Your browser does not support JavaScript!
 14 May 2019    08:00 WIB
Tidak Menular, Kusta Mampu Menyebabkan Kelumpuhan dan Kebutaan
Halo sahabat setia dokter.ID! kita pasti semua tahu dan mungkin pernah melihat penyakit kusta. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini, dampaknya memang menakutkan. Nah untuk jelasnya kita bahas bersama yuk! Kusta telah menyiksa manusia sepanjang sejarah. Akun paling awal dari penyakit yang diyakini banyak sarjana adalah dokumen Papirus Mesir yang ditulis sekitar tahun 1550 SM. Sekitar 600 SM. Tulisan-tulisan India menggambarkan penyakit yang menyerupai kusta. Di Eropa, kusta pertama kali muncul dalam catatan Yunani kuno setelah pasukan datang dari India dan kemudian di Roma pada 62 SM. bertepatan dengan kembalinya pasukan Pompeii dari Asia Kecil. Sepanjang sejarahnya, kusta ditakuti dan disalahpahami. Untuk waktu yang lama, kusta dianggap sebagai penyakit keturunan, kutukan, atau hukuman dari Tuhan. Sebelum dan bahkan setelah ditemukannya penyebab biologisnya, pasien kusta di stigmatisasi dan dijauhi. Misalnya, di Eropa selama Abad Pertengahan, penderita kusta harus mengenakan pakaian khusus, membunyikan lonceng sebagai tanda bagi orang lain agar tidak berada dekat dengan mereka yang sehat dan normal, dan bahkan seorang yang berpenyakit kusta harus berjalan di sisi jalan tertentu, tergantung pada arah angin. Bahkan di zaman modern, pengobatan kusta sering terjadi di rumah sakit dan koloni yang tinggal di dalam yang disebut leprosarium karena stigma penyakit. Kusta telah lazim dalam berbagai waktu tertentu sepanjang sejarah yang telah mengilhami karya seni dan mempengaruhi praktik budaya. Penyakit kusta adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang tumbuh lambat yang disebut Mycobacterium leprae. Ini dapat mempengaruhi saraf, kulit, mata, dan lapisan hidung (mukosa hidung). Dengan diagnosis dan pengobatan dini, penyakit ini dapat disembuhkan. Orang dengan penyakit kusta dapat terus bekerja dan menjalani kehidupan yang aktif selama dan setelah perawatan. Kusta dulunya ditakuti sebagai penyakit yang sangat menular dan menghancurkan, tetapi sekarang kita tahu itu tidak menyebar dengan mudah dan pengobatannya sangat efektif. Namun, jika tidak ditangani, kerusakan saraf dapat menyebabkan tangan dan kaki lumpuh, dan kebutaan. Penyakit ini tidak terlalu menular. Namun, kontak yang dekat dan berulang dengan orang yang tidak diobati untuk jangka waktu yang lebih lama dapat menyebabkan tertularnya kusta. Bakteri yang menyebabkan kusta berkembang biak dengan sangat lambat. Penyakit ini memiliki masa inkubasi rata-rata (waktu antara infeksi dan munculnya gejala pertama) selama lima tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Gejala mungkin tidak muncul selama 20 tahun. Beberapa gejala mungkin termasuk: Muncul lesi pucat dan menebal pada kulit. Mati rasa atau kurangnya perasaan di tangan, lengan, dan kaki. Saraf yang membesar (terutama di sekitar siku dan lutut). Mimisan dan / atau hidung tersumbat. Lesi pada tubuh yang tidak sensitif terhadap sentuhan, panas atau rasa sakit. Lesi kulit yang lebih ringan dari warna kulit normal seseorang. Lesi yang tidak sembuh setelah beberapa minggu hingga bulan. Bisul di telapak kaki. Kulit tebal, kaku atau kering. Sakit parah. Kelemahan atau kelumpuhan otot (terutama di tangan dan kaki). Masalah mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Diagnosis & perawatan. Deteksi dini dan pengobatan kusta adalah kuncinya. Jika tertangkap dan diobati dengan cukup cepat, penyakit ini biasanya tidak melemahkan. Biasanya, profesional medis akan melakukan tes kulit, baik biopsi lesi kulit atau pemeriksaan pengikisan kulit, untuk menguji kusta. Setelah diagnosis dibuat, antibiotik, seperti rifampisin, dapson, fluoroquinolon, clofazimine, makrolida dan minocycline, digunakan untuk membunuh bakteri. Diagnosis dapat mencakup lebih dari satu antibiotik. Prednisone, aspirin atau thalidomide dapat diresepkan untuk mengendalikan peradangan, menurut NLM. Lebih dari 16 juta pasien lepra telah dirawat dengan terapi multi-obat (MDT) selama 20 tahun terakhir, menurut CDC. Bakteri yang mati juga dapat tinggal di dalam tubuh selama beberapa tahun, bahkan setelah perawatan selesai. "Butuh waktu hingga enam tahun bagi basil untuk sepenuhnya dibersihkan dari tubuh, meskipun basil akan mati setelah hanya beberapa dosis terapi multidrug," kata Saunderson, M.D., MRCP, Direktur Medis / Penelitian, Norwegia. "Ini menjelaskan mengapa reaksi dapat terus terjadi lama setelah terapi multidrug telah selesai. Kami pikir alasannya adalah sifat dari dinding sel mikobakteri, yang sangat kompleks dan dibangun dari berbagai lipid, dll, yang berkeliaran untuk dihapus sedikit demi sedikit oleh sistem kekebalan tubuh. " Meskipun risiko terkena kusta sangat rendah ada cara terbaik untuk mencegah kusta adalah dengan menghindari kontak dengan cairan tubuh dan ruam orang yang menderita kusta. Demikianlah pembahasan kita tentang penyakit kusta pada hari ini, dan jika ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan di dokter.ID! salam sehat!   Sumber : web.stanford.edu, www.webmd.com, www.who.int, www.medicalnewstoday.com, www.cdc.gov, www.livescience.com
 23 Sep 2018    08:00 WIB
Ini Dia 3 Jenis Kusta yang Perlu Anda Ketahui!
Banyak orang tentunya telah mengetahui apa saja gejala dan penyebab dari penyakit kusta. Kusta merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh suatu jenis bakteri, Mycobacterium leprae. Penularan terjadi melalui kontak dekat dan lama dengan cairan hidung atau mulut penderita. Walaupun gejala penyakit kusta rata-rata hampir mirip, akan tetapi sebenarnya terdapat 3 jenis penyakit kusta berdasarkan pada gejalanya. Mengetahui jenis penyakit kusta mana yang sebenarnya Anda alami sangatlah penting untuk menentukan pengobatan mana yang tepat bagi Anda. Di bawah ini Anda dapat melihat ketiga jenis penyakit kusta tersebut.   Tuberkuloid Jenis kusta satu ini merupakan salah satu jenis penyakit kusta yang ringan. Penderita biasanya hanya memiliki satu atau beberapa bercak putih dan datar pada kulitnya. Area kulit yang terkena mungkin mengalami mati rasa karena kematian saraf di bagian bawahnya. Kusta jenis tuberkuloid ini tidak terlalu menular bila dibandingkan dengan jenis kusta lainnya.   Lepromatosa Lepromatosa merupakan jenis penyakit kusta yang lebih berat. Penderitanya biasanya memiliki banyak bercak kulit yang agak menonjol dan menyebar ke seluruh tubuh, kulit yang terkena biasanya mengalami mati rasa, dan penderita juga dapat mengalami kelemahan otot. Selain mengenai kulit, kusta juga dapat mengenai hidung, ginjal, dan organ reproduksi pria. Kusta jenis ini lebih mudah menular dibandingkan dengan kusta jenis tuberkuloid.   Borderline Orang yang disebut mengalami kusta tipe borderline adalah seseorang yang memiliki kedua gejala tipe kusta di atas, yaitu gejala tuberkuloid dan lepromatosa.   Apakah Saya Menderita Kusta? Untuk mengetahui secara pasti apakah bercak putih yang terdapat pada kulit Anda merupakan salah satu gejala kusta atau bukan, dianjurkan agar Anda berkonsultasi langsung dengan seorang dokter spesialis kulit. Dokter akan melakukan pemeriksaan contoh kulit atau biasa disebut dengan pemeriksaan biopsi kulit untuk memastikannya. Bakteri Mycobacterium leprae biasanya ditemukan pada kusta tipe lepromatosa dan tidak ditemukan pada kusta tipe tuberkuloid. Baca juga: Jenis-jenis KustaIngin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: webmd
 25 Jan 2017    11:00 WIB
Apa Penyebab dan Gejala Dari Kusta (Lepra)
Kusta atau lepra merupakan suatu penyakit infeksius yang menyebabkan gangguan kulit berat dan bahkan kerusakan saraf pada lengan dan kaki. Kusta telah dikenal sejak zaman dahulu kala sebagai suatu penyakit menular yang sangat berbahaya, yang juga memiliki stigma buruk. Akan tetapi, kusta sebenarnya bukanlah suatu penyakit yang sangat menular. Anda hanya akan tertular penyakit ini bila Anda berkontak dekat dan sering berkontak dengan cairan yang berasal dari hidung dan mulut penderita yang tidak diobati. Anak-anak lebih mudah tertular kusta dibandingkan dengan orang dewasa.   Apa Penyebabnya? Lepra atau kusta disebabkan oleh suatu bakteri yang dikenal dengan nama Mycobacterium leprae (M. leprae).   Apa Saja Gejalanya? Penyakit kusta ini terutama menyerang kulit dan saraf, yaitu saraf perifer. Akan tetapi, kusta juga dapat mengenai mata dan jaringan tipis yang terdapat di bagian dalam hidung. Gejala utama dari lepra adalah adanya bercak kulit yang tampak seperti suatu noda putih atau benjolan yang tidak menyembuh dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan. Bercak kulit ini berwarna putih atau pucat. Kerusakan pada saraf perifer dapat membuat penderita mengalami mati rasa atau kebal di daerah tangan dan kaki serta kelemahan otot. Sebenarnya dibutuhkan waktu sekitar 3-5 tahun dari paparan terhadap bakteri hingga timbulnya gejala pertama pada seseorang. Beberapa orang lainnya malah tidak mengalami gejala apapun hingga 20 tahun kemudian. Karena masa inkubasi (selang waktu antara kontak pertama dengan bakteri hingga munculnya gejala pertama) kusta yang panjang, maka dokter biasanya sulit menentukan di mana dan kapan seseorang terinfeksi oleh bakteri penyebab kusta.   Sumber: webmd
 25 Jan 2017    08:00 WIB
Bagaimana Cara Mengobati Penyakit Kusta?
Kusta atau lepra merupakan suatu penyakit menular yang terjadi akibat infeksi Mycobacterium leprae yang biasanya mengenai kulit, tetapi juga dapat mengenai berbagai organ tubuh lainnya seperti mata, hidung, dan ginjal. Kusta sebenarnya dapat disembuhkan. Pengobatan kusta tergantung pada jenis atau tipe kusta yang Anda derita. Dokter mungkin akan memberikan antibiotika untuk mengatasi infeksi. Pengobatan kusta biasanya memerlukan terapi 1 atau 2 jenis antibiotika dalam jangka panjang, yaitu dari 6 bulan hingga 1 tahun. Akan tetapi, orang yang mengalami gejala berat biasanya harus mengkonsumsi antibiotika dalam waktu yang lebih lama. Perlu diingat bahwa antibiotika tidak dapat mengobati kerusakan saraf yang telah terjadi.Selain antibiotika, dokter mungkin juga akan memberikan obat anti inflamasi (anti radang) untuk mengatasi pembengkakan yang terjadi akibat kusta. Thalidomide merupakan obat lainnya yang juga mungkin diberikan pada seorang penderita kusta. Thalidomide merupakan suatu obat yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh, yang juga berfungsi untuk mengatasi benjolan pada kulit. Akan tetapi, karena thalidomide dapat menyebabkan kelainan bawaan berat yang dapat membahayakan jiwa bayi, maka obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil.Bila tidak diobati, kusta dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, lengan, kaki, dan mata penderita. Beberapa komplikasi dari kusta yang dapat terjadi adalah:    •    Kebutaan atau glaukoma    •    Perubahan bentuk wajah, termasuk pembengkakan permanen atau benjolan    •    Disfungsi ereksi dan kemandulan pada pria    •    Gagal ginjal    •    Kelemahan otot yang dapat membuat tangan menekuk seperti akan mencakar atau ketidakmampuan untuk menekuk kaki    •    Kerusakan permanen pada bagian dalam hidung yang dapat menyebabkan terjadinya mimisan dan hidung tersumbat kronik    •    Kerusakan saraf perifer permanen, termasuk saraf perifer yang terdapat pada lengan dan kakiKerusakan saraf ini dapat menyebabkan penderita mengalami mati rasa, yang membuat penderita tidak dapat merasakan nyeri bahkan bila tangan atau kaki terpotong, terbakar, atau terluka.Baca juga: Jenis-jenis KustaIngin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: webmd