Your browser does not support JavaScript!
 02 Mar 2019    11:00 WIB
Waspada Gejala Awal dari Keracunan Makanan
Mules, sakit perut, mencret, BAB gak karuan, bolak balik toilet…wah penyakit menyiksa ini, pasti kita semua pernah alami bukan? Mungkin kita terkena yang namanya keracunan makanan, juga disebut penyakit bawaan makanan, adalah penyakit yang disebabkan oleh makan makanan yang terkontaminasi. Organisme infeksi - termasuk bakteri, virus, dan parasit - atau toksinnya adalah penyebab paling umum keracunan makanan. Organisme infeksius atau toksinnya dapat mencemari makanan di setiap titik pemrosesan atau produksi. Kontaminasi juga dapat terjadi di rumah jika makanan tidak ditangani dengan benar atau dimasak. Gejala keracunan makanan, yang bisa dimulai dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, sering kali termasuk mual, muntah, atau diare. Paling sering, keracunan makanan ringan dan sembuh tanpa pengobatan. Tetapi dalam beberapa kasus beberapa orang perlu pergi ke rumah sakit. Dan apa saja gejala yang kita alami jika sedang mengalami hal ini. Gejala keracunan makanan bervariasi tergantung sumber kontaminasinya. Sebagian besar jenis keracunan makanan menyebabkan satu atau lebih tanda dan gejala sebagai berikut: Mual. Muntah. Diare berair atau berdarah. Nyeri perut dan kram. Demam. Tanda dan gejala dapat mulai dalam beberapa jam setelah makan makanan yang terkontaminasi, atau mereka mungkin mulai beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu kemudian. Penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan umumnya berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Kontaminasi makanan dapat terjadi di setiap titik produksi: tumbuh, panen, pemrosesan, penyimpanan, pengiriman atau persiapan. Kontaminasi silang - perpindahan organisme berbahaya dari satu permukaan ke permukaan lainnya - sering menjadi penyebabnya. Ini terutama terjadi pada makanan mentah, siap saji, seperti salad atau produk lainnya. Karena makanan ini tidak dimasak, organisme berbahaya tidak dihancurkan sebelum makan dan dapat menyebabkan keracunan makanan. Biasanya keracunan makanan lebih rentan terhadap orang-orang ini, seperti: Orang tua. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh kita mungkin tidak merespon secepat dan seefektif organisme menular seperti ketika kita masih muda. Wanita hamil. Selama kehamilan, perubahan metabolisme dan sirkulasi dapat meningkatkan risiko keracunan makanan. Reaksi kita mungkin lebih parah selama kehamilan. Janin dalam perut kita juga kemungkinan sakit juga. Bayi dan anak kecil. Ini disebabkan karena sistem kekebalan mereka belum sepenuhnya berkembang. Penderita penyakit kronis. Memiliki kondisi kronis - seperti diabetes, penyakit hati atau AIDS - atau menerima kemoterapi atau terapi radiasi untuk kanker mengurangi respons kekebalan tubuh kita. Komplikasi serius paling umum dari keracunan makanan adalah dehidrasi - hilangnya air dan garam serta mineral penting. Jika Anda adalah orang dewasa yang sehat dan minum cukup untuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah dan diare, dehidrasi seharusnya tidak menjadi masalah. Bayi, orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang dengan sistem kekebalan yang tertekan atau penyakit kronis dapat mengalami dehidrasi parah ketika mereka kehilangan lebih banyak cairan daripada yang bisa mereka ganti. Dalam hal itu, mereka mungkin perlu dirawat di rumah sakit dan menerima cairan intravena. Dalam kasus ekstrim, dehidrasi bisa berakibat fatal. Dan ini adalah beberapa jenis keracunan makanan berpotensi komplikasi serius bagi orang-orang tertentu, yaitu: Listeria monocytogenes. Komplikasi keracunan makanan listeria mungkin paling parah untuk bayi yang belum lahir. Pada awal kehamilan, infeksi listeria dapat menyebabkan keguguran. Kemudian dalam kehamilan, infeksi listeria dapat menyebabkan lahir mati, kelahiran prematur atau infeksi fatal pada bayi setelah kelahiran - bahkan jika si ibu hanya sakit ringan. Bayi yang selamat dari infeksi listeria dapat mengalami kerusakan neurologis jangka panjang dan perkembangan yang tertunda. Escherichia coli (E. coli). Strain E. coli tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius yang disebut sindrom uremik hemolitik. Sindrom ini merusak lapisan pembuluh darah kecil di ginjal, kadang-kadang menyebabkan gagal ginjal. Orang dewasa yang lebih tua, anak-anak di bawah 5 dan orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah memiliki risiko lebih tinggi terkena komplikasi ini. Jadi jika kita termasuk dalam salah satu dari kategori risiko di atas, seperti tanda pertama diare yang banyak atau berdarah, dan patut diingat dehidrasi yang serius (parah), dapat menyebabkan kematian, maka itu ketika mengalami gejala-gejala di atas segeralah untuk ke rumah sakit atau dokter terdekat.   Sumber : www.webmd.com, www.healthline.com
 09 Oct 2017    11:00 WIB
Mual dan Muntah? Hati-hati Keracunan Makanan!
Keracunan makanan merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi saat seseorang mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh berbagai jenis kuman seperti bakteri, virus, parasit, dan berbagai jenis racun yang dihasilkannya. Kontaminasi ini dapat terjadi kapan pun, termasuk saat proses menanam, memanen, pengolahan, menyimpan, pengiriman, dan saat memasak suatu bahan makanan. Oleh karena itu, berbagai jenis makanan mentah atau siap makan memiliki resiko keracunan yang lebih tinggi karena mereka tidak dimasak hingga suhu tertentu sehingga berbagai kuman berbahaya di dalamnya pun tidak akan mati. Gejala keracunan makanan biasanya akan terjadi dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah penderita mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala keracunan makanan ini dapat bervariasi tergantung dari kuman penyebabnya. Gejala yang biasa ditemukan adalah: Mual Muntah Diare Nyeri perut atau kram perut Demam Sebagian besar kasus keracunan makanan merupakan kasus ringan yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, akan tetapi pada beberapa kasus, keracunan makanan yang dialami dapat sangat berat, yang membuat penderita memerlukan pengobatan atau bahkan perawatan di rumah sakit.   Baca juga: Jenis Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Bersamaan   Kapan Hubungi Dokter? Segera hubungi dokter Anda atau cari pertolongan medis bila Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini: Muntah berulang dan tidak dapat minum atau makan Muntah darah atau ada darah pada tinja Diare yang berlangsung selama lebih dari 3 hari Nyeri perut hebat atau kram perut berat Demam lebih dari 38 derajat Celcius Mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti rasa haus berlebihan atau terus-menerus, mulut kering, jarang atau bahkan sama sekali tidak buang air kecil, badan terasa sangat lemah, pusing, atau kepala terasa ringan Adanya gangguan neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot, dan kesemutan pada lengan   Apa yang Dapat Anda Lakukan? Saat Anda mengalami diare atau terus-menerus muntah; konsumsilah banyak air putih dan konsumsilah makanan hambar untuk mengurangi stress pada sistem pencernaan Anda. Jika anak Anda yang mengalami kedua hal di atas, berikanlah juga banyak air putih dan makanan hambar. Bila anak Anda masih menyusui, tetap berikan ASI atau susu formula pada anak Anda seperti biasanya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: mayoclinic
 28 Sep 2017    18:00 WIB
10 Makanan yang Paling Sering Menyebabkan Keracunan
Pernahkah Anda bertanya-tanya apakah mengkonsumsi berbagai jenis sayuran seperti salad juga dapat menyebabkan Anda mengalami keracunan makanan? Di Amerika, salad sayuran merupakan salah satu jenis makanan yang cukup sering menyebabkan terjadinya keracunan makanan. Dari 76 juta kasus keracunan makanan di Amerika setiap tahunnya, sayuran berdaun hijau merupakan penyebab dari sekitar 30% kasus di antaranya.Keracunan makanan sendiri sebenarnya merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi saat seseorang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau toksin yang dihasilkan oleh ketiganya.Di bawah ini Anda dapat melihat hasil analisis data yang dilakukan oleh The Washington-based Centers for Science dari tahun 1990 sampai tahun 2006 mengenai berbagai jenis makanan yang paling sering menyebabkan terjadinya keracunan makanan dalam kurun waktu tersebut.  1.      Sayuran Berdaun HijauBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, sayuran berdaun hijau telah menyebabkan sekitar 363 kasus keracunan makanan. Hal ini dikarenakan sayuran berdaun hijau mengandung berbagai jenis kuman seperti bakteri E.coli, norovirus, dan salmonella. Berbagai jenis kuman ini biasanya mengkontaminasi sayuran pada waktu sayuran tersebut dipanen atau saat dicuci sebelum dikemas. 2.      TelurBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, telur telah menyebabkan sekitar 325 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus keracunan makanan akibat telur disebabkan oleh adanya salmonella di dalamnya karena proses memasak yang tidak tepat. Kejadian ini paling sering terjadi di restoran, misalnya saat mereka menyajikan telur yang terlalu mentah atau terlalu lama membiarkannya di dalam tempat terbuka, misalnya di tempat makan buffet. 3.      Ikan TunaBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, ikan tuna telah menyebabkan sekitar 268 kasus keracunan makanan. Penyebab utamanya adalah karena keracunan scombroid, sejenis racun yang dilepaskan saat ikan segar disimpan di dalam tempat bersuhu kurang dari 15.5 derajat Celcius. Gejala yang biasa ditemukan adalah nyeri kepala, kram perut, mual, diare, berdebar-debar, dan gangguan penglihatan. 4.      TiramBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, tiram telah menyebabkan sekitar 132 kasus keracunan makanan. Penyebab utamanya adalah adanya norovirus di dalam tiram dan biasanya berasal dari air tempatnya berasal. Selain norovirus, sejenis bakteri yang bernama Vibrio juga dapat ditemukan di dalam tiram dan dapat masuk ke dalam aliran darah dan mengancam nyawa seseorang. 5.      KentangBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, kentang telah menyebabkan sekitar 108 kasus keracunan makanan. Keracunan ini biasanya berasal dari kentang yang telah terkontaminasi atau karena kentang salad yang tidak dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Bakteri yang paling sering menjadi penyebab keracunan makanan akibat kentang adalah E. coli dan salmonella. Baca juga: Keracunan Makanan Lebih Sering Terjadi di Restoran Daripada di Rumah 6.      KejuBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, keju telah menyebabkan sekitar 83 kasus keracunan makanan. Penyebab tersering adalah adanya bakteri salmonella. Selain itu, dianjurkan agar para ibu hamil tidak mengkonsumsi berbagai jenis keju lunak seperti Brie atau Camembert karena keduanya sering mengandung Listeria, yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran. 7.      Es KrimBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, es krim telah menyebabkan sekitar 75 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus terjadi akibat adanya bakteri salmonella dan staphylococcus yang seringkali berasal dari telur mentah di dalam es krim rumahan. 8.      TomatBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, tomat telah menyebabkan sekitar 31 kasus keracunan makanan. Sebagian besar kasus terjadi akibat adanya bakteri salmonella di dalam tomat. Kasus keracunan makanan akibat tomat sebagian besar terjadi di restoran, yaitu sekitar 70%. 9.      KecambahBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, kecambah telah menyebabkan sekitar 31 kasus keracunan makanan. Hal ini dikarenakan biji kecambah telah terkontaminasi oleh salmonella atau E.coli saat disimpan. Oleh karena itu, BPOM Amerika menganjurkan agar orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, orang lanjut usia, dan anak-anak tidak mengkonsumsi kecambah mentah. 10.  Buah BeriBerdasarkan analisis data dari tahun 1990-2006, buah beri telah menyebabkan sekitar 25 kasus keracunan makanan. Buah beri seringkali terkontaminasi oleh virus hepatitis A atau cyclospora. Kontaminasi kemungkinan terjadi saat panen atau proses pengemasan.Berdasarkan berbagai penelitian, mengkonsumsi suplemen probiotik setiap harinya dapat membantu mengurangi keparahan dan membantu mengatasi gejala keracunan makanan.  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: newsmax