Your browser does not support JavaScript!
 01 Aug 2019    08:00 WIB
Ini Cara Membersihkan Pusar Yang Tepat
Tahukah Anda bahwa kotoran pada pusar Anda ternyata merupakan campuran antara bakteri, kotoran, keringat, sabun, lotion, dan serat pakaian? Hal ini berarti pusar Anda merupakan bagian tubuh yang juga perlu dibersihkan setiap harinya. Pusar Anda tidak tampak terlalu kotor jadi tidak perlu dibersihkan bukan? Menurut sebuah penelitian dari North Carolina State University, walaupun pusar Anda tidak tampak terlalu kotor, akan tetapi sebagian besar pusar "dipenuhi" dengan 67 jenis bakteri yang berbeda. Pusar yang jarang dibersihkan dapat mengeluarkan bau tidak sedap dan bahkan dapat mengalami infeksi. Infeksi pada pusar biasanya akan membuat kulit di area pusar dan sekitarnya menjadi kemerahan, gatal, dan tampak bersisik. Proses pembersihan ini sangat penting, terutama bagi Anda yang memiliki anting tindik di daerah pusar. Selain itu, walaupun sangat jarang, terkadang dapat terjadi pertumbuhan suatu jaringan pada pusar yang berbentuk seperti batu. Jaringan ini disebut dengan omfalolit atau umbolit. Jaringan ini dapat tumbuh besar hingga menutupi seluruh pusar dan dapat mengalami infeksi, meradang, bahkan menjadi luka terbuka (ulkus).   Baca juga: Cara Tepat Membersihkan Kotoran Telinga!   Jadi bagaimana cara tepat membersihkan pusar Anda setiap harinya agar terhindar dari infeksi dan bau tidak sedap? Bila pusar Anda tampak menonjol keluar, maka yang Anda perlukan hanyalah mandi secara teratur setiap harinya atau membersihkan pusar Anda dengan handuk bersih yang telah dibasahi dengan campuran air dan sabun. Akan tetapi, bila pusar Anda tampak masuk ke dalam, maka Anda mungkin perlu membersihkannya setidaknya 1 kali seminggu dengan menggunakan cotton bud yang telah dibahasi dengan campuran air dan sabun atau Anda juga dapat menggunakan alkohol. Bila cara di atas tidak juga berhasil membersihkan kotoran atau mengurangi bau tidak sedap pada pusar Anda, maka Anda mungkin perlu segera mencari pertolongan medis dengan mengunjungi seorang dokter terdekat, karena pusar Anda mungkin telah mengalami infeksi dan perlu pengobatan yang tepat.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya Dokter sekarang . Sumber: womenshealthmag
 04 Jul 2019    11:00 WIB
Petani, Buruh dan Penggembala Rentan Terkena Infeksi Mycetoma
Halo para follower setia Dokter.ID! Kita berjumpa kembali dengan pembahasan penyakit yang tidak kalah menarik dengan yang sebelumnya. Yaitu penyakit bernama Mycetoma. Dan seperti biasanya kita perlu mengetahui terlebih dahulu definisi dari penyakit ini. Mari kita perdalam! Mycetoma adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri dan jamur yang ditemukan di tanah dan air. Bakteri dan jamur ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit, sering pada kaki orang tersebut. Infeksi yang dihasilkan menyebabkan massa yang kuat, biasanya tidak sakit tetapi melemahkan di bawah kulit yang akhirnya dapat mempengaruhi tulang yang mendasarinya. Mycetoma dapat disebabkan oleh bakteri (actinomycetoma) atau jamur (eumycetoma). Jumlah orang dengan mycetoma di seluruh dunia tidak diketahui, tetapi ada 8.763 kasus yang dilaporkan dalam tinjauan artikel ilmiah tahun 2013 antara tahun 1950 dan 2013. Jumlah kasus aktual kemungkinan jauh lebih tinggi. Mycetoma umumnya menyerang orang dewasa muda, khususnya pria berusia antara 20 dan 40 tahun, sebagian besar di negara berkembang. Orang-orang dengan status sosial ekonomi rendah dan pekerja manual seperti petani, buruh dan penggembala adalah yang paling parah terkena dampaknya. Mycetoma mempengaruhi orang-orang dari segala usia. Penyakit ini terutama menyerang orang-orang miskin di daerah pedesaan Afrika, Amerika Latin, dan Asia yang terletak di dekat khatulistiwa Bumi dan memiliki iklim kering. Mycetoma jarang dilaporkan di Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir. Sebuah tinjauan literatur dari tahun 1890 hingga 2014 menunjukkan kurang dari 80 kasus terjadi di AS. Wisatawan dari Amerika Serikat ke daerah di mana mycetoma dilaporkan berisiko rendah terkena mycetoma. Ini karena pengembangan mycetoma memerlukan berulang kali mengekspos kulit yang rusak ke tanah dan air yang mengandung mikroba yang menyebabkan mycetoma, dalam jangka waktu yang lama. Lesi awal mycetoma mungkin berupa papula, nodul subkutan terfiksasi, vesikel dengan basis indurated, atau abses subkutan yang pecah membentuk fistula pada permukaan kulit. Fibrosis sering terjadi pada dan di sekitar lesi awal. Kelembutan minimal atau tidak ada kecuali terdapat superinfeksi bakteri supuratif akut. Infeksi berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, secara bertahap meluas ke dan menghancurkan otot, tendon, fasia, dan tulang yang berdekatan. Tidak ada penyebaran sistemik maupun gejala dan tanda yang menunjukkan infeksi menyeluruh. Akhirnya, pengecilan otot, deformitas, dan penghancuran jaringan mencegah penggunaan anggota tubuh yang terkena. Pada infeksi lanjut, ekstremitas yang terlibat tampak sangat bengkak, membentuk massa daerah kistik berbentuk klub. Saluran sinus dan fistula multipel yang menguras dan berkomunikasi di area ini mengeluarkan eksudat yang tebal atau serosanguineous yang mengandung butiran karakteristik, yang mungkin berwarna putih atau hitam. Dalam pengobatan mycetoma, terapi antibiotik atau antijamur harus dicoba terlebih dahulu dan mungkin perlu dikombinasikan dengan pembedahan, terutama untuk lesi eumycetoma di ekstremitas. Radioterapi sinar eksternal dalam dosis mulai dari 3,5-14 Gy telah dianggap berhasil dalam beberapa kasus tertentu. Organisme penyebab dapat dideteksi dengan memeriksa biopsi jaringan bedah serta keluarnya lesi sinus. Baik drainase spontan dan material yang diekspresikan secara manual dari sinus harus diperiksa dengan cermat secara makro dan mikroskopis untuk memvisualisasikan butir, dengan menggunakan alat diagnostik. Dan Identifikasi dengan reaksi berantai Polymerase (PCR) adalah metode yang paling dapat diandalkan. Belum ada program pencegahan atau kontrol untuk mycetoma. Mencegah infeksi sulit dilakukan, tetapi orang yang tinggal di atau bepergian ke daerah endemis disarankan untuk tidak berjalan kaki tanpa alas kaki. Demikianlah pembahasan kita pada hari ini tentang penyakit Mycetoma, jika ada diantara kita, kerabat atau kenalan kita yang terserang Mycetoma, segera pergi ke perawat kesehatan atau dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Salam sehat!   Sumber : emedicine.medscape.com, www.who.int, www.cdc.gov, www.msdmanuals.com, www.dovepress.com, www.ncbi.nlm.nih.gov, www.dndi.org
 07 Jun 2019    16:00 WIB
Cara Atasi Iritasi Daerah Miss V
Daerah miss V merupakan daerah yang sangat sensitif, bila Anda tidak merawat dengan baik daerah vagina akan mudah mengalami iritasi. Hampir semua wanita pernah mengalami iritasi pada daerah vaginanya. Iritasi pada daerah vagina bisa sangat mengganggu, rasanya yang mungkin perih namun mau periksa ke dokter merasa enggan. Ada beberapa hal penyebab dari iritasi pada vagina seperti kurang menjaga kebersihan daerah vagina, sering menggunakan sabun pembersih kewanitaan yang mengandung deterjen, tidak mengganti pakaian dalam, tidak sering mengganti pembalut, menggunakan pakaian dalam yang bahannya kasar. Nah agar organ intim Anda tidak lagi mengalami iritasi, berikut ini cara yang dapat Anda ikuti: Ganti pakaian dalam Anda Vagina sangat sensitif bila dalam keadaan basah, usahakan selalu agar daerah sana kering dan tidak lembab. Menurut WH penasihat Shari Brasner, MD, asisten profesor ginekologi klinis di Mount Sinai School of Medicine untuk itu gantilah pakaian dalam Anda, gunakan yang berbahan katun, mudah menyerap keringat dan tidak mudah lembab. Hindari penggunaan bahan kimia Sebaiknya Anda menghindari menggunakan produk yang mengandung bahan kimia seperti pembalut, celana dalam dari bahan sintetis yang ketat, kondom, sabun mandi, sabun pembersih kewanitaan dan tisu toilet wangi yang digunakan untuk membersihkan daerah kewanitaan, semua itu bisa menyebabkan iritasi dan gatal-gatal di vagina. Sebaiknya Anda mencari produk yang sesuai dengan kulit vagina Anda, perhatikan penggunaan produk tersebut apakah membuat iritasi atau tidak, bila iya hentikan penggunaan. Oleskan salep Terlalu keras saat membersihkan daerah vagina dan hubungan seks yang dilakukan dengan cepat juga bisa membuat iritasi daerah sekitar vagina. Anda bisa menggunakan salep yang mengandung petroleum jelly yang dapat membantu melindungi dan menyembuhkan daerah vagina yang mengalami iritasi. Menyembuhkan infeksi Vagina yang gatal adalah ciri dari terjadinya infeksi jamur. Untuk mengatasinya menggunakan krim antijamur atau supositoria yang dimasukkan kedalam vagina. Hubungi dokter Anda. Bila Anda merasakan rasa sangat tidak nyaman didaerah vagina, seperti timbul rasa nyeri, rasa terbakar. Kemungkinan terjadi infeksi yang harus diberikan antibiotik dibawah pengawasan dokter. Biasanya dokter akan memeriksa apakah Anda terinfeksi penyakit menular seksual atau tidak. Beberapa penyakit menular seksual seperti klamidia, herpes, trikomoniasis, dan gonore dapat menyebabkan iritasi vagina. Secara keseluruhan, iritasi pada vagina umumnya dapat dicegah dengan menjaga kebersihan organ intim. Jaga selalu kesehatan organ intim Anda, karena organ intim ini merupakan aset yang harus dijaga selalu kesehatannya. Baca juga: 11 Tips Untuk Menjaga Kesehatan Vagina Anda Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: womenshealthmag
 15 Dec 2018    08:00 WIB
Gejala dan Pencegahan Bakteri E Coli (Part 2)
Apa saja gejala-gejala yang disebabkan oleh Bakteri E.Coli. Kita mungkin akan mulai merasa sakit 2 hingga 5 hari setelah kita terjangkit bakteri E. coli. Gejala yang paling umum adalah: Kram perut. Diare, dan mungkin mengalami pendarahan. Mual. Kelelahan konstan. Kita mungkin tidak terserang demam. Jika kita mengalami demam biasanya tidak parah. Orang yang dalam keadaan sehat dan terinfeksi bakteri E. coli, biasanya akan merasa lebih baik dalam seminggu. Tetapi beberapa orang juga bisa mengalami komplikasi yang cukup serius, yang disebut sindrom Uremik Hemolitik (SHU), yaitu suatu penyakit yang dicirikan oleh anemia hemolitik, gagal ginjal akut (uremia) dan menurunnya jumlah keping darah (trombositopenia). Kebanyakan kasus penyakit ini didahului oleh gejala diare yang disebabkan oleh Bakteri E. coli O157:H7. Gejala ini lebih mungkin terjadi pada manula dan anak-anak. Tindakan atau langkah apa yang harus dilakukan ketika kita menderita Bakteri E.Coli? Ketika kita mengalami gejala-gejala di atas, satu-satunya cara agar dokter kita dapat mengetahui dengan pasti, apakah kita memiliki infeksi Bakteri E. coli atau tidak adalah dengan melakukan tindakan, pengambilan sampel tinja kita ke laboratorium untuk dianalisis. Untungnya, infeksi bakteri E.Coli biasanya hilang dengan sendirinya. Untuk beberapa jenis E.coli yang terkait dengan diare, seperti mencret, antibiotik dapat meringankan gejala yang kita alami dan mungkin digunakan dalam kasus yang cukup parah. Tetapi jika kita mengalami demam, diare berdarah atau jika dokter sudah menyatakan bahwa kita positif terinfeksi bakteri E. coli penghasil racun Shiga, antibiotik tidak boleh dikonsumsi. Karena antibiotik malah dapat meningkatkan produksi toksin Shiga dan memperburuk gejala kita. Sangat penting untuk beristirahat total dan mendapatkan banyak cairan pengganti, karena ketika kita mengalami muntah atau diare. Kita banyak kehilangan cairan tubuh. Jangan mengkonsumsi obat bebas yang melawan diare. Karena kita tidak ingin memperlambat sistem pencernaan kita, karena itu akan menunda pemulihan tubuh kita dari infeksi. Ketika kita mulai merasa lebih baik, tetap mengkonsumsi makanan yang rendah serat, seperti: Biskuit. Roti panggang. Telur. Nasi. Perlu kita ingat, bahwa berbagai jenis produk yang mengandung susu dan makanan yang tinggi lemak atau serat dapat memperburuk gejala kita. Pencegahan apa yang dapat kita lakukan: Salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan untuk melindungi diri kita dan keluarga kita dari serangan bakteri E. coli adalah sering mencuci tangan kita dengan bersih, jadikanlah kebiasaan baik ini bagian dari kehidupan kita, terutama saat kita berada dalam situasi-situasi di bawah ini: Sebelum kita menyiapkan makanan. Sebelum menyiapkan minuman dalam botol atau wadah makanan untuk bayi atau balita. Sebelum menyentuh apa pun, seperti empeng, yang masuk ke mulut anak kecil. Setelah kita menggunakan kamar mandi atau mengganti popok. Setelah kita bersentuhan dengan hewan, bahkan hewan peliharaan kita sendiri. Setelah menangani atau mengolah daging mentah. Kita juga dapat mencegah infeksi bakteri E. coli, dengan berhati-hati dalam memilih atau mengolah makanan, yang membawa peluang terbesar untuk kontaminasi bakteri ini: Masak hamburger atau daging giling (olahan) sampai matang. Minumlah hanya susu, jus, dan sari yang dipasteurisasi. Cuci bersih semua bahan-bahan mentah seperti, sayur dan buah, sebelum kita memakannya. Cuci bersih semua pisau, alat timbang, talenan dan alat apapun yang bersentuhan dengan bahan-bahan mentah dari pasar, terutama daging mentah, dengan air sabun hangat. Saat kita berenang, cobalah untuk tidak tertelan airnya, entah itu air kolam, danau, atau lautan. Karena kemungkinan besar air-air disana tercemar bakteri.   Sumber : www.webmd.com
 11 Dec 2018    16:00 WIB
Kenali Penyebab Terinfeksi Bakteri E Coli (Part 1)
Halo sahabat! Mungkin  kita pernah dengar nama Bakteri E.Coli, tapi apa kita tahu dari mana asalnya? Penyebabnya? Gejalanya? dan sakit yang ditimbulkannya? Hmm… mungkin dari namanya yang singkat terdengar biasa saja, tapi tidak pada dampak yang ditimbulkannya. Yuk…cari tahu. Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Bakteri ini ditemukan oleh Theodor Escherich, (29 November 1857 - 15 Februari 1911, seorang dokter anak, berdarah Jerman-Austria dan seorang profesor di universitas di Graz dan Wina). Bakteri ini dapat ditemukan di dalam usus besar manusia. Dan juga terdapat di dalam usus beberapa jenis hewan. Kebanyakan jenis E. coli tidak berbahaya, dan bahkan membantu menjaga saluran pencernaan kita tetap sehat. Terkecuali untuk jenis bakteri E. Coli tipe O157:H7, bakteri E.Coli jenis ini dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. Seperti diare berdarah. Hal ini terjadi ketika makanan atau minuman kita kotor dan terkontaminasi bakteri tipe ini. Kebanyakan dari kita berpikir, jika terserang bakteri ini, kita akan mengalami diare. Bisa dibilang ini adalah pengetahuan umum yang standar. Memang benar dari beberapa jenis bakteri E.Coli bisa menyebabkan diare yang berkepanjangan, tetapi tidak cukup sampai disana. Kita juga bisa menderita gejala lainnya seperti pneumonia, masalah pernapasan, dan infeksi saluran kemih dari serangan bakteri E.Coli ini. Faktanya, 75% hingga 95% infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri E. coli. Beberapa jenis bakteri E. coli, ada yang dapat menghasilkan racun, yang disebut racun Shiga. Toksin ini merusak lapisan usus kita. Bakteri E. coli yang membuat toksin ini disebut STEC (Shiga toxin-producing E. coli)  yaitu "E. coli penghasil racun Shiga." Salah satu tipe bakteri E.Coli ini adalah O157: H7, bakteri ini dapat membuat kita sangat sakit. Karena bakteri ini menyebabkan kram perut, muntah, dan diare berdarah. Ini juga yang menjadi penyebab utama gagal ginjal akut pada anak-anak. Bakteri E.Coli tipe ini juga dapat menyebabkan gejala yang mengancam nyawa, seperti: Gagal ginjal pada orang dewasa. Demam. Pendarahan. Kebingungan. Kejang. Kita harus segera mendapatkan bantuan darurat jika kita memiliki gejala-gejala ini. Penyebab-penyebabnya antara lain: Daging giling: kita memakan daging giling yang mengandung E. coli, dan dagingnya tidak cukup matang untuk membunuh bakteri. Ketika daging diproses, terkadang bakteri dari usus hewan masuk ke dalam daging. Ini terjadi lebih banyak dengan daging giling, karena daging giling berasal lebih dari satu hewan. Susu yang tidak diolah dengan baik: kita meminum susu yang tidak dipasteurisasi, yang belum dipanaskan untuk membunuh bakteri. Sedang bakteri E. coli dapat masuk ke dalam susu yang berasal dari kambing, sapi atau dari peralatan pemerah susu yang tidak steril. Sayuran dan buah: kita mungkin mengkonsumsi sayuran atau buah segar yang telah tercemar air yang mengandung bakteri E.Coli. Hal ini paling sering terjadi ketika pupuk yang berasal dari hewan, tempatnya berdekatan dan suplaian airnya menjadi satu. Makanan dan minuman lain: kita juga dapat menderita bakteri E. coli ini, dari jus buah yang tidak dipasteurisasi, yogurt dan keju yang terbuat dari susu mentah. Air: Kita menelan air yang mengandung bakteri E. coli, mungkin saat berenang di kolam renang, danau, atau kolam. Orang lain: Kita bisa terkena bakteri E. coli dari orang lain yang terjangkit bakteri ini, terutama anak kecil, mereka sangat rentan terhadap penyakit ini. Ketika kita sedang membersihkan kotoran dari tubuh seseorang yang terinfeksi bakteri ini dan kita tidak mencuci tangan kita dengan bersih lalu menyentuh mulut kita, kita akan terkontaminasi bakteri E.Coli. Hewan: Ini dapat ditemukan di kebun binatang atau binatang-binatang yang ada di pameran. Kita juga dapat mencemari makanan di dapur pribadi kita, jika kita tidak mencuci bersih talenan atau pisau yang menyentuh daging mentah (seperti ayam, sapi atau kambing). Lalu alat-alat yang tidak bersih itu bersentuhan dengan makanan yang akan dimakan mentah, seperti sayur, buah atau salad.   Sumber : www.webmd.com
 09 Jul 2018    11:00 WIB
Penyebab Terjadinya Infeksi Jamur Miss V
Miss V atau vagina merupakan aset penting yang harus dipelihara oleh seorang wanita. Seringkali masalah yang dialami pada seorang wanita adalah terjadinya infeksi jamur. Agar terhindar dari masalah infeksi jamur. Sebaiknya Anda mengetahui penyebab infeksi jamur. Penyebab terjadinya infeksi jamur vagina: Antibiotik Penggunaan obat antibiotik adalah salah satu penyebab paling umum dari infeksi jamur vagina. Antibiotik dan beberapa obat lain mengubah tingkat bakteri dan organisme lain pada vagina - seperti bakteri acidophilus lactobacillus, yang biasanya membantu menjaga sel-sel ragi dalam jumlah yang seimbang.. Obat-obatan juga dapat mengubah keasaman vagina atau "keseimbangan pH" yang memungkinkan ragi untuk tumbuh terlalu cepat. Sehingga mudah terjadi keputihan, alergi, gatl-gatal dan infeksi. Kehamilan. Wanita hamil memiliki tingkat estrogen yang tinggi, yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi jamur selama kehamilan. Kadar hormon Menggunakan terapi penggantian hormon (HRT) atau pil KB dapat menyebabkan perubahan keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama estrogen dan progesteron. Sehingga lebih mudah terjadi infeksi. Kencing manis Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat  menyebabkan infeksi jamur. Sistem kekebalan tubuh yang lemah. HIV atau penyakit lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh dapat mencegah tubuh melawan infeksi jamur. Perawatan vagina yang tidak baik Terlalu sering menggunakan sabun yang terlalu banyak bahan deterjen. Juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi jamur.   Baca juga: Cara Mencegah Terjadinya Infeksi Vagina Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 29 Oct 2017    11:00 WIB
Berbagai Hal Mengenai Demam Yang Harus Anda Ketahui
Demam atau diketahui sebagai peningkatan dari suhu tubuh sebenarnya bukan suatu penyakit. Demam merupakan suatu gejala dari suatu penyakit, paling sering merupakan gejala dari infeksi. Demam biasanya berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik dan kebanyakan orang akan merasa nyaman saat demam diobati. Tetapi pengobatan dan penanganan dari demam sangat bergantung pada usia, kondisi fisik dan penyebab dari demam. Para ahli menyakini sebenarnya demam merupakan cara tubuh untuk melawan infeksi. Selain itu juga ada beberapa kondisi lain yang menyebabkan demam. Demam secara umum tidak dianggap berbahaya, tetapi hipertermia dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh yang berbahaya. Hipertemia berhubungan dengan peningkatan tubuh yang ekstrim yang berhubungan dengan trauma seperti cedera panas seperti heat stroke, efek samping dari obat tertentu dan stroke. Saat hipertemia terjadi, tubuh tidak dapat mengontrol temperatur tubuh. Pada anak-anak dengan demam, sering diikuti gejala lain seperti lemas, cengeng, penurunan nafsu makan, nyeri tenggorokan, batuk, nyeri telinga dan diare, maka sangat penting untuk segera menghubungi dokter. Menurut  the American Academy of Pediatrics, jika bayi Anda yang berusia lebih muda dari 4 bulan dengan suhu rektal 38°C atau lebih tinggi, maka sebaiknya Anda secepatnya menghubungi dokter karena bisa merupakan tanda potensial dari infeksi yang mengancam jiwa. Anda juga harus segera membawa bayi Anda ke dokter atau ke unit gawat darurat segera jika suhu rektalnya 40°C atau lebih. Hubungi dokter Anda jika anak Anda demam disertai gejala: Terlihat sangat sakit Lemas dan sangat cengeng Memiliki sistem imunitas yang lemah atau kondisi medis lainnya Kejang Mempunyai gejala lain seperti muncul ruam, nyeri kepala, leher kaku atau nyeri telinga Penyebab dari demam Bagian dari otak yang disebut hipotalamus berfungsi mengontrol suhu tubuh, yang biasanya bervariasi sepanjang hari, dan temperatur normal adalah 37°C. Walaupun penyebab dari demam biasanya infeksi seperti influensa dan gastroenteritis, penyebab demam lainnya adalah: Infeksi di telinga, paru-paru, kulit, tenggorokan, kandung kemih atau ginjal Kondisi yang menyebabkan inflamasi Efek samping dari obat Kanker Vaksin  Penyebab lain dari demam, adalah: Endapan darah Penyakit autoimun seperti lupus Gangguan hormon seperti hipertiroid Obat-obatan ilegal seperti amfetamin dan kokain Pengobatan untuk demam Pengobatan demam dapat bervariasi tergantung penyebab dari demam. Sebagai contoh, antibiotik dapat digunakan untuk infeksi bakteri, misalnya pada infeksi tenggorokan oleh bakteri streptokokus. Pengobatan paling umum untuk demam termasuk asetaminofen dan obat non steroidal anti inflamasi misalnya ibuprofen dan naproxen. Anak-anak dan remaja tidak boleh mengkonsumsi aspirin sebagai penurun panas karena terkait dengan Sindrom Reye   Sumber: webmd
 30 Sep 2015    20:00 WIB
Kekurangan Bakteri Justru Sebabkan Kelahiran Prematur?
  Menurut sebuah penelitian baru, bakteri di dalam tubuh seorang wanita ternyata dapat menjadi petunjuk mengenai seberapa besar resikonya untuk mengalami persalinan sebelum waktunya (kelahiran prematur). Para peneliti menemukan bahwa wanita hamil (peserta penelitian) yang memiliki kadar Lactobacillus (sejenis bakteri) yang lebih rendah pada vaginanya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan sebelum waktunya dibandingkan dengan wanita yang memiliki cukup banyak bakteri tersebut pada vaginanya. Hal ini dikarenakan bakteri baik tersebut akan digantikan oleh 2 jenis bakteri lainnya yaitu Gardnerella dan Ureaplasma, yang justru lebih sering menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.   Baca juga: Bakteri Usus Ibu Dapat Membantu Menambal Kebocoran Sawar Darah Otak Bayi, Benarkah?   Pada penelitian ini, dari 49 orang peserta penelitian, 15 orang di antaranya mengalami persalinan sebelum waktunya. Dari hasil pemeriksaan, para peneliti pun menemukan bahwa komposisi bakteri vagina pada sebagian besar wanita tersebut mengalami perubahan yang cukup drastis pada waktu persalinan terjadi, yaitu jumlah bakteri Lactobacillus menurun dan tempatnya pun digantikan oleh bakteri lainnya setelah proses persalinan. Perubahan ini pun akan berlangsung hingga 1 tahun. Sayangnya, hingga saat ini, para peneliti masih belum dapat memastikan apakah berubahnya komposisi bakteri tersebut yang membuat seorang wanita mengalami persalinan sebelum waktunya atau apakah ada suatu faktor lain yang memicu terjadinya persalinan yang juga menyebabkan terjadinya perubahan komposisi bakteri pada vagina wanita hamil. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa perubahan komposisi bakteri ini terjadi dan apa pengaruhnya terhadap kesehatan para wanita hamil tersebut. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews, livescience