Your browser does not support JavaScript!
 25 Jul 2019    11:00 WIB
Ganja Dapat Sebabkan Kerusakan Sperma
Menurut penelitian yang baru dilakukan penggunaan ganja atau mariyuana dapat mempengaruhi ukuran dan bentuk sperma dari pria, bahkan kemungkinan dapat menyebabkan gangguan fertilitas. Dari data yang dikumpulkan oleh para peneliti di  the University of Sheffield di Inggris menunjukkan bahwa pengguna ganja disarankan untuk mulai menghentikan penggunaan dari ganja jika ingin merencanakan atau memulai berkeluarga dan memiliki anak. Menurut hasil penelitian, penggunaan ganja dapat mempengaruhi ukuran dan bentuk dari sperma. Gangguan pada bentuk dan ukuran sperma ini dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk membuahi sel telur. Banyak pria yang sangat khawatir dengan kondisi ini dan bahkan mencari tahu apa yang menyebabkan kondisi tersebut, sampai bersedia merubah pola hidup yang mungkin dapat menyebabkan kondisi tersebut. Penelitian ini melibatkan hampir 2.000 pria yang mengunjungi salah satu dari ke14 klinik kesuburan dan mereka menjawab berbagai pertanyaan mengenai riwayat kesehatan dan gaya hidup selama ini. Dari antara peserta, sebanyak 310 pria memiliki sperma yang dianggap "abnormal". Dan sebanyak 1.652 pria lain memiliki bentuk sperma yang dianggap "normal". Kemudian pada peneliti mencari tahu bagaimana gaya hidup dapat mempengaruhi ukuran dan bentuk dari sperma dan menemukan beberapa faktor resiko yang mudah dikenali. Walaupun rokok dan juga alkohol mempunyai pengaruh kecil, para peneliti mencatat kedua faktor ini ternyata tidak mempengaruhi bentu sperma pada pria mudah berusia sekitar 30 tahun. Tetapi merokok ganja selama tiga bulan ternyata mempunyai peranan penting dalam merusak kondisi dari sperma. Para peneliti juga mencatat jika ukuran dan bentuk dari sperma pria juga dapat terkait dengan faktor lain yang tidak diukur, misalnya saja faktor DNA. Penelitian sebelumnya yang dilakukan membuktikan bahwa sperma memerlukan ukuran dan bentuk yang baik supaya dapat membuahi sel telur.   Sumber: webmd
 25 Dec 2018    18:00 WIB
Ganja, Baik atau Buruk ?
Ganja barang haram? tetapi disahkan oleh pemerintah. Kok bisa! Yah sahabat, kalau ganja digunakan untuk urusan medis tidak masalah, tapi kalau untuk urusan lain yang tidak jelas, dianggap sebagai tindakan kriminal loh, karena ganja pada dasarnya jika berlebihan bisa merusak tubuh kita. Menurut National Institutes of Health, orang telah menggunakan marijuana, atau ganja, untuk mengobati penyakit mereka setidaknya selama 3.000 tahun. Namun, Administrasi Makanan dan Obat tidak menganggap ganja aman atau efektif dalam perawatan kondisi medis apa pun, meskipun cannabidiol, zat yang ada dalam ganja, menerima persetujuan pada Juni 2018 sebagai pengobatan untuk beberapa jenis epilepsi. Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Addiction juga menemukan bahwa penggunaan ganja meningkat tajam di seluruh Amerika Serikat, meskipun kenaikan ini mungkin tidak terkait dengan legalisasi ganja di negara-negara yang berpartisipasi. Namun demikian, peningkatan penggunaan ini mendorong masalah kesehatan masyarakat yang besar. Sahabat setia Dokter.Id, dalam artikel kali ini, kita akan melihat bukti ilmiah yang membebani manfaat medis ganja terhadap risiko kesehatan terkait dalam upaya untuk menjawab pertanyaan sederhana ini: apakah ganja baik atau buruk? Apa manfaat medis ganja? Selama bertahun-tahun, penelitian telah menghasilkan hasil yang menunjukkan bahwa ganja mungkin bermanfaat dalam perawatan beberapa kondisi. Seperti yang tercantum di bawah ini: Sakit kronis. Tahun lalu, tinjauan besar dari National Academy of Sciences, Engineering, dan Medicine menilai lebih dari 10.000 penelitian ilmiah tentang manfaat medis dan efek buruk ganja. Satu area yang dilihat laporan itu adalah penggunaan mariyuana medis untuk mengobati sakit kronis. Nyeri kronis adalah penyebab utama kecacatan, mempengaruhi lebih dari 25 juta orang dewasa di AS. Kajian ini menemukan bahwa ganja, atau produk yang mengandung cannabinoids - yang merupakan bahan aktif dalam ganja, atau senyawa lain yang bekerja pada reseptor yang sama di otak seperti marijuana - efektif dalam mengurangi rasa sakit kronis. Depresi, gangguan stres pasca-trauma, dan kecemasan. Ulasan yang diterbitkan dalam Clinical Psychology Review menilai semua literatur ilmiah yang diterbitkan, yang menyelidiki penggunaan ganja untuk mengobati gejala penyakit mental. Penulisnya menemukan beberapa bukti yang mendukung penggunaan ganja untuk mengurangi depresi dan gejala gangguan stres pasca-trauma. Kanker. Bukti menunjukkan bahwa kanabinoid oral efektif melawan mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi, dan beberapa penelitian kecil telah menemukan bahwa mariyuana pada rokok juga dapat membantu meringankan gejala-gejala ini. Beberapa penelitian pada sel kanker menunjukkan bahwa cannabinoids dapat memperlambat pertumbuhan atau membunuh beberapa jenis kanker. Multiple sclerosis. Penggunaan jangka pendek cannabinoid oral dapat meningkatkan gejala spastisitas di antara orang-orang dengan multiple sclerosis, tetapi efek positif telah ditemukan menjadi sederhana. Epilepsi. Cannabinoid berperan pada sistem reproduksi (Park, McPartland & Glass, 2003). Pemulihan stress dan menjaga keseimbangan dalam tubuh (Di Marzo V, Melck D, Bisogno T, De Petrocellis L, 1998). Perlindungan sel syaraf (Panikashvili D, Mechoulam R, Beni SM, Alexandrovich A, Shohami E, 2005). Reaksi terhadap stimulus rasa sakit (Cravatt BF, Lichtman AH, 2004). Regulasi aktifitas motorik (Van der Stelt M, Di Marzo V, 2003). Mengontrol fase-fase tertentu pada pemrosesan memori (Wotjak CT, 2005). Berperan dalam modulasi respon kekebalan dan imunitas tubuh (Klein TW, Newton C, Larsen K, Lu L, Perkins I, Nong L, Friedman H, 2003; Massa F, Marsicano G, Hermann H, Cannich A, Monory K, Cravatt BF, Ferri GL, Sibaev A, Storr M, Lutz B, 2004). Bahkan berpengaruh juga dalam sistem kardiovaskular dan pernafasan dengan mengatur detak jantung, tekanan darah dan fungsi saluran pernafasan (Mendizabal VE, Adler-Graschinsky E, 2003).   Jadi, apakah ganja baik atau buruk untuk kesehatan kita? Ada bukti yang menunjukkan baik bahaya dan manfaat kesehatan dari ganja. Namun faktanya banyak ilmuwan dan badan kesehatan - termasuk American Cancer Society (ACS) - mendukung kebutuhan untuk penelitian ilmiah lebih lanjut tentang penggunaan marijuana dan cannabinoids untuk mengobati kondisi medis. Sekalipun ada kendala untuk ini, yaitu ganja digolongkan sebagai zat yang diatur oleh Badan Pemberantasan Narkoba, merekalah yang terkadang menghalangi studi ganja dan cannabinoid melalui pengenaan kondisi ketat pada para peneliti yang bekerja di daerahnya. Jadi jika kita kebetulan tinggal di negara bagian di mana penggunaan medis ganja adalah legal, kita dan dokter kita perlu mempertimbangkan faktor-faktor ini dan bagaimana hal itu terkait dengan penyakit dan riwayat kesehatan kita sebelum menggunakannya. Misalnya, beberapa bukti yang mendukung tentang penggunaan ganja untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi ingatlah untuk selalu berbicara dengan dokter kita. Dan jangan pernah menggunakan ganja untuk urusan lain selain hal medis. Jangan disalah gunakan yah…   Sumber : www.medicalnewstoday.com, indocropcircles.wordpress.com
 07 Aug 2017    18:00 WIB
Ganja Dapat Merusak Struktur Otak Pada Pelajar
Penelitian terbaru mengatakan bahwa pelajar yang menghisap ganja, walaupun hanya sekali dalam seminggu ternyata mengalami abnormalitas dalam hal ukuran, densitasd dan volume. Dua area yang paling banyak dirusak oleh ganja adalah daerah amigdala dan nucleus accumbens, yang merupakan area otak untuk mengatur emosi dan motivasi. Penelitian yang diterbitkan oleh  the Journal of Neuroscience ini menganalisa efek dari ganja pada perokok ganja biasa. Ternyata kerusakan otak banyak ditemukan pada perokok yang menggunakan ganja dengan tujuan rekreasional semata. Banyak diantara mereka yang mengalami kerusakan neurogikal.Banyak orang berpikir jika merokok ganja dengan tujuan rekreasi tidak akan menimbulkan masalah didalam kehidupannya di pekerjaan atau sekolah. Tetapi data yang didapatkan oleh penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini menyertakan 40 pelajar usia 18-25 tahun, dibagi menjadi seberapa sering mereka merokok ganja. Sebelum melakukan pemeriksaan neuroimaging, para peneliti memastikan tidak ada satupun diantara ke 20 peserta yang mengalami kecanduan ganja. Kemudian para peserta ini akan menjalankan sejumlah test mulai dari pengukuran densitas gray matter, pengukuran besar otak dan keseluruhan volume otak. Para peneliti juga membagi dua grup peserta untuk melihat bagaimana ganja mengubah respon motivasi dan emosi dari pemakai. Secara umum para peserta yang merokok ganja mempunyai ukuran nucleus accumbens lebih besar dari rata-rata. Para peneliti menyimpulkan, bahan psikoaktif didalam ganja yaitu tetrahydrocannabinol (THC) merupakan penyebab dari perubahan tersebut. Para peneliti juga menduga proses perubahan otak inilah yang akan mengubah jalan pemikiran seorang perokok rekreasional menjadi pecandu ganja. Para peneliti sudah mengetahui bahwa obat-obatan seperti ganja dapat menyebabkan otak melepaskan hormon dopamin yang akan membuat segala sesuatu terlihat nikmat dan menyenangkan. Bahkan pada orang-orang yang tidak kecanduan nikotin, ganja bisa menjadi masalah, karena secara perlahan mereka akan merasakan kenikmatan dari pelepasan dopamin dan mejadi kecanduan ganja.Sumber: medicaldaily
 06 Aug 2016    12:00 WIB
Konsumsi Ganja Dapat Sebabkan Komplikasi Jantung dan Kematian
Orang muda dan dewasa yang mengkonsumsi ganja dapat meningkatkan terjadinya resiko komplikasi jantung dan pembuluh darah menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association. Menggunakan data tahun 2006-2010 dari the French Addictovigilance Network para peneliti mengidentifikasi 35 kasus jantung dan pembuluh darah yang terjadi karena penggunaan ganja. Para peneliti mengatakan bahwa kebanyakan pasien adalah laki-laki dengan rata-rata usia 34,3 tahun. Kasus ini mempresentasikan bahwa sebanyak 2% dari komplikasi penggunaan ganja termasuk 20 serangan jantung dan sembilan pasien meninggal. Menurut para peneliti, penggunaan ganja dan komplikasi kesehatan yang ditimbulkan kebanyakan tidak dilaporkan. Perancis memiliki 1,2 juta pengguna ganja teratur dan kebanyakan komplikasi tidak dilaporkan oleh the French Addictovigilance System. Publik umum berpikir jika ganja itu tidak berbahaya, tetapi informasi mengenai bahaya potensial yang ditimbulkan oleh ganja harus diungkapkan kepada publik. Para peneliti mencatat orang-orang yang sudah memiliki gejala kelemahan jantung merupakan kelompok yang paling mungkin terkena efek berbahaya dari ganja. Saat ini para peneliti masih mengumpulkan data-data mengenai efek ganja yang berhubungan dengan kerusakan jantung dan pembuluh darah terhadap orang muda. Penelitian ini mengingatkan para dokter, terutama para ahli jantung untuk berhati-hati dan mempertimbangkan kemungkinan penggunaan ganja sebagai penyebab gangguan jantung dan pembuluh darah.Sumber: foxnews
 05 Aug 2016    12:00 WIB
Mitos dan Fakta Mengenai Kanker Paru
1.  Mitos: Bila Anda Telah Lama Merokok, Maka Kerusakan Telah TerjadiFakta: Tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Berhenti merokok hampir selalu memberikan manfaat bagi kesehatan anda seperti perbaikan sirkulasi dan fungsi paru anda. Selain itu, berhenti merokok juga dapat menurunkan resiko terjadinya kanker paru. 10 tahun setelah berhenti merokok, mantan perokok dapat menurunkan resiko kanker paru hingga setengahnya.2.  Mitos: Menghisap Ganja Tidak Meningkatkan Resiko Kanker ParuFakta: Menghisap ganja dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker paru. Selain itu, sebagian besar orang yang menghisap ganja juga merokok. Menghisap ganja membuat anda lebih banyak terpapar oleh tar dan berbagai zat karsinogenik lainnya.3.  Mitos: Suplemen Antioksidan Mencegah Terjadinya KankerFakta: Mengkonsumsi suplemen beta karoten dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker paru pada perokok. Oleh karena itu, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum mengkonsumsi suplemen apapun.4.  Mitos: Merokok Melalui Pipa Cangklong dan Menghisap Cerutu Tidak Menyebabkan Kanker ParuFakta: Merokok melalui pipa cangklong dan menghisap cerutu tidak hanya meningkatkan resiko terjadinya kanker paru, tetapi juga kanker mulut, kanker tenggorokan, dan kanker kerongkongan. Menghisap cerutu juga meningkatkan resiko terjadinya berbagai penyakit jantung dan paru-paru. Cerutu bahkan lebih beracun daripada rokok biasa.5.  Mitos: Merokok Merupakan Satu-satunya Penyebab Kanker ParuFakta: Selain merokok, menghirup gas radiaktif (radon) juga dapat menyebabkan terjadinya kanker paru. Gas ini berasal dari batu dan tanah, dan dapat masuk ke dalam rumah dan berbagai bangunan. 6.  Mitos: Bila Telah Menderita Kanker, Berhenti Merokok Pun Tidak BergunaFakta: Meneruskan kebiasaan merokok anda setelah didiagnosa menderita kanker dapat menurunkan efektivitas obat anti kanker yang anda konsumsi dan dapat membuat efek samping obat semakin buruk. Perokok yang melalui suatu tindakan pembedahan, memiliki waktu penyembuhan yang lebih lama daripada orang yang tidak merokok. Selain itu, orang yang merokok selama menerima terapi radiasi untuk mengatasi kanker laring lebih sulit memperoleh suara normalnya kembali. Kadangkala, berhenti merokok dapat mencegah terjadinya kanker lainnya.7.  Mitos: Olahraga Tidak Mempengaruhi Resiko Terjadinya Kanker ParuFakta: Berolahraga secara teratur dapat menurunkan resiko kanker paru hingga 20%. Selain itu, berolahraga juga dapat meningkatkan fungsi paru dan mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit berbahaya lainnya seperti penyakit jantung dan stroke.8.  Mitos: Polusi Udara Merupakan Penyebab Utama Terjadinya Kanker ParuFakta: Polusi udara hanya menyebabkan sekitar 5% kasus kanker paru. Merokok merupakan penyebab utama dari terjadinya kanker paru.Sumber: medicinenet
 22 Aug 2015    12:00 WIB
Benarkah Ganja Dapat Menyembuhkan Kanker?
Banyak penelitian yang menemukan bahwa cannabinoid yang terdapat di dalam ganja dapat memperlambat pertumbuhan kanker, menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang memberi makan tumor, dan membantu mengatasi nyeri, lelah, mual, dan berbagai efek samping lainnya. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa banyak sel kanker yang mati saat terkena paparan tetrahidrocannabinol (THC), yang merupakan zat psikoaktif di dalam ganja. Para ahli lainnya pun mengatakan bahwa cannabinoid yang terdapat di dalam ganja selain berfungsi untuk mengatasi gejala kanker seperti mual, nyeri, hilangnya nafsu makan, dan lelah juga memiliki sifat anti tumor. Selain dapat membunuh sel kanker secara langsung, THC juga dapat mengurangi kemampuan penyebaran sel kanker. Keunggulan lainnya dari THC adalah bahwa THC mampu membunuh sel kanker tanpa membunuh sel normal. Berbagai jenis kanker telah terbukti mengalami perbaikan setelah terpapar oleh THC, mulai dari kanker otak (glioma), kanker paru, kanker darah (leukemia), dan kanker payudara. Pada kanker otak, THC telah terbukti dapat membunuh sel kanker dan menghambat pembentukan pembuluh darah baru, Pada kanker paru, THC telah terbukti dapat menghambat penyebaran kanker. Pada leukemia, THC menyebabkan terjadinya kematian sel kanker (apoptosis). Pada kanker payudara, THC telah terbukti dapat menghambat proliferasi, metastasis, dan pertumbuhan sel kanker. Cannabinoid yang terdapat di dalam ganja dapat membunuh sel-sel kanker dan menghancurkan tumor ganas dengan mengganti fungsi gen ID-1 yang merupakan protein yang berperan penting sebagai konduktor sel kanker. Gen ID-1 ini aktif selama perkembangan manusia saat embrio, yang kemudian berhenti bekerja. Pada beberapa kasus kanker payudara dan berbagai kanker metastatik lainnya, gen ID-1 ini kembali aktif dan menyebabkan pertumbuhan sel ganas. Sekarang ini banyak peneliti yang sedang mencoba menggunakan THC dan cannabinoid sebagai terapi kombinasi dalam obat kemoterapi yang dapat membunuh sel kanker dan tidak ikut membunuh sel sehat, sehingga berbagai efek samping obat kemoterapi pun dapat berkurang   STOP PENYALAHGUNAAN NARKOBA! Sumber: thedailybeast
 01 Aug 2015    20:00 WIB
Efek Ganja Pada Perkembangan Otak Remaja
Otak mengalami perkembangan yang cukup besar saat anda memasuki masa remaja. Pada masa remaja, otak anda mulai bertransformasi dari otak seorang anak menjadi otak seorang dewasa. Menurut seorang ahli, otak anak-anak sebenarnya berukuran lebih besar daripada orang dewasa. Pada saat anak memasuki usia remaja, maka otak anda akan menyingkirkan berbagai hal yang tidak berguna dan membuat ukuran otak lebih kecil. Hal ini membuat otak anda dapat bekerja lebih cepat dan lebih efisien. Proses perubahan ini membuat anak anda mampu membuat suatu penilaian, berpikiran kritis, dan mengingat apa yang telah dipelajari. Masa remaja merupakan sebuah masa emas di mana anda dapat membuat otak menjadi sesehat dan sepintar mungkin. THC, suatu zat yang terdapat di dalam ganja dapat mempengaruhi otak. Semakin tinggi kadar THC di dalam ganja, maka semakin besar perubahan otak yang terjadi dan resiko kecanduan pun semakin meningkat. Oleh karena itu, penggunaan ganja pada masa penting ini dapat sangat merugikan anak anda. Berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk menilai efek dari penggunaan ganja menemukan bahwa penggunaan ganja secara teratur, misalnya seminggu sekali atau lebih dapat menyebabkan perubahan struktur otak remaja, terutama bagian otak yang berfungsi untuk membentuk ingatan (daya ingat) dan kemampuan memecahkan masalah. Perubahan struktur otak ini dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dan prestasi sekolah anak anda, di mana anak yang sering menggunakan ganja biasanya memiliki nilai ujian yang lebih rendah daripada anak yang tidak pernah menggunakan ganja. Sebuah penelitian di Amerika menduga adanya hubungan antara penggunaan ganja saat remaja dengan penurunan IQ saat dewasa. Para peneliti menemukan bahwa orang yang mulai menggunakan ganja sejak remaja hingga beberapa tahun kemudian mengalami penurunan IQ hingga 8 poin, di mana IQnya saat dewasa 8 poin lebih rendah daripada IQnya saat masih anak-anak. Semakin sering orang tersebut menghisap ganja (setiap hari) dan semakin muda usia anak saat pertama kali menggunakan ganja, maka semakin besar penurunan IQ yang terjadi.Sementara itu, para peneliti menemukan bahwa orang yang tidak pernah menggunakan ganja tidak mengalami penurunan IQ. Selain IQ, penggunaan ganja di usia remaja juga mempengaruhi daya ingat dan kemampuan membuat keputusan, di mana orang dewasa yang telah mulai menghisap ganja sejak remaja memiliki hasil yang lebih buruk pada pemeriksaan daya ingat dan membuat keputusan dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak pernah menghisap ganja. Akan tetapi, para peneliti masih belum dapat memastikan apakah nilai IQ awal anak juga memiliki peranan dalam penurunan IQ anak setelah dewasa. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Sumber: npr
 12 Sep 2014    11:00 WIB
Ketergantungan Pada Ganja Sebabkan Penurunan Kecerdasan
Mengalami ketergantungan pada ganja sebelum berusia 18 tahun dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang dan permanen pada kecerdasan, konsentrasi, dan daya ingat pengguna. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 1.000 orang di New Zealand yang telah mulai menggunakan ganja pada usia remaja dan terus menggunakannya hingga bertahun-tahun kemudian. Para peneliti menemukan bahwa para pengguna ganja ini mengalami penurunan IQ hingga 8 poin saat berusia 38 tahun bila dibandingkan dengan nilai IQ mereka saat berusia 13 tahun. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa berhenti menggunakan ganja tidak dapat mengembalikan kecerdasan, konsentrasi, dan daya ingat pada keadaan yang normal. Kunci utama penyebab timbulnya gangguan kecerdasan pada pengguna ganja adalah sejak kapan mereka mulai menggunakan ganja dan bagaimana proses perkembangan otak mereka. Para peneliti menemukan bahwa peserta penelitian yang tidak menggunakan ganja saat remaja dan baru mulai menggunakannya saat mereka telah dewasa dan otaknya telah berkembang sempurna tidak mengalami gangguan kecerdasan, konsentrasi, maupun daya ingat seperti yang dialami oleh para pengguna ganja yang mulai menggunakan ganja saat mereka masih remaja, di saat otak belum berkembang dengan sempurna sehingga membuatnya lebih rentan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh ganja dan obat-obatan lainnya. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 1.037 orang anak-anak yang lahir pada tahun 1972-1973, mulai dari mereka lahir hingga mereka berusia 38 tahun. Pada saat para peserta penelitian berusia 38 tahun, para peneliti meminta mereka untuk menjawab berbagai pertanyaan psikologis yang menilai daya ingat, kemampuan menganalisis, dan kemampuan analisis visual. Para peneliti menemukan bahwa orang yang menggunakan ganja sejak remaja memiliki nilai yang sangat buruk pada hampir semua tes psikologis yang dilakukan. Selain itu, anggota keluarga dan teman-teman pengguna ganja mengatakan bahwa para pengguna memiliki daya konsentrasi dan daya ingat yang buruk.     Sumber: healthmeup
 05 Sep 2014    13:00 WIB
Benarkah Ganja Dapat Membantu Mengatasi Gejala Sklerosis Multipel?
Benarkah ganja dapat membantu mengatasi gejala sklerosis multipel? Sklerosis multipel merupakan suatu penyakit kronik di mana terjadi kerusakan pada lapisan pelindung serat-serat saraf. Banyak penderita sklerosis multipel telah mengatakan bahwa menghisap ganja dapat membantu mengurangi nyeri otot akibat kram. Sebuah penelitian baru pun telah turut mengkonfirmasi hal ini. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa menghisap ganja selama beberapa hari dapat membantu mengatasi nyeri otot pada sekitar 30 penderita sklerosis multipel yang mengalami kram otot (spastisitas), di mana gejala tidak juga membaik setelah penderita menerima pengobatan standar sklerosis multipel. Akan tetapi, para peneliti masih belum mengetahui secara pasti apakah manfaat ini melebihi dampak negatif ganja pada kesehatan para penggunanya.  Beberapa orang penderita sklerosis multipel telah mulai menggunakan ganja untuk mengatasi beberapa gejala sklerosis multipel, termasuk spastisitas, yaitu suatu keadaan di mana otot-otot kaki atau tangan berkontraksi (kram), yang membuat penderita merasa sangat nyeri. Para peneliti mengatakan bahwa memang benar bahwa tubuh memproduksi cannabinoid secara alami untuk membantu mengatur spastisitas otot. Walaupun demikian, karena belum adanya bukti ilmiah yang kuat mengenai manfaat ganja yang satu ini, para ahli pun belum dapat memastikan apakah menghisap ganja benar-benar dapat membantu mengatasi spasme atau kram otot yang dialami oleh banyak penderita sklerosis multipel. Para peneliti menemukan bahwa selain membantu mengatasi rasa nyeri akibat kram otot, ganja juga menimbulkan beberapa efek samping seperti pusing dan rasa sangat lelah pada beberapa pengguna. Selain itu, ganja juga dapat memperlambat kemampuan mental seseorang. Walaupun demikian, para ahli masih belum mengetahui apakah konsumsi ganja dapat menimbulkan efek samping lainnya bila digunakan dalam jangka waktu lama. Pada penelitian ini, para peneliti meminta para penderita untuk menghisap ganja atau plasebo, yang memiliki bentuk, bau , dan rasa yang sama seperti ganja; akan tetapi tidak memiliki bahan aktif ganja (THC). Setiap penderita menghisap ganja sekali setiap harinya selama 3 hari dan menghisap plasebo sekali setiap harinya selama 3 hari berikutnya. Para peneliti kemudian memeriksa spastisitas otot penderita sebelum dan setelah terapi diberikan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa spastisitas otot para penderita menurun hingga 30% saat mereka menghisap ganja dan tidak berubah bila mereka hanya menghisap plasebo. Walaupun terbukti cukup efektif, akan tetapi para peneliti masih khawatir akan efek konsumsi ganja dalam waktu lama, yaitu karena ganja mempengaruhi fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan para penderita sklerosis multipel juga telah rentan terhadap perubahan kognitif. Para peneliti mengatakan bahwa penelitian ini masih memiliki beberapa kelemahan seperti: Sekitar 17 dari 30 penderita mengetahui kapan mereka sedang menghisap ganja dan kapan mereka sedang menghisap plasebo, yang dapat menimbulkan efek bias Waktu penelitian yang terlalu singkat membuat para peneliti tidak mengetahui apa efek jangka panjang dari penggunaan ganja Dianjurkan agar Anda berkonsultasi dengan dokter Anda bila Anda merasa obat-obatan yang Anda konsumsi tidak dapat membantu mengatasi gejala spastisitas otot yang Anda alami.     Sumber: healthmeup