Your browser does not support JavaScript!
 08 Oct 2018    16:00 WIB
Sering Masturbasi, Normalkah?
Banyak orang enggan berbicara atau merasa canggung jika diminta membahas aktivitas seksual masturbasi. Meski pada kenyataannya, baik perempuan maupun laki-laki kerap melakukan aktivitas seksual ini diam-diam, bahkan bisa jadi sering melakukannya kala sendiri. Masturbasi aman dilakukan apabila risiko iritasi dan infeksi dapat diminimalisir. Namun perlu diwaspadai jika masturbasi mulai dilakukan secara kompulsif, yang artinya, kemampuan untuk menahan hasrat seksual tak bisa lagi dibendung sehingga timbul perilaku seksual yang negatif dan merugikan. Ini tanda-tanda jika kebiasaan masturbasi seseorang terbilang berbahaya. Kecanduan dan Lepas Kontrol Salah satu indikator kebiasaan masturbasi sudah jadi kecanduan adalah hilangnya kontrol untuk membatasi aktivitas tersebut. Melukai Diri Sendiri Jika aktivitas mendapatkan kepuasan seksual sendiri itu sudah mencapai tahap melukai diri sendiri, maka itu bisa dibilang tidak normal atau berlebihan. Misalnya saja, memasukkan benda-benda asing dan tajam ke dalam vagina (botol atau bohlam) atau menggesek-gesekkan alat kelamin ke sebuah benda sampai menimbulkan lecet atau memar. Itu tandanya dia sudah melakukan masturbasi secara kompulsif dan memerlukan bantuan psikitar atau psikoseksolog. Menjadikannya sebagai Rutinitas Dalam keadaan normal, Anda hanya perlu melakukan masturbasi sesekali sebagai pelepasan kebutuhan secara biologis. Tapi jika tak normal akan melakukan 3, 4 sampai 10 kali dalam waktu yang berdekatan. Keharmonisan Rumah Tangga Terganggu Apakah pasangan mulai mengeluhkan tentang kebiasaan masturbasi Anda? Jika ya, itu berarti perilaku masturbasi Anda sudah bermasalah. Jika seseorang lebih memilih melakukan masturbasi daripada terlibat dalam keintiman bersama pasangan, merasa takut akan penolakan dan diabaikan, maka secara tak sadar ia sudah membuat hubungan asmara maupun pernikahan berada di ujung tanduk. Sebaiknya konsultasikan keadaan Anda dengan psikolog, konselor pernikahan dan seksolog. Berdampak Buruk Terhadap Diri Sendiri Saat masturbasi, apakah Anda merasa lebih terhubung dengan tubuh sendiri, merasakan sensasi menyenangkan atau lebih percaya diri? Atau sebaliknya, merasa mati rasa, kesepian dan tidak nyaman. Jika Anda lebih sering merasa tidak terkoneksi dengan fisik dan mental setelah masturbasi, maka ada masalah psikis yang harus segera diatasi. Karena kemungkinan mastrubasi hanya sebagai bentuk pelampiasan ketidakpuasan akan suatu hubungan maupun terhadap diri sendiri. Merasa Malu Apakah karena kepercayaan akan suatu agama tertentu, pandangan masyarakat atau nilai-nilai tertentu yang ditanamkan keluarga, merasa malu tapi tetap melakukan masturbasi bisa berdampak merusak pada kesehatan mental. Sangat penting untuk membicarakannya pada orang lain karena bisa jadi itu merupakan indikasi dari gangguan mental. Selalu Gagal Menghentikan Kebiasaan Masturbasi Salah satu indikator kebiasaan masturbasi sudah jadi kecanduan adalah hilangnya kontrol untuk membatasi aktivitas tersebut. Jika berkali-kali Anda berusaha untuk menghentikan masturbasi dan gagal, ada kemungkinan Anda jadi ketergantungan dan bisa berefek buruk pada hubungan suami-istri jika Anda sudah menikah nantinya. Cara terbaik adalah konsultasi dengan seorang yang profesional untuk mencari solusinya. Terobsesi dengan Masturbasi Anda jadi terobsesi dan merasa asyik sendiri dengan masturbasi. Jika dalam keseharian atau saat beraktivitas yang Anda pikirkan hanya apakah bisa masturbasi malam nanti atau dengan cara apa untuk bermasturbasi hari ini, kemungkinan besar Anda memiliki perilaku yang bermasalah. Tidak menghargai diri sendiri Jika saat atau setelah melakukan masturbasi Anda merasa bodoh, kesepian dan tak terhubung dengan jiwa Anda, ini petanda tak baik. Masturbasi bisa berdampak negatif terhadap persepsi Anda tentang diri sendiri jika Anda tidak mengetahui alasan tepat saat melakukannya. Namun ketika masturbasi membuat Anda merasa terhubung dengan tubuh, merasakan sensasinya, dan Anda merasa nyaman, tandanya aktivitas ini masih dalam kategori aman. Jika Anda mengidentifikasi satu atau lebih dari  tanda-tanda ini, mulailah merefleksi diri kembali mengenai apa kegunaan dan pentingnya masturbasi buat Anda. Bicaralah pada orang yang Anda percaya. Tak perlu ragu berkonsultasi ke profesional jika masturbasi sudah mulai menjadi obsesi.
 16 Feb 2018    10:00 WIB
Jenis Obat yang Paling Sering Menyebabkan Kecanduan
Hanya karena obat tersebut diresepkan oleh dokter dan dikeluarkan oleh farmasi, bukan berarti obat tersebut aman untuk dikonsumsi semua orang. Dengan meningkatnya angka peresepan obat maka kemungkinan munculnya penyalahgunaan obat resep juga meningkat.   Tipe obat yang paling banyak disalahgunakanSecara umum jenis obat farmasi yang paling banyak menimbulkan penyalahgunaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:•  OpioidMerupakan jenis obat yang dapat menimbulkan efek eforia saat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri akut maupun kronik•  Obat depresan sistem syaraf pusatObat depresan sistem syaraf pusat juga dikenal sebagai tranquilizers atau obat antidepresan. Yang termasuk obat ini adalah barbiturat dan benzodiazepin merupakan jenis obat yang paling banyak disalahgunakan karena obat ini dapat menimbulkan efek menenangkan dan rileks, seperti selimut hangat yang melingkupi otak.•  Obat stimulanObat stimulan dapat meningkatkan aktifitas otak sehingga dapat meningkatkan kesiagaan dan energi.   XanaxXanax (alprazolam) merupakan golongan benzodiazepin yang sering diresepkan untuk mengobati gejala panik dan gangguan kecemasan. Xanax memberikan ketenangan pada penggunanya karena xanax mendepresi sistem syaraf pusat yang tidak normal. Jika obat ini tidak dikonsumsi sesuai denga resep maka dapat menimbulkan bahaya karena efek sedasi dan penenang didalamnya.   Klonopin dan valiumSama seperti xanax, klonopin dan valium dapat menimbulkan gejala sedasi. Efek yang didapat saat mengkonsumsi obat ini sama dengan meminum alkohol seperti gejala mabuk, senang berbicara dan merasa rileks. Klonopin dan valium dapat menyebabkan berbagai efek samping yang berat seperti pingsan dan bahkan kematian.   OxycodoneOxycodone atau sering dijual dengan merk dagang Oxycontin dan Percocet merupakan obat golongan opioid yang digunakan untuk meredakan nyeri. Selain nyeri obat ini dapat memberikan efek penenang sehingga banyak disalahgunakan.   CodeinCodein sering dikombinasikan dengan obat lain untuk mengurangi gejala nyeri dan batuk. Codein termasuk jenis obat golongan opioid yang diresepkan untuk mengurangi gejala batuk, tetapi jika dikonsumsi dalam dosis besar dapat menimbulkan efek sedasi   AmphetamineAmphetamin sering digunakan untuk memperbaiki kondisi pasien dengan ADHD dan narkolepsi karena amphetamine dapat membuat penderita ADHD lebih fokus dan sadar. Tetapi amphetamin juga dapat meningkatkan energi seseorang sehingga banyak disalahgunakan Sumber: healthline
 29 Jan 2018    18:00 WIB
3 Tanda Anda Mengalami Kecanduan Obat Anti Nyeri
Bila Anda sedang sakit atau baru saja mengalami cedera berat, maka Anda mungkin akan sangat bergantung pada obat anti nyeri yang diresepkan dokter untuk mengatasi rasa nyeri yang Anda rasakan. Akan tetapi, apa yang terjadi bila bahkan setelah rasa nyeri di tubuh Anda menghilang, Anda tetap tidak bisa berhenti mengkonsumsi obat anti nyeri tersebut? Hal ini mungkin merupakan tanda bahwa Anda telah mengalami kecanduan obat anti nyeri. Bila hal ini dialami oleh anggota keluarga Anda, di bawah ini ada beberapa tanda kecanduan obat yang perlu Anda perhatikan dan waspadai.   Perubahan Perilaku Salah satu gejala awal dari kecanduan obat anti nyeri adalah perubahan perilaku yang terjadi secara mendadak. Perubahan perilaku ini mungkin juga akan disertai oleh perubahan kognitif dan fisik penderita, misalnya penderita jadi sering mengantuk, lebih agresif, atau berbicara tidak jelas.   Minum Obat Merupakan Bagian dari Rutinitas Hariannya Jika Anda atau orang yang Anda kenal tampaknya tidak dapat beraktivitas tanpa mengkonsumsi obat anti nyeri yang seharusnya hanya dikonsumsi dalam waktu singkat, maka hal ini merupakan tanda bahaya. Apalagi bila Anda merasa tidak dapat melakukan apapun bila tidak mengkonsumsi obat tersebut. Hal ini dapat merupakan tanda bahwa Anda sedang mengalami kecanduan obat.   Dosis Obat yang Dikonsumsi Lebih Banyak Daripada yang Dianjurkan Gejala lain dari kecanduan obat adalah bila penderita mengkonsumsi obat lebih banyak daripada yang dianjurkan. Penderita bahkan mungkin akan melakukan segala cara untuk mendapatkan obat tersebut seperti berbohong atau mencuri.   Baca juga: OMG, 10 Hal Ini Ternyata Juga Bisa Sebabkan Kecanduan Lho!!!   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: cheatsheet
 12 Dec 2016    15:00 WIB
7 Dampak Buruk dari Rasa Marah
Rasa marah ternyata memiliki efek samping yang buruk dilihat dari sisi medis, psikologis, mental dan emosional. Rasa marah yang berlebihan tidak hanya berdampak buruk unruk kesehatan tetapi juga dapat merusak kehidupan sosial dan hubungan interpersonal. Arikel berikut kami coba jabarkan apa saja dampak buruk dari rasa marah. 1.  Kemarahan dapat Menyebabkan Stress dan SedihOrang yang sedang marah cenderung mengalami stress dan sedih dibandingkan orang lain. Orang yang marah lebih mudah terganggu dan sedikit saja ada hal yang tidak disukainya dapat menyebabkan kemarahan bertambah. Stress yang dirasakan saat sedang marah dapat menyebabkan tekanan mental dan emosional. 2.  Rasa Marah dapat Menyebabkan Peningkatan Tekanan DarahMarah dan stress diketahui sebagai faktor penyebab peningkatan tekanan darah dan juga dapat mempengaruhi metabolisme. Saat seseorang marah, mereka secara alami bereaksi seperti mengepalkan tinju atau keluar banyak keringat. Reaksi tersebut dapat merupakan tanda dari peningkatan tekanan darah. 3.  Rasa Marah dapat Menyebabkan Seseorang Terisolasi Secara SosialEfek samping kemarahan dilihat dari sisi medis adalah seseorang dengan rasa marah dapat mengalami isolasi sosial. Masyarakat tentu saja akan menjauhi seseorang yang diketahui memiliki rasa marah, moody dan temperamental. Sesaat Anda memiliki reputasi sebagai seorang yang pemarah maka kemungkinan orang lain menjauh dari Anda akan semakin besar. 4.  Kemarahan Cenderung membuat Anda Mengalami Inflamasi dan Nyeri OtotSecara ilmu medis, pelepasan hormon kortisol yang terjadi saat Anda sedang marah dapat menyebabkan otot menjadi lentur dan menerima gempuran energi selama beberapa detik. Sementara orang dengan rasa marah yang berlebihan dapat merasakan gempuran energi yang lebih banyak lagi pada ototnya karena pelepasan kortisol berulang-ulang. Kortisol juga menyebabkan efek samping lain yaitu membuat tubuh mudah menjadi nyeri. 5.  Rasa Marah Memperburuk Kondisi JantungPernahkah Anda meraskan peningkatan detak jantung secara tiba-tiba saat Anda sedang marah? Menurut para ahli, rasa marah dapat menyebabkan jantung berdetak sampai 180 kali permenit. Pada situasi tersebut, jantung akan membutuhkan oksigen lebih banyak dan nafas menjadi lebih cepat dan pendek. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan dan kelemahan pada jantung. 6.  Kemarahan dapat Menimbulkan Kecanduan dan Kebiasaan Buruk LainnyaStudi yang sudah lama dilakukan menunjukan bahwa orang yang selalu merasakan kemarahan didalam hidupnya lebih mudah jatuh ke dalam kecanduan obat-obatan, merokok, alkohol dan lain sebagainya. Orang dengan rasa marah akan mencari pelampiasan dari kemarahannya untuk memuaskan perasaanya. 7.  Rasa Marah dapat Menurunkan Imunitas TubuhAnda tentu pernah mendengar pepatah mengatakan didalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa yang sehat. Orang dengan tubuh yang sehat tentu berhubungan juga dengan perasaannya yang selalu senang. Orang yang memiliki kondisi kejiwaan yang baik tentu akan berpengaruh terhadap kadar imunitas tubuhnya dan rasa marah merupakan salah satu energi negatif yang dapat merusak sistem imunitas tubuh. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: magforwomen
 24 Nov 2016    08:00 WIB
OMG, 10 Hal Ini Ternyata Juga Bisa Sebabkan Kecanduan Lho!!!
Tahukah Anda bahwa bukan hanya obat-obatan terlarang saja yang bisa membuat seseorang kecanduan? Sebagian besar orang di dunia ini telah mengalami kecanduan akan berbagai hal lain. Di bawah ini Anda dapat melihat 10 hal yang ternyata juga bisa sebabkan kecanduan!   Telepon Genggam Anda tidak dapat berhenti memainkan telepon genggam Anda bukan? Anda selalu membawa telepon genggam Anda ke mana pun Anda pergi dan selalu memeriksanya setiap beberapa menit sekali. Anda bahkan tidak dapat mematikan telepon genggam Anda. Seringkali, Anda juga mendiamkan (cuekin) orang yang sedang makan malam bersama Anda karena ingin melihat pesan atau postingan terbaru dari orang yang berada ribuan km jauhnya dari Anda. Terdengar seperti Anda? Bila ya, maka kemungkinan besar Anda telah mengalami kecanduan gadget Anda tersebut.   Kafein Apakah Anda tidak dapat memulai seluruh aktivitas Anda bila tidak mengkonsumsi segelas kopi di pagi hari? Hal ini mungkin bukan merupakan gejala kecanduan. Akan tetapi, bila Anda merasa cemas dan mengalami nyeri kepala hebat bila Anda tidak mengkonsumsi segelas kopi di pagi hari, maka hal ini merupakan gejala kecanduan.   Cokelat dan Makanan Manis Lainnya Setiap orang pasti pernah merasa ingin sekali mengkonsumsi cokelat atau makanan manis lainnya dan bahkan sulit berhenti saat mulai memakannya. Tidak bisa berhenti makan cokelat atau makanan manis lainnya biasanya disebabkan oleh kandungan karbohidrat, lemak, dan gula yang akan mempengaruhi otak Anda seperti halnya obat-obatan terlarang. Dengan kata lain, Anda sedang mengalami gejala yang sama seperti seseorang yang kecanduan obat-obatan terlarang.   Belanja Semua orang pasti pernah membeli suatu barang yang sebenarnya tidak benar-benar ia butuhkan, bahkan cukup sering. Akan tetapi, terlalu sering belanja dan bahkan menyebabkan kesulitan keuangan serta kehidupan sosial dapat merupakan pertanda bahwa Anda sudah mengalami kecanduan belanja.   Berjudi Banyak sekali orang di dunia mengalami kecanduan yang satu ini. Baik bermain langsung di sebuah kasino atau secara online, baik itu mesin slot atau bermain poker; berjudi dapat membuat otak Anda melepaskan lebih banyak dopamin, yang akan membuat Anda merasa senang, untuk sementara waktu. Akan tetapi, bila Anda bukanlah orang yang cukup beruntung, maka berjudi dapat menyebabkan gangguan pada keuangan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga Anda.   Operasi Plastik Sejumlah orang, khususnya para wanita banyak yang merasa tidak puas dengan bentuk wajah atau tubuhnya. Salah satu gangguan jiwa yang dikenal dengan nama gangguan dismorfik tubuh akan membuat penderitanya terobsesi dengan berbagai keburukan yang hanya dapat dilihatnya. Hal ini dapat membuatnya ingin mengubah atau memperbaiki keburukan wajahnya tersebut, misalnya dengan operasi plastik. Yang pada akhirnya akan membuatnya kecanduan melakukan operasi plastik karena terus merasa wajahnya belum cukup cantik atau kurus.   Baca juga: Tips Mengatasi Kecanduan Merokok   Tanning Kecanduan pada sinar matahari? Walaupun terdengan aneh, akan tetapi kecanduan yang satu ini benar-benar ada! Hal ini dikarenakan sinar UV matahari dapat memicu pelepasan suatu zat kimia di dalam tubuh, yang disebut dengan endorfin. Akibatnya, Anda pun akan merasa senang, walaupun kulit Anda terasa perih akibat terbakar sinar matahari. Terlalu sering tanning sangat berbahaya karena dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit.   Olahraga Berolahraga secara teratur memang dapat membantu menjaga kesehatan dan membuat Anda terlepas dari kecanduan, akan tetapi jangan sampai Anda justru mengalami kecanduan baru, yaitu kecanduan berolahraga. Berolahraga dapat membuat otak Anda belajar dengan lebih cepat, yang pada akhirnya akan mempercepat masa penyembuhan. Akan tetapi, Anda harus dapat mengatakan "tidak" untuk berolahraga bila Anda sedang sakit atau mengalami cedera.   Media Sosial Apakah Anda menghabiskan sebagian besar waktu Anda untuk melihat atau mengubah status Anda di Facebook dan Twitter? Berbagai posting baru yang masuk setiap menit atau bahkan detik akan mempengaruhi otak Anda seperti halnya kokain.   Seks Tidak dapat berhenti berhubungan intim atau menonton film porno? Ingin lebih sering berhubungan intim, tetapi tidak terlalu menikmatinya, dan rela mengambil resiko untuk mendapatkannya? Anda mungkin memiliki gairah seksual yang tinggi, akan tetapi berbagai hal tersebut juga dapat merupakan gejala dari kecanduan seks atau yang biasa dikenal dengan nama gangguan hiperseksual. Otak Anda akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh para pecandu obat-obatan terlarang atau berjudi.   Bagaimana Suatu Kecanduan Bermula? Segala sesuatu yang dapat mengubah mood Anda dapat membuat Anda mengalami kecanduan. Pada awalnya, kecanduan biasanya bermula dari suatu hal yang Anda perlu untuk membantu Anda mengatasi rasa nyeri atau kesal. Rasa senang yang Anda dapatkan saat melihat ada posting baru yang muncul, saat menemukan sepasang sepatu yang sempurna, atau mendapatkan kemenangan saat berjudi akan membuat Anda ingin kembali melakukannya. Hal ini bahkan akan menjadi sesuatu hal yang harus Anda lakukan untuk dapat bertahan hidup.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 04 Nov 2016    15:00 WIB
Merasa Stress Bila Tidak Berolahraga, Normalkah Aku???
Seperti halnya berdiet, ada banyak sekali godaan dan gangguan yang akan menghalangi Anda untuk berolahraga. Apakah ada suatu kelainan pada diri Anda bila Anda merasa stress dan panik saat tidak dapat berolahraga? Pada sebagian besar kasus, merasa cemas karena melewatkan waktu olahraga Anda merupakan hal yang normal dan bahkan patut dipuji. Akan tetapi, bila tidak berolahraga membuat Anda merasa kecewa karena menjadi orang yang gagal atau Anda mulai mengalami berbagai keluhan fisik seperti jantung terasa berdebar-debar atau sesak napas, maka hal ini dapat merupakan pertanda ada suatu gangguan di dalam diri Anda.   Baca juga: Tanda Anda Melakukan Olahraga Terlalu Banyak   Tanda bahaya lainnya adalah bila Anda lebih memilih pergi berolahraga daripada pergi ke suatu acara sosial penting yang Anda miliki. Kedua hal ini dapat merupakan gejala dari suatu gangguan cemas yang tidak diketahui. Menurut sebuah penelitian, Anda mungkin sudah mengalami kecanduan olahraga bila Anda menggunakan olahraga sebagai sarana untuk mengatasi suasana hati yang buruk atau untuk meningkatkan rasa percaya diri, bukannya untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh Anda. Bila Anda merasa ragu benarkah Anda telah mengalami kecanduan olahraga, berkonsultasilah dengan seorang dokter. Dokter dapat membantu mengatasi kecanduan Anda tersebut melalui terapi perilaku atau konseling.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: menshealth
 07 Nov 2015    09:00 WIB
Tanda Kecanduan Makanan
Ternyata tidak hanya obat-obatan terlarang saja yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan anda mengalami kecanduan. Sebuah percobaan pada binatang dan manusia menemukan bahwa beberapa orang mengalami perubahan aktivitas otak yang sama saat memakan makanan tertentu dengan perubahan aktivitas otak saat mengkonsumsi kokain dan heroin. Hal ini terutama terjadi pada makanan enak dan gurih. Berbagai jenis makanan enak dan gurih ini biasanya mengandung banyak gula, lemak, dan garam. Seperti halnya obat-obat yang menyebabkan efek adiktif, makanan yang enak dan gurih pun memicu terbentuknya zat kimia otak seperti dopamin. Setelah anda merasa senang dan menyebabkan peningkatan transmisi dopamin di otak setelah mengkonsumsi makanan tertentu, maka anda akan merasa ingin mengkonsumsi makanan tersebut lagi. Impuls rasa senang setelah mengkonsumsi makanan tertentu ini seringkali melebihi impuls rasa kenyang dan puas yang anda rasakan. Hal ini seringkali membuat anda terus makan walaupun anda tidak merasa lapar lagi. Bila seseorang mengalami tanda-tanda kecanduan makanan ini, maka ia pun akan mengalami toleransi terhadap makanan tersebut, seperti halnya obat, yang membuatnya harus mengkonsumsi makanan tersebut dalam jumlah yang lebih banyak untuk membuat mereka merasakan kesenangan yang sama. Para ahli menduga bahwa kecanduan makanan ini mungkin memiliki peranan penting dalam terjadinya obesitas. Akan tetapi, bukan hanya penderita obesitas saja yang mengalami kecanduan makanan, setiap orang pun dapat mengalaminya, berapapun berat badan anda. Beberapa orang mungkin memiliki metabolisme tubuh yang berbeda (faktor genetika) atau mereka melakukan olahraga ekstra untuk mengkompensasi kelebihan kalori yang mereka makan. Orang yang telah mengalami kecanduan makanan akan terus mengkonsumsi makanan tersebut, walaupun telah menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti peningkatan berat badan atau gangguan dalam hubungannya dengan orang lain. Seperti halnya orang yang mengalami kecanduan obat-obatan ataupun berjudi, penderita kecanduan makanan pun akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku dan keinginan mereka, bahkan di saat mereka merasa ingin berhenti atau mencoba untuk berhenti berulang kali.   Tanda-tanda Kecanduan Makanan Beberapa peneliti di Universitas Yale telah mengembangkan suatu daftar pertanyaan untuk mengidentifikasi apakah seseorang mengalami kecanduan makanan atau tidak, yaitu: Makan lebih banyak daripada yang direncanakan saat anda mulai mengkonsumsi makanan tertentu Terus mengkonsumsi makanan tertentu bahkan saat anda sudah tidak lapar lagi Makan terus hingga anda merasa sakit Cemas atau khawatir bila tidak mengkonsumsi atau mengurangi porsi makanan tertentu Bila makanan tertentu tidak tersedia, maka anda akan pergi ke luar rumah untuk membelinya Anda mengkonsumsi makanan tertentu sangat sering atau sangat banyak sehingga anda bahkan lebih memilih mengkonsumsi makanan tertentu tersebut daripada bekerja, menghabiskan waktu bersama keluarga anda, atau melakukan kegiatan lainnya Anda menghindari acara atau situasi tertentu untuk menghindari makanan tertentu tersebut Anda mengalami gangguan dalam belajar atau bekerja karena makanan dan makan Anda sedang mengalami gejala putus makanan, yaitu bila saat anda mengurangi jumlah makanan tersebut, maka anda merasa cemas, gelisah, atau mengalami gangguan fisik lainnya. Selain itu, terdapat beberapa pertanyaan lain untuk menentukan dampak makanan tertentu terhadap emosi anda, seperti: Apakah anda merasa depresi, cemas, benci pada diri sendiri, atau bersalah karena makanan tertentu Anda merasa harus makan lebih banyak dan lebih banyak lagi makanan tertentu untuk mengurangi perasaan negatif yang anda rasakan atau untuk meningkatkan perasaan senang atau puas Mengkonsumsi makanan tertentu tersebut dalam jumlah yang sama tidak lagi dapat mengurangi perasaan negatif atau menyebabkan anda merasa senang dan puas seperti biasanya   Apa yang Harus Anda Lakukan? Para ahli masih mencari berbagai kemungkinan pengobatan untuk mengatasi kecanduan makanan. Mereka menduga bahwa kecanduan makanan lebih sulit diatasi daripada kecanduan lainnya karena anda tetap harus makan untuk tetap sehat. Berkonsultasilah dengan dokter atau ahli gizi anda mengenai hal-hal yang dapat anda lakukan untuk menghentikan kecanduan anda dan obat-obatan apa yang dapat membantu anda.   Sumber: webmd    
 24 Aug 2015    20:00 WIB
Benarkah Kecanduan Pornografi Tidak Ada?
Dari Will Young sampai David Duchovny, banyak selebriti mengakui dirinya adalah seorang pecandu pornografi. Tetapi penelitian terbaru mengungkapkan jika tidak ada bukti yang kuat untuk menunjukkan jika kecanduan pornografi benar-benar ada. Dr David Ley, seorang klinikal psikologis dan Executive Director of New Mexico Solutions, sebuah  program kesehatan mengenai perilaku, telah mengkaji penelitian tentang kecanduan pornografi telah menemukan bahwa hanya 37% dari artikel penelitian tentang penggunaan berlebihan pornografi menggambarkannya sebagai kecanduan. Dia juga menemukan bahwa hanya 27 persen dari artikel pada subjek berisi data aktual.  Akibatnya, ia menyimpulkan bahwa percobaan yang dilakukan membawa ke topik yang disusun dengan buruk dan sulit untuk dibuktikan. Sebagai konsekuensinya, Dr David Ley menyimpulkan bahwa sangat sedikit bahkan tidak ada bukti actual yang bisa ditemukan untuk menunjukkan jika kecanduan ini benar-benar ada. Dr David Lay juga menambahkan  bahwa kecanduan pornografi juga tidak disertakan dalam versi terbaru dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental karena kurangnya data ilmiah.  Panduan ini diterbitkan oleh American Psychiatric Association dan dianggap sebagai 'kitab suci' dari ilmu kesehatan jiwa. Dr Ley juga menemukan tidak ada bukti yang menunjukkan ada efek samping negatif dari menonton porno berlebihan. Dia mengatakan tidak ada tanda-tanda bahwa itu terkait dengan disfungsi ereksi atau bahwa perubahan otak pengguna. Sebaliknya, Dr Ley mengatakan pornografi dapat meningkatkan sikap terhadap seksualitas, meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kenikmatan dalam hubungan jangka panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang mengklaim memiliki kecanduan porno biasanya laki-laki, tidak heteroseksual dan memiliki libido tinggi.  Mereka juga sering memiliki nilai-nilai agama yang bertentangan dengan keinginan seksual mereka. Kita perlu metode yang lebih baik untuk membantu orang-orang yang berjuang dengan penggunaan pornografi sebagai rangsangan seksual visual dengan frekuensi tinggi, tanpa menganggapnya sebagai kelainan jiwa", tulis Dr Ley. "Alih-alih membantu pasien yang mungkin berjuang untuk mengontrol melihat gambar yang bersifat seksual, konsep "kecanduan pornografi"  tampaknya hanya memberi makanan empuk untuk industri dengan keuntungan sekunder dari penerimaan ide tersebut. Baca juga: Kenapa Wanita Tidak Suka Film Porno  Sumber: dailymail  
 26 Jul 2015    18:00 WIB
Menonton TV Yang Baik Membentuk Perilaku Yang Lebih Baik
Menurut sebuah penelitian menonton televisi dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Sehingga sangat penting untuk Anda sebagai orangtua memperhatikan tontonan yang di lihat oleh anak Anda. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Pediatrics Journal mengungkapkan bahwa anak-anak prasekolah menghabiskan waktu lebih sedikit untuk menonton program acara yang menampilkan kekerasan apabila anak didukung untuk menonton tontonan pendidikan yang mendidik dan bermutu.  Ada sekitar 820 keluarga yang terdaftar dalam penelitian tersebut dan tidak ada perbedaan waktu dalam menonton televisi. Dr Dimitri Christakis dari Seattle Children Research Institute dan rekan-rekannya  mengatakan, "Kami menunjukkan bahwa mengubah kebiasaan menonton anak-anak usia prasekolah dapat secara signifikan meningkatkan kompetensi sosial dan emosional mereka secara keseluruhan dan bahwa anak yang berasal dari orang tua yang berpenghasilan rendah menerima manfaat terbesar”. Dia menambahkan, "Meskipun televisi sering dikaitkan sebagai penyebab dari banyak masalah pada anak-anak, namun berdasarkan penelitian kami menunjukkan bahwa menonton televisi juga dapat menjadi sebuah solusi." Orang tua harus memperhatikan kode dari sebuah program televisi untuk menentukan konten acara, apakah ada kekerasan, tontonan yang serampangan. Ditemukan bahwa anak-anak yang diperhatikan pola tontonannya menunjukkan perilaku kurang agresif dan perilaku yang lebih positif berbeda dengan kelompok yang tidak terkontrol tontonannya. Efek ini dapat berubah dalam 12 bulan. The American Academy of Pediatrics menyarankan untuk para orang tua mengijinkan anak-anak mereka untuk menonton televisi hanya sekitar dua sampai tiga jam dalam sehari.  Menurut Dr Claire McCarthy, seorang dokter anak di Rumah Sakit Anak Boston, sangat penting untuk mendidik orang tua dan anak-anak tentang efek buruk akibat menonton program agresif dan kekerasan. Hal ini akan berdampak pada perilaku anak. Dr Robert Hancox dari Universitas Otago dan rekan-rekannya mengatakan, "Berdasarkan pengetahuan kami, ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan hubungan jangka panjang antara menonton televisi dan berbagai perilaku antisosial." Sumber: medindia