagian besar wanita tidak mendapat menstruasi saat mereka hamil.  Bila lama menstruasi Anda menjadi lebih singkat atau lebih sedikit daripada biasanya, maka ada kemungkinan bahwa telah terjadi kehamilan. Oleh karena itu, dianjurkan agar Anda melakukan pemeriksaan kehamilan.   Apakah Saya Dapat Mengalami Sindrom Syok Toksik Bila Tidak Mengganti Pembalut Dalam Waktu yang Cukup Lama? Sindrom syok toksik merupakan suatu keadaan yang dapat membahayakan jiwa seseorang, yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Pada tahun 1980 hal ini seringkali terjadi pada wanita muda yang menggunakan pembalut dengan merek tertentu.  Keadaan ini disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus atau staphylococcus yang masuk ke dalam aliran darah dan melepaskan suatu zat toksik. Racun yang dilepaskan oleh bakteri ini dapat menyebabkan terjadinya demam tinggi, penurunan tekanan darah, dan bahkan koma.  Beberapa orang ahli mengatakan bahwa pembalut yang dapat menyerap cairan dengan sangat cepat dan tidak diganti dalam waktu lama dapat menjadi tempat bakteri bertumbuh dan menyebabkan terjadinya sindrom syok toksik ini. Pabrik pembuat pembalut menyarankan agar Anda mengganti pembalut Anda setidaknya setiap 4-8 jam.   Pada Usia Berapa Menopause Terjadi dan Apa Gejalanya? Menopause merupakan suatu keadaan di mana menstruasi berhenti dan seorang wanita tidak dapat hamil kembali karena ia tidak lagi memproduksi sel-sel telur. Kadang-kadang, menstruasi dapat berhenti secara mendadak, akan tetapi menstruasi biasanya menjadi jarang terlebih dahulu sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya. Menopause biasanya terjadi pada usia 52 tahun, akan tetapi juga dapat terjadi pada usia antara 45-55 tahun. Menopause yang terjadi lebih cepat dari usia 45 tahun (menopause dini) biasanya  disebabkan oleh kegagalan ovarium prematur. Keadaan ini bersifat diturunkan dalam keluarga. TAnda-tAnda atau gejala menopause biasanya dimulai antara 2.5 tahun sebelum menstruasi berhenti atau sebelum menopause terjadi. Beberapa gejala menopause yang sering ditemukan adalah hot flushes, berkeringat di malam hari, mood berubah-ubah, mudah marah, mudah lelah, gangguan tidur, dan vagina terasa kering.     Sumber: webmd
 03 May 2018    18:00 WIB
Bagaimana Mengatasi Gangguan Tidur Akibat Menopause?
Berdasarkan sebuah penelitian, para wanita cenderung lebih sering mengalami berbagai gangguan tidur, mulai dari kurang tidur hingga rasa mengantuk di siang hari.   Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan hormonal yang dialami oleh para wanita. Gangguan tidur pun akan menyebabkan berbagai perubahan hormonal. Hal ini membentuk suatu siklus mematikan antara gangguan tidur dan perubahan hormonal.   Jadi saat kadar hormon wanita meningkat atau menurun seperti saat menstruasi, selama hamil, setelah melahirkan, dan terutama saat memasuki masa menopause; maka para wanita pun lebih rentan terhadap berbagai gangguan tidur. Saat seorang wanita memasuki masa menopause, maka terjadi perubahan hormonal yang dapat mengganggu tidur anda, bahkan lebih berat daripada saat menstruasi dan hamil.   Penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan perubahan pada kualitas tidur seorang wanita, terutama bila anda sering mengalami hot flashes (tubuh terasa panas) selama masa perimenopause yang dapat berlangsung selama beberapa tahun.   Gangguan tidur akibat hot flashes ini biasanya terjadi pada awal tidur. Akan tetapi, saat anda telah benar-benar memasuki masa menopause (tidak mendapat menstruasi sama sekali), maka gangguan tidur yang anda alami pun akan semakin berkurang.   Bila anda mengalami hal ini, maka berkonsultasi dengan dokter anda merupakan langkah pertama yang harus anda lakukan untuk mengatasi gangguan tidur anda. Hal ini dikarenakan banyak hal lain selain perubahan hormonal yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan tidur, terutama bila anda tidak dapat tidur sama sekali, maka kemungkinan besar gangguan tidur yang anda alami bukan disebabkan oleh perubahan hormonal.   Gangguan tidur akibat perubahan kadar hormonal dapat diatasi dengan pemberian estrogen dosis rendah. Selain itu, yoga dan meditasi juga dapat membuat anda tidur lebih nyenyak. Jika anda mengalami hot flashes, maka buatlah kamar tidur anda lebih dingin, gunakan baju yang lebih tipis, dan gunakan selimut yang lebih tipis saat tidur.   Sumber: webmd
 19 Mar 2018    11:00 WIB
5 Hal yang Mungkin Terjadi Pada Vagina Saat Seorang Wanita Menua
Anda mungkin sudah mengetahui dan mencegah berbagai proses penuaan yang terjadi seperti pembentukan keriput dan berkurangnya daya ingat. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa organ intim Anda juga akan terkena dampak dari proses penuaan ini? Di bawah ini Anda dapat melihat apa saja hal yang mungkin terjadi pada organ kewanitaan Anda seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda.   Rahim Keluar dari Vagina Salah satu masalah penuaan yang dapat terjadi pada vagina adalah prolapsus (keluarnya rahim, kandung kemih, atau rektum ke dalam vagina). Bagi wanita yang mengalami prolapsus ringan, senam Kegel dapat membantu. Selain itu, dapat pula dipasangkan suatu alat penyanggah pada vagina untuk mencegah keluarnya rahim atau kandung kemih atau rektum ke dalam liang vagina. Namun, pada keadaan yang lebih berat, mungkin perlu dilakukantindakan pembedahan untuk memperbaiki prolapsus yang terjadi.   Vagina Terlihat Lebih "Tua" Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka kulit Anda pun akan kehilangan elastisitasnya dan kerutan mulai lebih terlihat. Hal yang sama juga akan terjadi pada vagina Anda. Hormon estrogen berfungsi untuk menjaga kulit tetap kencang dan elastis. Akibatnya, saat kadar hormon ini menurun, maka elastisitas pada kulit, termasuk kulit vagina juga akan berkurang. Keadaan ini disebut dengan atrofi vulvo-vaginal. Dinding vagina akan menipis, menjadi kering, dan meradang. Senam Kegel tidak dapat membantu, tetapi stimulasi seksual bisa. Untuk mengatasi vagina yang kering ini, dapat digunakan pelembab khusus vagina atau estrogen topikal atau oral.   Baca juga: Cara Mencegah Terjadinya Infeksi Vagina   Rahim dan Lubang Vagina Mengecil Akibat dari penurunan kadar estrogen, maka rahim Anda juga dapat mengalami perubahan ukuran. Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka ukuran rahim cenderung semakin mengecil. Hal yang sama juga akan terjadi pada lubang vagina Anda. Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka lubang vagina akan semakin menyempit. Hal ini dikarenakan jaringan di sekitarnya cenderung berkonstriksi, terutama bila lubang vagina jarang digunakan (jarang berhubungan intim). Penyempitan ini dapat menyebabkan vagina menjadi teriritasi, mengering, dan kadangkala meradang. Keadaan ini disebut dengan atrofik vaginitis. Bila dibiarkan tanpa pengobatan, atrofik vaginitis dapat menyebabkan terjadinya perdarahan dan nyeri saat berhubungan intim dan pemeriksaan panggul. Untuk mencegah atau memperlambat penyempitan lubang vagina ini, maka penting untuk menjaga aktivitas seksual Anda, walaupun tidak ada standar tertentu mengenai berapa kali Anda harus berhubungan intim. Pengobatan estrogen juga dapat membantu mengatasi hal ini.   Sulit Menahan Keinginan BAK Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka otot dan ligamen (jaringan ikat) yang menyanggah dasar panggul akan mulai mengendur. Pada beberapa kasus, pengenduran ini juga mengenai kandung kemih, yang membuat seorang wanita sering mengompol atau menjadi lebih sering BAK. Untuk mengatasi inkontinensia stress, misalnya keluarnya air kemih saat batuk atau bersin, tindakan pembedahan mungkin perlu dilakukan. Untuk jenis lainnya, senam Kegel dapat membantu.   Lebih Sering Mengalami Infeksi Saluran Kemih Infeksi saluran kemih  juga akan lebih sering terjadi saat seorang wanita bertambah tua karena rentannya jaringan di daerah organ intim. Untuk membantu mencegah terjadinya infeksi saluran kemih, jus cranberi atau probiotik vaginal serta pemberian estrogen pada vagina dapat membantu. Kadangkala, wanita juga dapat mengalami berbagai gejala infeksi saluran kemih (seperti iritasi, peningkatan frekuensi BAK, dan rasa panas saat BAK) karena penurunan kadar hormon dan elastisitas vagina, tanpa benar-benar mengalami infeksi. Pada kasus ini, pemberian terapi estrogen dapat membantu.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: womenshealthmag
 27 Nov 2017    16:00 WIB
Cara Untuk Mengetahui Apakah Anda Sudah Memasuki Masa Menopause
Perimenopause merupakan suatu masa transisi selama 4-10 tahun sebelum seorang wanita memasuki masa menopause. Perimenopause ini dapat dimulai sejak dini, bahkan saat seorang wanita baru berusia 30 tahun. Selain menstruasi yang tidak teratur, ada beberapa gejala lain dari masa perimenopause ini yang seringkali tidak disadari oleh para wanita dan terlewatkan oleh para dokter. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala perimenopause tersebut.   Gairah Seksual Menurun Mungkin Anda sedang memasuki masa perimenopause bila Anda mengalami penurunan gairah seksual walaupun hubungan Anda dan suami baik-baik saja. Hal ini dikarenakan perubahan kadar hormonal memang akan menurunkan gairah seksual Anda. Mungkin bukan sedang memasuki masa perimenopause bila Anda mengalami hal ini tetapi juga memiliki hubungan yang buruk dengan pasangan atau sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu (obat tekanan darah tinggi atau obat antidepresan).   Mudah Berkeringat Anda mungkin sudah memasuki masa perimenopause bila Anda mengalami hot flushes, yaitu rasa panas hebat yang muncul secara mendadak, yang disertai oleh keringat dan peningkatan denyut jantung Anda mungkin tidak sedang memasuki masa perimenopause bila keluhan tidak begitu jelas atau hanya terjadi mendekati masa menstruasi atau karena Anda sedang mengkonsumsi obat anti depresi.   Baca juga: Apa Sebenarnya Dampak Menopause Pada Tubuh Anda???   Insomnia              Anda mungkin sedang memasuki masa perimenopause bila Anda mengalami gangguan tidur tanpa penyebab yang jelas, yang seringkali juga disertai oleh keringat pada malam hari. Anda mungkin tidak sedang memasuki masa perimenopause bila insomnia terjadi karena Anda sedang stress atau bila insomnia Anda biasanya terjadi seminggu sebelum menstruasi Anda dimulai.   Peningkatan Berat Badan Anda mungkin sedang memasuki masa perimenopause bila peningkatan berat badan terjadi bahkan di saat Anda tidak mengubah pola makan atau aktivitas fisik. Rendahnya kadar hormon estrogen dapat menyebabkan peningkatan kadar lemak tubuh. Anda mungkin bukan sedang mengalami gejala perimenopause bila Anda mengalami peningkatan berat badan akibat perubahan aktivitas fisik atau karena mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat anti alergi dan obat untuk memperbaiki mood.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: womenshealthmag
 01 Sep 2017    08:00 WIB
Kurangi Nyeri Saat Bercinta Dengan Posisi Berikut Ini…
Apakah Anda selalu merasa "tersiksa" oleh nyeri setiap kali berhubungan intim dengan suami? Bila ya, maka mengganti posisi bercinta Anda mungkin dapat membantu meminimalisir rasa nyeri tersebut. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa posisi bercinta untuk berbagai jenis keluhan Anda.   Nyeri Pada Panggul   Untuk mengurangi nyeri pada panggul Anda, jagalah supaya posisi panggul Anda tetap netral. Posisi bercinta yang cocok bagi Anda adalah doggy style.   Nyeri Pada Pinggang   Untuk mengurangi nyeri pada pinggang saat bercinta, pastikan punggung Anda tetap berada dalam keadaan lurus dengan posisi bercinta seperti di atas.   Nyeri Sendi   Posisi bercinta yang cocok bagi Anda yang menderita nyeri pada sendi lutut adalah posisi misionaris karena posisi ini akan mengurangi tekanan pada daerah lutut dan paha. Jika Anda mengalami nyeri pinggang saat bergerak, letakkan handuk bersih yang digulung pada pinggang Anda untuk menyangga pinggang agar tidak nyeri.   Vagina Kering   Bila Anda merasa nyeri karena vagina kering, maka cobalah bercinta dengan posisi duduk. Duduklah di atas pangkuan pasangan Anda dengan wajah saling berhadapan. Dengan mengendalikan gerakan, Anda dapat mengetahui posisi dan gerakan apa yang paling nyaman bagi Anda.   Baca juga: Tips Untuk Membuat Wanita Selalu Mencapai "Big O" Saat Bercinta   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: prevention