Your browser does not support JavaScript!
 17 Jun 2016    11:00 WIB
Apakah Saya Mengalami Sirosis (Pengerasan) Hati?
Satu-satunya pemeriksaan terbaik untuk menentukan diagnosa sirosis adalah biopsi hati. Akan tetapi, biopsi hati tetap memiliki sedikit komplikasi berat yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, biopsi hari baisanya hanya dilakukan bila dokter tidak dapat menentukan diagnosis gangguan hati dengan jelas. Untuk menentukan diagnosa sirosis hati, selain melakukan biopsi hati, dokter juga dapat menentukan diagnosa sirosis hati dengan melakukan beberapa pemeriksaan lainnya seperti di bawah ini.Menanyakan Riwayat Kesehatan PenderitaSaat menanyakan riwayat kesehatan penderita, dokter mungkin dapat menemukan ada tidaknya riwayat penggunaan alkohol dalam waktu lama dan jumlah banyak, penyalahgunaan obat-obatan, atau apakah penderita pernah menderita hepatitis sebelumnya.Penderita yang pernah menderita hepatitis B atau C memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami sirosis hati. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan PerutBeberapa penderita yang menderita sirosis dapat mengalami pembesarah hati dan atau limpa. Pembesaran ini dapat dirasakan oleh dokter saat melakukan pemeriksaan (palpasi) pada daerah perut penderita, yaitu pada perut kanan atas, tepat di bawah iga kanan (merasakan hati yang membesar) dan pada perut kiri atas, tepat di bawah iga kiri (merasakan limpa yang membesar). Hati yang mengalami sirosis juga dapat terasa lebih keras dan memiliki permukaan yang lebih tidak rata (berbenjol-benjol) daripada hati normal. TelangiektasisBeberapa penderita sirosis hati, terutama sirosis akibat alkohol mengalami pelebaran pembuluh darah kecil pada kulit (telangiektasis) yang rampak seperti laba-laba dan berwarna merah. Keadaan ini terutama ditemukan pada daerah dada. Telangiektasis ini juga dapat ditemukan pada orang yang tidak menderita gangguan hati apapun. JaundiceJaundice merupakan suatu keadaan di mana kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan akibat peningkatan kadar bilirubin di dalam darah. Jaundice sering ditemukan pada penderita sirosis dan berbagai gangguan hati lainnya selain sirosis, serta pada gangguan kesehatan lain (hemolisis, yaitu pemecahan sel darah merah secara berlebihan). AscitesAscites merupakan pembengkakan daerah perut. Sementara itu, edema merupakan pembengkakan daerah kaki dan atau tangan. Baik ascites maupun edema terjadi akibat penumpukkan cairan di dalam tubuh yang sering terjadi pada penderita sirosis hati dan gagal jantung kongestif.Pemeriksaan RadiologiBila pada pemeriksaan endoskopi ditemukan varises esofagus, maka hal ini dapat membuat dokter menduga telah terjadinya sirosis hati. CT scan perut atau MRI perut atau USG perut juga dapat dilakukan untuk membantu diagnosa sirosis hati, yaitu dengan cara melihat adanya pembesaran hati, permukaan hati yang tampak berbenjol-benjol, pembesaran limpa, dan penumpukkan cairan pada rongga perut.Selain itu, CT scan, MRI, dan USG perut juga dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker hati (karsinoma hepatoselular) yang sering terjadi pada penderita sirosis.Pemeriksaan LaboratoriumSirosis hati tahap lanjut dapat menyebabkan penurunan kadar albumin di dalam darah dan menurunnya kadar faktor-faktor pembekuan darah akbiat hilangnya kemampuan hati untuk memproduksi berbagai protein tersebut. Oleh karena itu, penurunan kadar albumin di dalam darah atau adanya perdarahan abnormal juga dapat merupakan penanda terjadinya sirosis hati. Peningkatan enzim-enzim hati seperti SGOT dan SGPT di dalam darah menandakan adanya peradangan atau cedera pada hati akibat berbagai hal, termasuk sirosis hati. Peningkatan kadar zat besi di dalam darah mungkin diakibatkan oleh hemokromatosis, yaitu suatu penyakit akibat kelainan genetika yang menyebabkan gangguan metabolisme zat besi pada hati yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis. Pemeriksaan kadar antibodi di dalam darah juga dapat menjadi penanda terjadinya hepatitis autoimun atau sirosis bilier primer, yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati.Sumber: medicinenet
 25 Sep 2015    18:00 WIB
Sehat Atau Enggak Bisa Dilihat Dari Tinja Lho!
Selain seks, hal lainnya yang juga merupakan hal yang sangat privasi bagi setiap orang adalah saat buang air besar! Akan tetapi, tahukah Anda bahwa sisa makanan Anda tersebut ternyata juga dapat memberitahu berbagai gangguan kesehatan yang Anda miliki? Adanya perubahan pada bentuk, konsistensi, dan frekuensi pembuangan zat sisa Anda tersebut; dapat merupakan gejala dari beberapa penyakit seperti penyakit Crohn, irritable bowel syndrome, kanker usus besar, atau penyumbatan (obstruksi) usus. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal mengenai tinja yang ternyata ada hubungannya dengan keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan.   Baca juga: Perubahan Warna Pada Tinja, Berbahayakah?   BAB yang Lancar Adalah Sebuah Berkah Sebenarnya berapa kali buang air besar yang normal setiap harinya? Menurut para peneliti di Jepang, rata-rata pria sehat buang air besar 1 kali sehari. Akan tetapi, bukan berarti setiap orang sehat pasti hanya buang air besar 1 kali setiap harinya, Hal ini dikarenakan aktivitas sistem pencernaan setiap orang berbeda. Karena pergerakan usus besar setiap orang sedikit berbeda, maka frekuensi normal BAB setiap orang pun dapat bervariasi, mulai dari 3 kali sehari hingga 3 kali seminggu. Yang perlu dikhawatirkan adalah bila kebiasaan buang air besar Anda tiba-tiba berubah, baik dalam hal konsistensi, bentuk, maupun frekuensi. Bentuk dan konsistensi tinja yang normal adalah berbentuk seperti rangkaian sosis lunak. Tinja yang lebih keras atau lebih lunak daripada ini dapat merupakan tanda adanya suatu gangguan pada pencernaan Anda seperti irritable bowel syndrome, penyakit Crohn, obstruksi usus, kanker usus besar, atau bahkan kanker lambung.   Diare Dapat Disebabkan Oleh Banyak Hal Segala sesuatu, mulai dari makanan hingga berbagai jenis obat-obatan dapat memicu terjadinya perubahan kadar hormonal dan refleks saraf yang dapat mengaktivasi kerja usus Anda (membuat usus Anda bergerak lebih cepat). Bila Anda langsung mengalami diare saat mengkonsumsi suatu makanan tertentu, maka hal ini dapat merupakan pertanda bahwa Anda mengalami suatu reaksi alergi terhadap makanan tersebut. Selain itu, merasa stress juga dapat memicu terjadinya peningkatan kerja usus, yang membuat Anda lebih sering buang air besar alias diare.   Jangan Remehkan Rasa Nyeri di Bokong Berbeda dengan beberapa bagian tubuh lainnya yang dapat mengalami gangguan tanpa menimbulkan gejala apapun, bokong Anda pasti menimbulkan suatu gejala bila ada suatu gangguan di dalamnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan anus (dubur) dan area sekitarnya merupakan bagian paling sensitif pada tubuh Anda, di mana anus harus dapat membedakan antara gas, cairan, dan benda padat untuk menentukan mana yang boleh dikeluarkan dan mana yang tidak boleh dikeluarkan.   Tinja yang Tidak Berwarna Kecoklatan Tidaklah Normal Warna tinja yang sedikit berubah biasanya masih termasuk normal, terutama bila masih berada dalam kisaran warna kecoklatan. Akan tetapi, bila warnanya berubah menjadi warna lainnya, maka Anda pun perlu mengingat-ingat makanan apa saja yang telah Anda makan sehingga warna tinja Anda berubah. Beberapa jenis makanan yang dapat mengubah warna tinja Anda adalah bit, bayam, buah naga, dan berbagai jenis makanan lainnya yang mengandung pewarna makanan. Akan tetapi, warna tinja Anda mungkin tidak akan sama dengan warna makanan yang Anda konsumsi karena adanya campuran dari enzim pencernaan yang dapat mengubah warna. Selain makanan, beberapa jenis obat-obatan juga dapat mengubah warna tinja Anda seperti antasida, beberapa jenis antibiotika, dan pengobatan tuberkulosis. Akan tetapi, perubahan warna pada tinja ini juga dapat disebabkan oleh suatu gangguan kesehatan seperti radang usus besar, perdarahan lambung, penyakit Crohn, atau bahkan kanker usus besar. Oleh karena itu, perhatikanlah bentuk, warna, konsistensi, dan frekuensi buang air besar Anda setiap harinya.   Posisi BAB yang Salah Picu Sembelit Anda tentunya telah sering melihat desain toilet modern sekarang ini bukan? Sekarang ini, kloset jongkok telah banyak digantikan oleh kloset duduk untuk alasan kenyamanan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hal tersebut justru membuat proses buang air besar Anda menjadi lebih sulit? Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Jepang, orang yang buang air besar dengan posisi jongkok dapat melakukan kegiatan pribadinya tersebut dengan lebih baik dan tidak terlalu sulit dibandingkan dengan orang yang melakukan hal tersebut dalam posisi duduk. Hal ini dikarenakan pada posisi jongkok, posisi usus besar Anda akan menjadi lurus sehingga tinja pun lebih mudah dikeluarkan.   Sering Menahan Keinginan BAB Justru Sebabkan Sembelit Tahukah Anda bahwa saat Anda menahan keinginan Anda untuk buang air besar, maka rektum, suatu bagian usus besar akan mengembalikan tinja yang sebenarnya akan dikeluarkan tersebut ke dalam usus sigmoid, di mana proses penyerapan cairan dari dalam tinja akan kembali terjadi sehingga tinja pun menjadi lebih keras. Oleh karena itu, pastikan Anda tidak menahan keinginan Anda untuk BAB bila memungkinkan sehingga resiko terjadinya wasir, robekan anus, dan divertikulosis pun dapat menurun.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: menshealth