Your browser does not support JavaScript!
 27 Oct 2018    18:00 WIB
Waspada! Tindak Kekerasan Berpengaruh Pada Perkembangan Otak Anak
Setiap orang yang mempelajari psikologi tentunya mengetahui bahwa terekspos terhadap tindakan kekerasan alias menjadi korban tindakan kekerasan dapat berdampak pada perilaku orang tersebut, terutama bila orang tersebut memang telah mempunyai kecenderungan terhadap tindakan kekerasan. Para peneliti menduga bahwa trauma psikologis selama masa kanak-kanak dapat mengubah struktur otak anak, terutama pada bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti setiap anak yang pernah mengalami tindakan kekerasan pasti akan menjadi seorang pelaku tindak kekerasan. Banyak anak yang pernah menjadi korban tindak kekerasan tidak berubah menjadi seorang pelaku tindak kekerasan juga. Pada penelitian yang dilakukan di Swiss ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang pernah mengalami tindakan kekerasan selama masa kanak-kanak ternyata tidak hanya mengalami trauma psikologis, tetapi juga mengalami perubahan pada area otak tertentu, yaitu pada bagian korteks orbitofrontal, otak depan bagian bawah, di belakang bola mata Anda. Para peneliti menduga bahwa bagian korteks orbitofrontal merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengatur bagian otak lainnya mengenai "hadiah" atau "hukuman" pada situasi tertentu. Dengan demikian, otak pun dapat beradaptasi mengenai bagaimana caranya memperoleh hadiah dan menghindari hukuman, seperti yang terjadi pada anak-anak saat belajar mengenai berbagai hal selama hidupnya. Bagian otak ini ternyata juga turut berperan dalam hal kecanduan, mempelajari cara bergaul, dan kemampuan untuk membuat keputusan terbaik berdasarkan potensi yang ada. Pada situasi sulit, korteks orbitofrontal pada orang sehat akan teraktivasi untuk mencegah terjadinya impuls agresif dan menjaga interaksi normal. Pada penelitian ini, para peneliti mempelajari apa sebenarnya efek kekerasan pada masa kanak-kanak terhadap perilaku agresif di masa dewasa pada hewan percobaan (tikus percobaan). Pada penelitian ini, para peneliti memaparkan sejumlah tikus pada tindak kekerasan sewaktu muda di mana para peneliti kemudian mengamati bagaimana perilaku mereka seiring dengan semakin bertambahnya usia mereka. Para peneliti juga mempelajari otak para tikus dewasa untuk melihat apakah mereka memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan kekerasan. Para peneliti menemukan bahwa tikus jantan memiliki sedikit aktivitas di dalam korteks orbitofrontal, yang membuat tikus menjadi lebih sulit mengendalikan impuls negatif mereka. Hal ini ternyata juga mempengaruhi amigdala, suatu bagian otak yang berfungsi untuk mengatur respon emosional. Pada akhir penelitian, para peneliti menemukan bahwa para tikus yang terpapar oleh tindak kekerasan di masa mudanya tidak memiliki rantai reaksi yang wajar di dalam otaknya yang mencegah mereka untuk tidak bertindak secara berlebihan saat mengalami suatu ancaman atau situasi berbahaya. Pada beberapa penelitian sebelumnya, para peneliti juga menemukan respon yang sama saat meneliti otak orang yang sering melakukan tindak kekerasan seperti para pembunuh. Selain trauma psikologis, para peneliti menemukan bahwa faktor genetika ternyata juga turut berperan dalam terjadinya perilaku impulsif, antisosial, dan agresif. Gen yang diduga turut berperan tersebut adalah MAOA. Bagaimana suatu gen dapat mengubah perilaku seseorang? Para peneliti menduga hal ini dipicu oleh stress psikologis yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku gen. Berdasarkan penelitian pada hewan percobaan, para peneliti menemukan bahwa pemberian obat anti depresi dapat membantu menurunkan perilaku agresif dan mengembalikan fungsi gen seperti semula. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana pengaruh pengobatan terhadap perubahan perilaku.  Baca juga: Bahaya Layar Sentuh Bagi Anak Sumber: healthline
 16 Jul 2017    15:00 WIB
Kenali Tanda-tanda Kekerasan Dalam Hubungan Anda
Perilaku kekerasan di antara remaja, baik laki-laki maupun perempuan telah meningkat sekarang ini. Beberapa remaja laki-laki memiliki pengertian yang salah mengenai apa itu kekerasan di dalam suatu hubungan. Kekerasan dalam suatu hubungan tidaklah selalu berarti kekerasan fisik seperti memukul atau menampar. Banyak hal lainnya yang sebenarnya termasuk dalam tindakan kekerasan.Baik remaja laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban maupun pelaku tindakan kekerasan ini. Apa Itu Kekerasan Dalam Suatu Hubungan?Kekerasan dalam suatu hubungan tidak selalu berupa kekerasan fisik, terutama pada remaja. Beberapa hal yang termasuk dalam tindakan kekerasan adalah:•    Kekerasan emosional, di mana anda atau pasangan anda melakukan sesuatu yang bertujuan untuk menyakiti perasaan pasangan anda•    Kekerasan verbal adalah saat pasangan anda membentak atau mengancam aau menghina anda•    Mengontrol pasangan anda, misalnya menelepon pasangan anda berulang kali untuk menanyakan di mana ia berada, mengatur dengan siapa pasangan anda boleh berteman, membaca sms atau memeriksan telepon genggam pasangan anda tanpa ijin•    Memaksa seseorang atau pasangan anda untuk berhubungan seksual di luar kemauannyaPara remaja mungkin melakukan berbagai tindakan kekerasan karena berbagai alasan. Beberapa remaja tumbuh dalam lingkungan dan budaya yang beranggapan bahwa pria harus kuat, yang seringkali disalahartikan oleh banyak laki-laki dan membuat mereka berpikir bahwa mereka harus mengendalikan segala sesuatu dan bersikap agresif bila diperlukan.Rasa cemburu seringkali menjadi awal dimulainya tindakan kekerasan, terutama kekerasan fisik. Sumber: webmd
 20 Nov 2016    11:00 WIB
5 Alasan Anda Tidak Boleh Menghukum Anak Secara Fisik
Memang penting untuk mendisiplinkan anak, tetapi menghukum mereka secara fisik dapat memberi pengaruh jangka panjang untuk perkembangan mereka. Akan sangat mengganggu saat anak Anda mulai melempar barang-barang, sampai Anda berpikir untuk memukul mereka dengan sangat keras. Anak-anak memerlukan perlakuan yang berbeda seiring dengan pertumbuhannya. Anda tidak dapat memperlakukan anak lima tahun dan anank remaja dengan aturan yang sama. Berikut adalah alasan mengapa Anda harus menghindari pemukulan terhadap anak. 1.  Akan mengajarkan anak bahwa kekerasan selalu benarIni bukanlah yang ingin Anda ajarkan ke anak Anda bukan? Saat Anda memberikan hukuman fisik kepada anak, dia akan belakar bahwa Anda kuat, Anda dapat memilih antara yang baik dan yang salah. Hal ini dapat berlangsung lama dan menimbulkan efek yang menakutkan saat mereka beranjak dewasa. 2.  Akan mengajarkan anak bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalahSaat Anda memukul anak ketika mereka berbuat salah, mereka akan mulai percaya kekerasan dapat membuat yang salah menjadi benar. Hal ini tidak benar dan Anda tentu tidak ingin anak Anda beranggapan demikian. Kekerasang tidak pernah memecahkan masalah. 3.  Dapat menghancurkan kepercayaan diri anakSaat orangtua memukul anak, terkadang anak berpikir apakah ada yang salah dengan diri mereka. hal tersebut akan melukai harga dirinya. Jika Anda ingin anak Anda sukses di kehidupannya, Anda harus mampu meningkatkan kepercayaan dirinya, dan hal ini tidak dapat dilakukan jika Anda memukul mereka. 4.  Melukai hubungan orangtua-anakJika Anda memakai cara memukul untuk mengatasi kenakalan anak, maka anak Anda mulai kehilangan kepercayaan terhadap Anda dan menjadi takut dengan Anda. ini bukanlah jenis ikatan yang Anda inginkan dengan anak. Mulailah dengan berbicara dan buang keinginan untuk memukul. 5.  Dapat mempengaruhi kesehatan mental anakAnak kecil yang dipukuli orangtuanya kemungkinan akan mengalami gangguan mental dimasa mereka dewasa. Mungkin efek ini tidak terlihat saat ini tapi tentu Anda tidak ingin anak Anda memiliki masalah kejiwaan kemudian hari bukan?Lebih baik membuat anak-anak mengerti bagaimana membedakan mana yang baik dan mana yang salah dengan cara yang lebih manusiawi. Memukul mungkin dapat membantu, tetapi kerusakan yang diakibatkannya dikemudian hari akan lebih merugikan Anda dan anak Anda.Sumber: magforwomen
 01 Jun 2016    12:00 WIB
Lindungi Anak Dari Kekerasan! Terapkan 5 Cara Jitu Ini
Anak adalah objek yang paling sering mengalami kekerasan. Anda sebagai orang tua atau memiliki saudara yang masih kecil tentu ingin anak Anda aman dan terhindar dari kekerasan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun. Untuk membantu melindunginya, maka Anda sebagai orang tua harus mengajarkan bagaimana cara melindungi dirinya agar terhindar dari kekerasan. Berikut adalah 5 solusi jitu yang dapat Anda ikuti untuk mencegah terjadinya kekerasan pada buah hati Anda: 1.      Ajari anak dalam melindungi diri Ajarkan pada anak Anda bahwa tidak boleh ada seorang pun yang menyentuhnya dengan tidak wajar. Berikan pemahaman dan ajarkan anak untuk menolak segala perbuatan yang tidak senonoh terutama pada bagian intimnya. Ajarkan anak Anda untuk berani mengatakan masalah tersebut pada Anda apabila ada orang yang berusaha berbuat yang tidak pantas dan selalu menceritakan jika terjadi sesuatu pada dirinya. Ajarkan anak untuk tidak mudah mempercayai orang asing terutama orang yang baru dikenal. 2.      Sekolah ikut berperan aktif Waktu yang dihabiskan anak di sekolah cukup panjang. Sehingga sekolah juga harus berperan aktif dalam menjaga keselamatan para siswanya. Agar terjalin kerjasama yang baik bisa diadakan pertemuan-pertemuan antara orang tua para siswa dengan pihak sekolah. Dalam pertemuan ini maka akan memberikan kesempatan orang tua para siswa dan pihak sekolah untuk merancang lingkungan sekolah yang mendukung, memantau melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. 3.      Mendekatkan diri dengan anak Dewasa ini terjadi perubahan budaya antara jaman dulu dengan jaman sekarang. Hal ini bisa dikarenakan tontonan TV yang mulai tidak mendidik, mudahnya membuka situs internet yang tidak sesuai dengan usianya. Hal ini bisa mempengaruhi cara berpikir dan bersikap anak-anak Anda. Oleh karena itu usahakan untuk selalu mendekatkan diri dengan anak Anda, sesibuk apapun sisipkan waktu Anda untuk bertanya bagaimana kabarnya hari ini, bagaimana keadaan sekolah dan Anda bisa membantunya membuat pekerjaan rumah. Hal ini akan membuatnya merasa dirinya selalu nyaman dan terlindungi karena Anda selalu berada disampingnya.   4.      Pembekalan Ilmu Bela Diri Cara yang satu ini dapat menjadi salah satu solusi agar anak tidak menjadi korban kekerasan. Ilmu bela diri akan mengajarkan disiplin dan membentuk mental juga jasmani yang kuat, bela diri dapat digunakan untuk membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun Anda harus memberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri dipelajari bukan untuk melakukan kekerasan dan merugikan orang lain. 5.      Laporkan kepada Pihak Berwajib Apabila memang terjadi kekerasan fisik, psikis, ataupun seksual maka yang harus dilakukan adalah segera melaporkan kepada pihak berwajib. Hal ini bertujuan agar segera diambil tindakan lebih lanjut terhadap tersangka dan mengurangi angka kejahatan yang sama terjadi. Korban kekerasan harus segera mendapatkan bantuan ahli medis serta dukungan penuh dari keluarga. Kekerasan yang terjadi pada anak dapat menyebabkan perkembangan fisik dan psikis anak terguncang. Sehingga untuk Anda para orang tua harus selalu setia mendampingi dan memberikan dukungan untuk mencegah hal ini terjadi. Kepedulian dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan demi membantu anak untuk mendapatkan kehidupan yang baik di masa depan. Baca juga: Pengaruh Tindakan Kekerasan Pada Perkembangan Otak Anak Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: washingtonpost
 05 May 2016    12:00 WIB
Tips Mencegah Terjadinya Kekerasan Dalam Suatu Hubungan
Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah anda menjadi korban maupun pelaku tindakan kekerasan.1.  Belajarlah dari Pengalaman Masa remaja adalah saat di mana anda belajar mengenai apa itu berkencan. Anda dapat belajar dari hubungan anda sebelumnya. 2.  Ketahui Fakta Bahwa Kekerasan Merupakan Tindakan KriminalPara remaja perlu mengetahui bahwa tindakan kekerasan merupakan tindakan kriminal yang dapat membuat mereka dipenjara. Mengunci pacar anda di dalam mobil di luar kemauannya atau memukul atau menampar atau memaksa pacar anda untuk berhubungan seksual dengan anda di luar kemauannya merupakan tindakan kriminal, berapa pun usia anda dan di mana pun anda berada.3.  Dengarkan Hati Nurani AndaJika anda merasa bahwa suatu tindakan adalah salah, maka jangan lakukan tindakan tersebut, apapun yang terjadi. Jangan membalas orang yang memukul atau mengejek anda dengan memukul dan mengejeknya kembali. Jangan mudah terpengaruh oleh teman anda yang menyarankan anda untuk melakukan suatu tindakan yang salah. Jangan menoleransi tindakan kekerasan apapun, baik anda laki-laki ataupun perempuan. 4.  Jangan Segan Untuk BertanyaJika anda bingung mengenai apa yang harus anda lakukan, jangan ragu-ragu untuk bertanya pada guru atau orang tua anda untuk memperoleh nasehat yang benar. Bertanyalah pada orang dewasa yang menunjukkan rasa hormat pada pasangannya dan tampaknya tahu bagaimana menjaga suatu hubungan yang baik dengan pasangannya.5.  Lakukan Sesuatu Untuk MembantuBila anda melihat seseorang sedang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, maka lakukanlah sesuatu. Beritahulah pada orang dewasa lain atau polisi bila melibatkan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan anda.6.  Berhenti Mengendalikan Segala SesuatuJika orang yang anda sukai atau cintai ingin memutuskan anda, maka semua permohonan atau tindakan apapun tidak akan membuatnya kembali mencintai anda. Jangan mencoba untuk mengendalikan orang lain. Bila anda tidak dapat mempercayai pasangan anda, baik karena ia pernah berselingkuh atau anda merasa tidak tenang saat ia berada jauh dari anda, maka anda mungkin harus berhenti menjalin hubungan dengannya.Jika anda merupakan korban kekerasan, carilah pertolongan segera. Buatlah rencana mengenai bagaimana cara anda dapat terlepas dari pelaku dan dapat tetap menjaga keselamatan diri anda.Sumber: webmd
 02 Oct 2015    18:00 WIB
7 Tanda Anda Sedang Mengalami Kekerasan Emosional
Mengetahui apakah Anda sedang mengalami suatu kekerasan emosional sangatlah penting, terutama bila Anda adalah seorang wanita. Hal ini dapat membantu Anda mengetahui apakah hubungan Anda dan pasangan merupakan suatu hubungan yang sehat atau tidak. Selain itu, Anda pun dapat mendeteksi dan membantu teman atau anggota keluarga Anda yang sedang mengalami kekerasan emosional. Kekerasan emosional seringkali tidak disadari, karena pasangan ini biasanya tampak bahagia dari luar, namun ada masalah dari dalam. Di bawah ini terdapat beberapa tanda bahwa seseorang sedang mengalami suatu kekerasan emosional.   Merasa Tidak Berdaya Sebagian besar penyiksa membuat korbannya merasa tidak berdaya. Para penyiksa ini seringkali menipu para korbannya untuk berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun sendirian atau bahwa mereka tidak memiliki orang lain yang perduli pada mereka untuk menolong. Jika pasangan Anda membuat Anda merasa tidak berdaya, maka Anda mungkin sedang mengalami kekerasan emosional. Ingatlah bahwa orang yang mencintai Anda seharusnya mendukung Anda dan menyemangati Anda.   Takut Akan Pertengkaran Apakah pasangan Anda membuat Anda merasa takut untuk mendebatnya tentang berbagai permasalahan? Merasa takut berdebat atau bertengkar dapat merupakan tanda dari kekerasan emosional.   Merasa Tidak Berharga Penyiksa juga seringkali membuat korbannya merasa tidak berharga. Seorang penyiksa akan memberitahu korbannya bahwa tidak ada orang lain di dunia ini yang menyayangi dan mencintai mereka sepertinya. Jika seorang penyiksa telah berhasil membuat Anda merasa tidak berdaya tanpanya, maka ia telah berhasil mengendalikan Anda.    Tidak Berhubungan Lagi Dengan Teman Salah satu cara kerja seorang penyiksa adalah dengan cara memutuskan semua ikatan atau hubungan korbannya dengan teman-temannya. Jika Anda menyadari bahwa Anda telah mulai kehilangan atau jarang berhubungan dengan teman-teman Anda, maka Anda mungkin telah mengalami kekerasan emosional.  Ia mungkin akan memberitahu Anda bahwa teman Anda adalah pengganggu yang berusaha untuk merusak hubungan Anda dengannya. Ia bahkan mungkin akan membuat Anda merasa bersalah saat Anda berpergian dengan teman-teman Anda.   Kata-kata Kasar Salah satu tanda pasti Anda sedang mengalami kekerasan emosional adalah kekerasan verbal. Seorang penyiksa mungkin akan menggunakan kata-kata kasar untuk menyakiti perasaan Anda dan mencaci maki Anda. Penyiksa jenis ini sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang sangat rendah sehingga ia pun mencoba membuat orang lain merasa lebih buruk sehingga ia dapat merasa lebih baik.    Bertanya Apakah Diri Anda Sudah Gila Jika Anda telah mulai bertanya-tanya apakah Anda telah menjadi gila, maka hal ini merupakan pertanda tidak baik. Jika Anda telah mulai meragukan kewarasan Anda dalam suatu hubungan, maka ini merupakan pertanda untuk Anda agar segera melarikan diri. Orang yang sungguh-sungguh mencintai Anda seharusnya tidak membuat Anda merasa bahwa Anda gila.   Isolasi Menjauhkan Anda dari teman-teman Anda hanyalah langkah pertama dalam mengisolasi diri Anda. Penyiksa emosional akan terus mengisolasi korbannya dengan cara tidak memperbolehkan mereka untuk menggunakan telepon genggam, komputer, melarang korbannya untuk bekerja atau pergi ke sekolah, dan bahkan tidak membiarkan korbannya menggunakan angkutan umum. Jika pasangan Anda merupakan satu-satunya penghubung Anda dengan dunia luar, maka Anda mungkin telah mengalami kekerasan emosional yang sangat parah dalam hubungan Anda. Tanda-tanda diatas merupakan tanda seseorang mengalami kekerasan emosional. Apabila keadaan ini adalah keadaan yang Anda alami segera Anda meminta bantuan dan dukungan dari orang terdekat untuk membantu Anda mengatasi masalah ini.  Baca juga:  Tips Mencegah Terjadinya Kekerasan Dalam Suatu Hubungan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: allwomenstalk