Your browser does not support JavaScript!
 15 Sep 2019    18:00 WIB
Mengapa Kehamilan Ektopik Bisa Terjadi ?
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi saat telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya pada saluran telur (tuba falopii).PengobatanPada tahap awal terjadinya kehamilan ektopik, terutama bila gejala yang timbul hanya bersifat ringan, maka terdapat kemungkinan bahwa telur yang telah dibuahi tersebut akan mati dengan sendirinya dan diserap oleh tubuh dan tidak memerlukan tindakan lebih lanjut. Pemberian ObatSebuah suntikan obat methotrexate dapat diberikan untuk menghentikan pertumbuhan embrio. Akan tetapi, terapi ini tidak dapat dilakukan pada semua wanita hamil dan hanya dapat dilakukan bila saluran telur belum robek serta saat kehamilan belum berlangsung terlalu lama. Tindakan PembedahanTindakan pembedahan bertujuan untuk mengeluarkan embrio dari dalam saluran telur bila saluran telur masih utuh. Akan tetapi, bila saluran telur telah robek, maka saluran telur ini pun mungkin harus ikut diangkat.Jika saluran telur diduga telah robek, maka diperlukan tindakan pembedahan segera untuk menghentikan perdarahan yang terjadi. Pada beberapa kasus, saluran telur dan indung telur mungkin telah hancur dan harus diangkat.Setelah pengobatan kehamilan ektopik, anda biasanya harus melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa saluran telur yang berisi embrio telah diangkat seluruhnya. Pemeriksaan darah ini bertujuan untuk memeriksa kadar HCG (suatu hormon yang dihasilkan selama kehamilan berlangsung).Hamil Kembali Setelah Mengalami Kehamilan Ektopik, Sulitkah?Sebagian besar wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik dapat kembali hamil dan memiliki kehamilan serta persalinan yang normal. Jika salah satu saluran telur telah diangkat, anda masih dapat hamil karena saluran telur lainnya masih berfungsi dengan normal. Sekitar 65% wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik dapat kembali hamil dalam waktu 18 bulan setelah terjadinya kehamilan ektopik.Dapatkah Kehamilan Ektopik Dicegah?Kehamilan ektopik tidak selalu dapat dicegah, akan tetapi seorang wanita dapat mengurangi resiko kehamilan ektopik dengan melindungi dirinya dari infeksi penyakit menular seksual. Berhenti merokok juga dapat mengurangi resiko terjadinya kehamilan ektopik. Baca juga: Stretch Mark Akibat Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 01 Mar 2019    18:00 WIB
Apakah Saya Menderita Klamidia ?
Klamidia merupakan salah satu penyakit menular seksual yang paling sering terjadi di Amerika. Penularannya sangat mudah terjadi karena klamidia seringkali tidak menimbulkan gejala apapun dan dengan demikian baik orang yang terinfeksi maupun pasangannya tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Bahkan sekitar 75% wanita dan 50% pria terinfeksi penyakit ini tanpa mengalami gejala apapun.   Apakah Saya Menderita Klamidia ? Bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui apakah anda menderita klamidia atau tidak karena gejala yang dialami biasanya tidak jelas atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Akan tetapi, terdapat beberapa gejala yang dapat muncul, biasanya sekitar 3 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang dapat ditemukan pada wanita adalah: Cairan vagina yang abnormal dan mungkin berbau Keluarnya darah dari kemaluan di luar masa menstruasi Menstruasi yang terasa nyeri Nyeri perut disertai demam Nyeri saat berhubungan seksual Rasa terbakar atau gatal di dalam atau sekitar vagina Nyeri saat buang air kecil Gejala yang dapat ditemukan pada pria adalah: Keluarnya cairan dari ujung penis yang berwarna jernih atau keruh Nyeri saat buang air kecil Rasa panas dan gatal pada bagian ujung penis Nyeri dan bengkak di sekitar testis (buah zakar) Bila dokter menduga anda menderita klamidia, maka dokter akan melakukan pemeriksaan apus vagina atau penis untuk memeriksa ada tidaknya bakteri penyebab.   Pengobatan Klamidia Obat yang biasa digunakan pada pengobatan klamidia adalah antibiotika, seperti azitromisin atau doksisiklin. Dokter juga akan menganjurkan agar pasangan anda juga melakukan pengobatan karena kemungkinan telah terinfeksi juga. Dengan pengobatan, klamidia biasanya membaik dalam waktu 1-2 minggu. Lanjutkan pengobatan sampai tuntas walaupun gejala telah membaik. Wanita yang menderita klamidia berat membutuhkan perawatan di rumah sakit, pemberian antibiotika intravena (melalui pembuluh darah), dan obat anti nyeri. Setelah regimen pengobatan selesai, maka anda harus melakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui apakah anda telah benar-benar terbebas dari infeksi. Dianjurkan untuk jangan berhubungan seksual hingga anda dan pasangan menyelesaikan pengobatan dan telah benar-benar terbebas dari infeksi.   Apa yang Terjadi Bila Anda Tidak Berobat ? Pada Wanita Bila tidak diobati, infeksi klamidia dapat menyebabkan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease) yang dapat menyebabkan kerusakan tuba fallopii (suatu saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim, tempat sperma dan sel telur bertemu). Selain itu, infeksi klamidia yang tidak diobati juga dapat menyebabkan terjadinya: Kehamilan ektopik (suatu kehamilan yang tidak berlangsung di dalam rahim, biasanya di dalam tuba fallopii) Kelahiran prematur Penularan infeksi dari ibu pada bayinya saat proses persalinan yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi mata, kebutaan, atau pneumonia pada bayi Pada Pria Klamidia yang tidak diobati dapat menyebabkan terjadinya: Uretritis non gonokokal, yaitu suatu infeksi pada uretra (saluran yang menghubungkan kandung kemih dengan lubang kencing di penis) Epididimitis, yaitu suatu infeksi pada epididimis (suatu saluran yang membawa sperma dari buah zakar) Proktitis, yaitu infeksi pada rektum (bagian akhir dari usus besar yang berhubungan dengan anus)   Pencegahan Klamidia Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya infeksi dan penularan klamidia adalah: Menggunakan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual, terutama bila anda sering berganti-ganti pasangan seksual Jangan berganti-ganti pasangan seksual Hindari berhubungan seksual selama mengalami infeksi klamidia, terutama bila pasangan anda tidak terinfeksi Jangan berhubungan seksual bila anda mengalami beberapa gejala infeksi kelamin, seperti keluarnya cairan abnormal dari kemaluan atau rasa terbakar saat buang air kecil atau adanya luka atau bercak pada kemaluan Lakukanlah pengobatan hingga tuntas bila anda menderita klamidia sehingga pasangan anda dapat terhindar dari infeksi klamidia Dianjurkan agar anda melakukan pemeriksaan secara teratur untuk klamidia bila anda sering berganti-ganti pasangan seksual   Sumber: webmd  
 02 Feb 2019    16:00 WIB
Beberapa Penyebab Pendarahan Selama Kehamilan
Perdarahan selama kehamilan seringkali terjadi, terutama pada trimester pertama kehamilan (1-12 minggu pertama) dan biasanya bukan merupakan tanda bahaya apapun. Akan tetapi, karena perdarahan kadang juga merupakan tanda adanya gangguan berat lainnya, maka segera hubungi dokter atau bidan anda untuk memastikan kesehatan bayi anda.   Perdarahan Pada Trimester I Kehamilan (1-12 Minggu) Sekitar seperempat wanita hamil mengalami perdarahan pada 12 minggu pertama kehamilan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada trimester pertama kehamilan adalah: Saat sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim anda (perdarahan saat implantasi) Keguguran Kehamilan ektopik Kehamilan anggur (molar) Perubahan pada serviks (leher rahim) Infeksi Perdarahan Saat Implantasi Anda mungkin menemukan sedikit bercak darah pada pakaian dalam anda pada 6-12 hari setelah kehamilan, yaitu saat sel telur yang telah dibuahi oleh sperma menempel pada dinding rahim. Beberapa wanita tidak menyadari bahwa mereka sedang hamil dan mengira bercak darah ini sebagai menstruasi yang sangat sedikit. Perdarahan ini biasanya sangat sedikit dan hanya berlangsung selama beberapa jam atau hari. Keguguran Perdarahan pada trimester pertama kehamilan juga dapat merupakan tanda ancaman keguguran. Segera hubungi dokter anda untuk memastikan kesehatan bayi anda dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya keguguran. Kehamilan Ektopik Pada kehamilan ektopik, embrio yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya pada tuba falopii (suatu saluran tempat pembuahan terjadi, terletak antara indung telur dengan rahim). Jika embrio ini terus berkembang, maka tuba falopii akan robek dan dapat membahayakan nyawa anda. Beberapa gejala lain dari kehamilan ektopik adalah kram perut hebat atau nyeri perut bagian bawah, biasanya hanya pada satu sisi perut, nyeri saat  buang air kecil atau saat buang air besar, dan kepala terasa ringan atau melayang. Kehamilan Anggur (Molar) Kehamilan anggur atau mola hidatidosa merupakan suatu keadaan yang sangat jarang terjadi, di mana terdapat pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam rahim (bukan bayi). Pada keadaan yang jarang, jaringan ini dapat merupakan sel kanker dan dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh lainnya. Gejala lain dari kehamilan anggur ini adalah mual dan muntah hebat serta pembesaran rahim yang berlangsung cepat Perubahan Leher Rahim (Serviks) Selama kehamilan, terjadi peningkatan aliran darah pada serviks. Hubungan seksual atau pemeriksaan pada serviks ataupun hal lainnya yang menyebabkan gesekan atau tersentuhnya serviks dapat memicu terjadinya perdarahan. Infeksi Infeksi apapun yang mengenai serviks, vagina, atau penyakit menular seksual seperti klamidia, gonorea, atau herpes dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada trimester pertama kehamilan.   Perdarahan Pada Trimester II dan III Kehamilan (13-40 Minggu) Perdarahan abnormal yang terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan dapat merupakan tanda adanya gangguan pada kesehatan ibu atau bayi. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami perdarahan pada trimester kedua atau ketiga kehamilan anda. Berbaring dan beristirahatlah sambil menunggu dokter atau bidan anda datang dan jangan mengkonsumsi obat-obatan apapun. Plasenta Previa Plasenta previa merupakan suatu keadaan di mana plasenta terletak pada bagian bawah rahim, baik sebagian atau seluruhnya sehingga menutupi jalan lahir. Perdarahan akibat plasenta previa dapat terjadi tanpa disertai nyeri perut. Solusio Plasenta Solusio plasenta merupakan suatu keadaan di mana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum atau saat melahirkan yang mengakibatkan adanya genangan darah (terkumpulnya darah) di antara plasenta dan rahim. Keadaan ini dapat sangat berbahaya bagi ibu dan bayinya. Gejala lain dari solusio plasenta adalah nyeri perut, keluarnya bekuan darah dari dalam vagina, rahim terasa lunak, dan nyeri pinggang atau punggung. Ruptur Uterus Ruptur uterus atau robeknya rahim merupakan suatu keadaan yang jarang terjadi yang dapat disebabkan oleh terbukanya jaringan parut bekas operasi caesar sebelumnya selama kehamilan. Robeknya rahim ini dapat membahayakan jiwa anda dan membutuhkan tindakan caesar segera. Gejala ruptur uterus lainnya adalah nyeri perut dan perut terasa lunak. Vasa Previa Vasa previa merupakan suatu keadaan yang sangat jarang terjadi, di mana pembuluh darah bayi pada tali pusat atau plasenta berada pada jalan lahir. Vasa previa dapat sangat berbahaya bagi bayi anda karena pembuluh darah ini dapat robek dan menyebabkan bayi anda mengalami perdarahan hebat dan kekurangan oksigen. Gejala lain dari vasa previa adalah denyut jantung bayi abnormal dan perdarahan hebat. Kelahiran Prematur Perdarahan dari vagina saat hamil tua dapat merupakan tanda bahwa tubuh anda sedang bersiap untuk melahirkan. Beberapa hari atau minggu sebelum melahirkan, suatu lapisan lendir yang menutupi serviks dapat keluar melalui vagina dan mungkin juga mengandung sedikit darah (lendir darah). Jika perdarahan dan tanda-tanda kehamilan dimulai sebelum kehamilan berusia 37 minggu, segera hubungi dokter atau bidan anda karena anda mungkin akan mengalami kelahiran prematur. Gejala lain dari kelahiran premature adalah adanya kontraksi rahim, keluarnya cairan atau lendir dari vagina, adanya tekanan pada perut, dan nyeri pada punggung bawah atau pinggang. Penyebab Lainnya Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan perdarahan saat hamil tua adalah cedera pada serviks atau vagina, adanya polip, atau kanker.   Apa yang Harus Dilakukan? Beberapa hal yang dapat anda lakukan bila mengalami perdarahan saat hamil adalah: Segera hubungi dokter atau bidan anda, karena perdarahan dapat merupakan tanda adanya gangguan pada kehamilan anda Gunakanlah pembalut untuk mengetahui seberapa banyak darah yang telah keluar dan catatlah warna darah yang keluar (merah muda, coklat, atau merah; apakah disertai dengan bekuan darah atau tidak) Bawalah setiap jaringan yang keluar dari vagina anda pada dokter anda untuk diperiksa Jangan menggunakan tampon atau berhubungan seksual selama anda masih mengalami perdarahan Segera hubungi dokter atau bidan anda atau pergi ke rumah sakit terdekat bila anda mengalami tanda-tanda keguguran seperti nyeri perut hebat atau kram perut hebat pada perut bagian bawah, perdarahan hebat yang disertai oleh nyeri ataupun tidak, keluarnya jaringan dari vagina, pusing, pingsan, demam lebih dari 38°C, dan atau menggigil  Baca juga: Tanda Bahaya Saat Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 20 Jan 2017    18:00 WIB
Dokter Mengangkat Kerangka Bayi Berusia 38 Tahun Dari Perut Wanita
Jyoti Kumar pergi ke dokter setelah ia mulai mengalami sakit secara terus menerus. Seorang dokter ahli menemukan penyebabnya ternyata terdapat kerangka bayi yang terdapat di dalam dirinya dalam kurun waktu 38 tahun. International Business Times melaporkan Kumar, wanita yang berusia 62 tahun ternyata pernah mengalami kehamilan ektopik yaitu kehamilan diluar kandungan, namun janinnya tidak mampu untuk bertahan hidup. Pada saat tertentu, " Dia tampaknya mengetahui bahwa bayi tersebut telah meninggal dan harus melakukan operasi untuk mengeluarkannya. Namun dia takut untuk melakukan operasi dan melarikan diri dari rumah sakit. Kumar lebih memilih untuk melakukan pengobatan di sebuah klinik kecil" kata dokter kepada Daily Mail. Ketika merasakan rasa sakit setelah beberapa dekade kemudian, ia membiarkan dokter untuk menlakukan pengangkatan kerangka bayi tersebut yang berada di dalam kantung perutnya. "Kami menemukan benjolan di sisi kanan bawah perut, dan takut itu adalah kanker. Dari hasil pemeriksaan CT scan kemudian menemukan bahwa benjolan itu terbuat dari bahan yang keras, materi kalsifikasi," salah satu dokter mengatakan. "Namun setelah pasien menjalani pemeriksaan MRI kami baru bisa melihat massa sebenarnya adalah kerangka bayi. Cairan ketuban yang melindungi janin dan jaringan lunak cair mungkin telah diserap dari waktu ke waktu, sehingga hanya tersisa tulang dengan beberapa cairan yang tersisa. Sekarang kerangka bayi tersebut sudah diangkat dari rahim, usus dan kandung kemih Kumar Dokter percaya ini adalah kehamilan ektopik terlama di dunia, sebelumnya ada kasus kehamilan ektopik terlama dimana seorang wanita Belgia memiliki kerangka bayi dalam tubuhnya selama 18 tahun. Sumber: foxnews
 22 Oct 2016    18:00 WIB
Penyebab dan Gejala Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi saat telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya pada saluran telur (tuba falopii). Kehamilan ektopik dapat terjadi pada 1 dari 90 kehamilan.Sel telur yang telah dibuahi ini tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya bila berada di luar rahim. Selain itu, pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi pada saluran telur dapat merusak saluran telur tersebut dan berbagai jaringan di sekitarnya. Kehamilan ektopik dapat menyebabkan terjadinya keguguran dan membahayakan jiwa wanita hamil tersebut (akibat perdarahan hebat). Kehamilan ektopik biasanya baru diketahui setelah kehamilan berusia antara 5-14 minggu.PenyebabJika salah satu saluran telur mengalami kerusakan, maka hal ini dapat menyebabkan sel telur yang telah dibuahi tidak dapat masuk ke dalam rahim dan membuatnya menempel di dalam saluran telur tersebut atau di tempat lainnya.Faktor ResikoBeberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik adalah:•    Penggunaan IUD (spiral), suatu alat kontrasepsi, pada saat pembuahan berlangsung•    Pernah menderita penyakit peradangan (inflamasi) panggul•    Pernah menderita penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonorea•    Memiliki kelainan bentuk saluran telur sejak lahir (kongenital)•    Pernah melakukan tindakan pembedahan panggul. Jaringan parut akibat tindakan pembedahan membuat sel telur tidak dapat keluar dari saluran telur menuju ke rahim•    Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya•    Ketidakberhasilan tindakan ligasi tuba (kontrasepsi permanen) •    Efek samping penggunaan obat-obat penambah kesuburan•    Kehamilan yang terjadi dengan bantuan fertilisasi in vitro (bayi tabung)GejalaBeberapa gejala yang sering ditemukan pada kehamilan ektopik adalah:•    Keluarnya darah (sedikit) dari vagina•    Mual dan muntah•    Nyeri perut bagian bawah, seringkali pada salah satu sisi perut•    Nyeri perut hebat dan tajam•    Kram perut •    Diare•    Pusing atau badan terasa lemah•    Nyeri pada ujung bahu, leher, atau rektum (bagian usus besar yang berhubungan dengan anus)Jika saluran telur robek, maka nyeri perut dan perdarahan yang terjadi dapat sangat berat hingga membuat penderita pingsan. Kadangkala, keadaan ini dapat berlangsung sangat cepat dan fatal.Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami berbagai gejala di atas atau mengalami kecelakaan. Memperoleh tindakan pengobatan secepatnya dapat mengurangi resiko perdarahan hebat dan membantu mempertahankan kesuburan anda.Apakah Saya Mengalami Kehamilan Ektopik?Untuk menentukan diagnosa kehamilan ektopik, dokter harus melakukan beberapa pemeriksaan lainnya selain menanyakan gejala yang anda alami. Berbagai pemeriksaan tersebut adalah pemeriksaan air kemih (tes kehamilan), pemeriksaan panggul, pemeriksaan darah, dan USG abdomen (perut) untuk melihat kondisi rahim dan saluran telur. Baca juga: Tanda Bahaya Saat Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarangSumber: webmd