Your browser does not support JavaScript!
 12 Sep 2019    16:00 WIB
Penyebab Biang Keringat Pada Bayi dan Cara Mengatasinya
Biang keringat (disebut juga keringat buntet) adalah ruam bintik merah atau pink yang muncul di atas kepala bayi, leher, bahu dan bagian tubuh yang tertutup pakaian, disertai gatal, kulit kemerahan dan gelembung air kecil-kecil. Bintik terlihat seperti jerawat kecil.  Karena penyebab terjadinya biang keringat adalah tersumbatnya kelenjar keringat. Dimana fungsi kelenjar keringat pada bayi belum sempurna seperti pada orang dewasa, makanya kita lebih sering menemukan biang keringat ini pada kulit bayi. Kulit memerah dan rasa gatal yang tak tertahan, membuat bayi rewel. Segera atasi biang keringat pada bayi dan cegah sebisa mungkin. Penyebab Biang Keringat: Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat. Bayi mengalami panas atau demam. Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat Pencegahan: Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun. Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur. Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri. Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat Tidak mengoleskan baby oil, baby lotion atau baby cream pada sekujur tubuhnya sepanjang waktu. Gunakanlah produk tersebut sesuai kebutuhan, misalnya jka kulit bayi tampak kering.  Kulit yang kering lebih akan menghambat keluarnya keringat dan memudahkan terjadinya infeksi bakteri Pengobatan: Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Sumber: webmd
 06 Sep 2019    08:00 WIB
Kapan Anda Harus Menghubungi Dokter Saat Anak Anda Flu?
Untuk Anda yang memiliki bayi, mungkin seringkali bayi Anda mengalami pilek atau flu. Pilek memang bukanlah suatu penyakit yang berbahaya. Namun Anda harus waspada apabila terjadi tanda-tanda di bawah ini, maka Anda harus mulai menghubungi dokter Anda: Apabila bayi Anda berusia di bawah 3 bulan. Anda harus menghubungi dokter apabila bayi Anda mengalami demam tinggi melebihi 100,4 derajat Fahrenheit (38 derajat Celsius)  yang diukur melalui dubur Apabila bayi Anda berusia di antara 3 sampai 6 bulan, maka Anda harus menghubungi dokter saat bayi Anda mengalami demam mencapai 101 derajat Fahrenheit (38,3 derajat Celsius) Apabila bayi Anda berusia diatas usia 6 bulan, maka Anda harus menghubungi dokter saat bayi Anda mengalami demam mencapai 103 derajat Fahrenheit (39,4 derajat C) Tidak peduli berapapun usia bayi Anda, hubungi dokter apabila Anda melihat salah satu dari gejala berikut:  Setiap demam yang berlangsung lebih dari dua hari.  Batuk yang memburuk, napas cepat (lebih dari 60 napas menit), mengi, atau terengah-engah. Gejala ini bisa menjadi tanda pneumonia atau respiratory syncytial virus (RSV), penyakit pernafasan yang relatif umum terjadi tetapi berpotensi serius pada bayi di bawah usia satu tahun. Menarik atau menggosok telinganya, menangis saat menyusui atau selama makan, atau menangis ketika sedang ditidurkan. Semua hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya  infeksi telinga.  Mata berair kemungkinan ini salah satu tanda terkena penyakit mata yang menular.  Anak terlalu rewel, kantuk yang tidak biasa, atau perubahan signifikan dalam pola makan atau tidur.   Sumber: babycenter
 19 Jul 2019    11:00 WIB
Kenali Perkembangan Penglihatan Pada Anak
Kemampuan penglihatan normal pada anak mulai dari bayi tidak sama dengan kemampuan penglihatan normal pada orang dewasa. Untuk mencapai penglihatan normal perlu adanya perkembangan penglihatan. Berikut ini adalah perkembangan penglihatan pada anak: Pada saat dilahirkan Bayi sudah dapat melihat walaupun belum dapat melihat secara jelas seperti layaknya orang dewasa. Bayi yang baru saja lahir dapat melihat benda-benda yang besar dan wajah tetapi belum dapat melihat secara rinci. Karena wajah mempunyai daya tarik visual yang kuat. Bayi belum dapat membedakan warna-warna pastel maupun variasi-variasi lainnya yang halus dikarenakan sistem penglihatan yang belum sempurna.  Bayi sudah dapat melihat warna-warna yang terang dan kuat dalam pola kontras antara terang dan gelap.   Penglihatan bayi usia 3-4 bulan Perkembangan penglihatan pada bayi sangatlah pesat pada tahun pertama. Penglihatan biasanya berkembang secara cepat sehingga pada usia 3 hingga 4 bulan Kebanyakan bayi dapat melihat benda-benda kecil Beberapa bayi dapat membedakan berbagai macam warna (terutama warna merah dan hijau) pada usia ini Bayi sudah dapat memfokuskan penglihatan mereka pada benda-benda yang dekat maupun jauh dan dapat membedakan antara wajah manusia asli dan gambar.    Penglihatan bayi usia 4 bulan Kedua mata pada bayi sudah dapat bekerja sama secara baik sehingga dapat memberikan persepsi kedalaman atau penglihatan binokular   Penglihatan bayi usia 12 bulan Penglihatan anak sudah mencapai tingkat penglihatan pada orang dewasa normal.    Perkembangan penglihatan pada bayi tidak selalu mengikuti tahap yang persis sama pada setiap bayi, tapi paling tidak mengikuti pola perkembangan yang sama secara keseluruhan. Dikarenakan perkembangan yang pesat pada tahun pertama, deteksi dini pada masalah penglihatan sangatlah penting adanya sehingga kerusakan permanen pada mata dapat dihindari.
 12 Jul 2019    11:00 WIB
5 Manfaat Tidur Bersama Dengan Bayi Anda
Walaupun berbagai berita di media massa tidak menganjurkan para ibu untuk tidur bersama dengan bayinya karena banyaknya kasus kematian bayi akibat tertindih, akan tetapi berbagai penelitian menemukan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan tidur bersama anak Anda. Beberapa manfaat tidur bersama dengan bayi Anda adalah meningkatkan rasa percaya diri pada anak, menurunkan resiko terjadinya gangguan perilaku, lebih jarang mengalami "bullying", dan merasa lebih bahagia serta puas dalam kehidupan.   1.      Mendorong Anak Menjadi Lebih Mandiri Banyak orang beranggapan bahwa membiarkan bayi tidur bersama ibunya akan membuat anak menjadi manja dan tidak dapat hidup mandiri; akan tetapi penelitian justru menemukan hal yang sebaliknya. Anak yang tidur bersama dengan orang tuanya justru dapat hidup mandiri lebih cepat.   2.      Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak yang sering tidur bersama orang tuanya biasanya juga memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, lebih jarang mengalami gangguan perilaku, lebih jarang mengalami "bullying", dan merasa lebih bahagia serta puas dalam kehidupannya. Mereka lebih jarang mengalami gangguan stress bila dibandingkan dengan anak yang jarang atau tidak pernah tidur bersama dengan orang tuanya.   3.      Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental Selain mengalami berbagai manfaat psikologikal, bayi yang tidur bersama dengan orang tuanya tampaknya juga dapat tumbuh secara maksimal, baik dalam hal emosional, fisik, dan intelektual.   4.      Menurunkan Resiko Stress dan SIDS Pada sebuah penelitian di Amerika, para peneliti menemukan bahwa para bayi yang tidur sendirian memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami SIDS (sudden infant death syndrome) dan gangguan stress. Kedekatan antara ibu dan anak ini tampaknya turut mempengaruhi pernapasan bayi, pola tidur bayi, denyut jantung bayi, dan suhu tubuh bayi. Bayi yang ditinggal sendirian dan menangis akan mengalami peningkatan kadar hormon stress, kortisol, yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak bayi. Keadaan ini akan membuat bayi menjadi lebih rentan terhadap stress dan berbagai penyakit, termasuk berbagai jenis gangguan mental; serta membuat bayi lebih sulit sembuh dari berbagai penyakit.   5.      Mendekatkan Hubungan Ibu dan Anak Anak yang sering tidur bersama dengan orang tuanya cenderung memiliki hubungan yang lebih dekat dengan keluarganya dan merasa lebih bahagia dibandingkan dengan anak yang biasa tidur sendirian.   Sumber: sheknows
 08 Jun 2019    08:00 WIB
4 Alasan Mengapa Tidak Harus Berikan iPad Untuk Balita
Pada saat Anda memutuskan untuk memiliki anak, ada berbagai topik yang dapat Anda bicarakan dengan pasangan Anda yaitu mengenai cara membesarkan anak. Salah satu topik penting yang harus Anda bicarakan adalah apakah anak harus diberikan iPad sejak dini. Meskipun iPad, tablet, ponsel pintar memiliki beberapa aplikasi untuk anak seperti belajar tentang huruf, warna, angka, hewan dll. Namun Anda juga dapat mengajarkan hal tersebut tanpa aplikasi tersebut kan? Berikut adalah alasan mengapa Anda tidak harus memberikan iPad untuk Balita Anda: 1.      Teknologi dapat menunggu Sebuah penelitian mengatakan bahwa saat masih di dalam kandungan sampai anak berusia tiga tahun, merupakan saat keemasan untuk otak anak Anda berkembang. Apabila Anda memberikan Tab dibawah usia tiga tahun hal ini akan mengganggu perkembangan otak anak Anda. 2.      Mengganggu kesehatan anak Melihat layar tab terlalu lama akan mempengaruhi perkembangan psikologis anak, selain itu menyebabkan belajar bahasa yang terlambat, gangguan motorik dan koordinasi antara tangan dengan mata. 3.      Perubahan perilaku Bayi Anda akan cepat belajar, bahwa jika dia marah-marah dan menangis dia akan mendapatkan iPad. Perilaku ini dalam jangka panjang, akan membuat mereka menjadi sangat bersikeras dan keras kepala. 4.      Pendidikan dini tidak harus melalui media digital Meskipun ada banyak aplikasi yang tak terhitung banyaknya untuk membantu bayi Anda belajar alfabet, angka, warna, hewan dll, namun mengajarkan secara langsung merupakan cara yang baik. Sumber: momjunction
 03 Apr 2019    08:00 WIB
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan Gendongan Bayi
Banyak orang telah menggunakan gendongan bayi untuk menggendong bayi di depan dada atau di punggung selama bertahun-tahun. Menurut beberapa penelitian, bayi yang digendong di dalam gendongan bayi biasanya lebih jarang menangis dan merasa lebih puas, yang bahkan dapat membuat anak yang sedang rewel menjadi tenang.Akan tetapi, penggunaan gendongan bayi terlalu dini atau dengan cara yang salah justru dapat berbahaya bagi bayi Anda. Menurut data laporan konsumen, telah ditemukan setidaknya 14 kematian bayi yang berhubungan dengan gendongan bayi selama 17 tahun terakhir. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mulai menggunakan gendongan bayi. Baca juga: 5 Fakta Menarik Tentang Pemeriksaan USG  1.      Sebaiknya Tidak Digunakan Bila Bayi Masih Berusia Kurang dari 4 BulanDi Oregon, Amerika Serikat, seorang bayi berusia 7 hari meninggal akibat kehabisan napas setelah diletakkan ibunya dalam sebuah gendongan bayi sehingga ibunya dapat berjalan keluar dari toko ke tempat mobilnya diparkir.Kehabisan napas merupakan suatu hal yang dapat terjadi bila bayi yang berusia kurang dari 4 bulan digendong dengan menggunakan gendongan bayi. Hal ini dikarenakan pada beberapa bulan pertama kehidupannya, seorang bayi belum dapat mengendalikan kepalanya sendiri karena masih lemahnya otot leher.Saat digendong dengan menggunakan gendongan bayi, kain gendongan bayi tersebut dapat menekan hidung dan mulut bayi, sehingga bayi tidak dapat bernapas dan akhirnya meninggal karena kehabisan napas hanya dalam waktu 1-2 menit.Selain itu, bila gendongan bayi membuat bayi berada dalam posisi tertekuk, di mana dagunya menekuk ke arah dada, maka aliran udara pun akan terhambat dan suplai oksigen pun akan berkurang. Pada keadaan ini, sang bayi tidak dapat menangis untuk meminta tolong dan akan meninggal secara perlahan karena kehabisan napas.Menurut Mayo Clinic, gendongan bayi cukup aman digunakan bila bayi Anda telah berusia lebih dari 4 bulan dan digunakan dengan cara yang benar. 2.      Jangan Gunakan Gendongan Bayi yang Membuat Bayi Harus MenekukMembuat bayi dalam posisi tertekuk akan menutup saluran napasnya, bahkan bila hidung dan mulutnya tidak tertutup. Oleh karena itu, pastikan bayi Anda tidak berada pada posisi tertekuk saat digendong (Anda tidak dapat mencium dahinya) dan pastikan dagunya tidak berada di atas dadanya karena dapat mengganggu pernapasannya. 3.      Jangan Gunakan Gendongan Bayi BekasJika Anda berniat untuk menggunakan gendongan bayi bekas, misalnya karena diberikan oleh teman atau keluarga Anda yang telah memiliki anak, ada baiknya bila Anda memeriksanya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa gendongan tersebut tidak berbahaya bagi Anda. 4.      Jangan Bungkukkan Badan AndaJika Anda ingin mengambil suatu barang yang jatuh atau berada di atas lantai, ada baiknya bila Anda berjongkok untuk mengambilnya daripada membungkukkan badan. Hal ini dikarenakan dengan membungkukkan badan saat menggendong bayi Anda, tekanan dari tubuh Anda dapat melukai bayi di dalam pelukan Anda. Selain itu, saat Anda membungkukkan badan, bayi Anda mungkin dapat terjatuh keluar dari dalam gendongan. 5.      Periksa Keadaan Gendongan Bayi Sebelum MenggunakannyaSebelum Anda meletakkan bayi kesayangan Anda di dalam gendongan bayi, pastikan Anda telah terlebih dahulu memeriksa keamanan gendongan bayi tersebut. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: safebee
 10 Mar 2019    16:00 WIB
Begini Pertolongan Pertama Saat Bayi Tersedak (Choking)
Anak/bayi suka memasukan benda apapun yang di temukan ke dalam mulutnya. sehingga hal ini dapat mengakibatkan si anak/bayi mengalami tersedak (Choking). Benda asing yang menyebabkan sumbatan jalan nafas (Tersedak) pada anak adalah benda cair, diikuti benda asing yang bersifat padat seperti kancing baju, mainan atau makanan padat.   Tanda anak mengalami sumbatan jalan nafas adalah menangis sambil diikuti refleks batuk untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Batuk merupakan refleks yang aman untuk mengeluarkan benda asing pada jalan nafas. Tindakan baru diberikan bila sumbatan berat dengan cara : Tindakan Back Blows.   Cara melakukan bantuan anak/bayi yang mengalami sumbatan jalan nafas berat ( Cara Back Blows ) :   1. Posisikan bayi/anak dengan posisi kepala mengarah ke bawah, supaya gaya gravitasi dapat membantu mengeluarkan benda asing.   2. Penolong berlututcatau duduk, dapat menopang Anak/bayi di pangkuannya dengan lebih aman saat melakukan tindakan.   3. Untuk bayi, topang kepala dengan menggunakan ibu jari di satu sisi rahang dan rahang yang lain menggunakan satu atau dua jari dari tangan yang sama. Jangan sampai menekan jaringan lunak di bawah rahang, karena akan menyebabkan sumbatan jalan nafas kembali. Sedangakan untuk anak berusia diatas 1 tahun, kepala tidak perlu ditopang secara khusus.   4. Lakukan 5 hentakan Back Blows secara kuat dengan menggunakan telapak tangan ditengah punggung. Tujuan tindakan tersebut untuk mengupayakan sumbatan benda asing terlepas setelah satu hentakan, bukan karena akumulasi ke-5 hentakan. 5. Bila tindakan tersebut gagal, segera bawa ke Rumah Sakit terdekat untuk memperoleh pertolongan lebih lanjut
 02 Mar 2019    08:00 WIB
Tindakan Untuk Bayi Kelainan Genetik Apert Syndrom
Halo sahabat setia Dokter.ID, hari ini kita akan membahas Apert Syndrom. Apa itu Apert Syndrom. Jika diantara kita memiliki bayi atau pernah melihat seorang bayi dengan pertumbuhan bentuk kepala yang tidak normal itu biasanya disebut Apert syndrom. Untuk jelasnya kita bahas secara detail. Apert syndrome adalah kelainan genetik yang ditandai oleh fusi prematur tulang tengkorak tertentu (craniosynostosis). Penggabungan awal ini mencegah tengkorak tumbuh secara normal dan memengaruhi bentuk kepala dan wajah. Selain itu, berbagai jari dan jari kaki menyatu bersama (sindaktili). Banyak fitur wajah khas sindrom Apert hasil dari fusi tulang tengkorak prematur. Kepala tidak dapat tumbuh secara normal, yang menyebabkan penampilan cekung di tengah wajah, mata menonjol dan lebar, hidung paruh, dan rahang atas yang belum berkembang yang mengarah ke gigi yang penuh sesak dan masalah gigi lainnya. Soket mata dangkal dapat menyebabkan masalah penglihatan. Penggabungan awal tulang tengkorak juga mempengaruhi perkembangan otak, yang dapat mengganggu perkembangan intelektual. Kemampuan kognitif pada orang dengan sindrom Apert berkisar dari kecacatan intelektual normal hingga ringan atau sedang. Individu dengan sindrom Apert telah berselaput atau bersatu jari tangan dan kaki. Tingkat keparahan fusi bervariasi; minimal, tiga digit di setiap tangan dan kaki disatukan. Dalam kasus yang paling parah, semua jari tangan dan kaki menyatu. Lebih jarang, orang dengan kondisi ini mungkin memiliki jari tangan atau kaki ekstra (polydactyly). Tanda-tanda dan gejala tambahan dari sindrom Apert dapat mencakup gangguan pendengaran, keringat yang luar biasa berat (hiperhidrosis), kulit berminyak dengan jerawat parah, bercak rambut yang hilang di alis, fusi tulang tulang belakang di leher (vertebra serviks), dan infeksi telinga berulang yang dapat dikaitkan dengan lubang di atap mulut (langit-langit mulut sumbing). Apert syndrome mempengaruhi sekitar 1 dari 65.000 hingga 88.000 bayi baru lahir. Dan mutasi pada gen FGFR2 lah yang menyebabkan sindrom Apert. Gen ini menghasilkan protein yang disebut reseptor faktor pertumbuhan fibroblast 2. Di antara beberapa fungsinya, protein ini memberi sinyal sel-sel yang belum matang untuk menjadi sel-sel tulang selama perkembangan embrionik. Mutasi pada bagian spesifik dari gen FGFR2 mengubah protein dan menyebabkan pensinyalan yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan fusi tulang prematur pada tengkorak, tangan, dan kaki. Apert syndrome diturunkan dalam pola autosom dominan, yang berarti satu salinan gen yang diubah di setiap sel cukup untuk menyebabkan gangguan. Hampir semua kasus sindrom Apert hasil dari mutasi baru pada gen, dan terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat gangguan dalam keluarga mereka. Individu dengan sindrom Apert, bagaimanapun, dapat meneruskan kondisi ini ke generasi berikutnya. Namun jika anak kita atau keluarga dan kerabat kita ada anaknya mengalami hal ini, kita bisa mengambil tindakan medis. Dokter terkadang dapat mendiagnosis sindrom Apert saat bayi masih dalam kandungan dengan salah satu metode berikut: Fetoskopi. Dokter menempatkan ruang lingkup yang fleksibel ke dalam rahim ibu melalui perutnya. Lingkup ini dapat digunakan untuk melihat bayi dan untuk mengambil sampel darah dan jaringan. Ultrasonografi. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar bayi di dalam rahim. Dokter dapat mengkonfirmasi bahwa bayi tersebut memiliki sindrom Apert setelah lahir menggunakan tes gen atau tes lain seperti: Computerized tomography (CT). Tes ini mengambil serangkaian sinar-X dari berbagai sudut untuk membuat gambar detail tubuh bayi. Magnetic resonance imaging (MRI). Tes ini menggunakan magnet dan gelombang radio yang kuat untuk membuat gambar dari dalam tubuh bayi. Bayi dengan sindrom Apert mungkin perlu menemui banyak spesialis yang berbeda. Tim medis mereka dapat meliputi: Seorang dokter anak. Seorang ahli bedah. Seorang ahli ortopedi (dokter yang merawat masalah tulang, otot, dan persendian). THT (dokter yang menangani masalah dengan telinga, hidung, dan tenggorokan). Seorang ahli jantung (seorang dokter yang merawat masalah dengan jantung). Seorang spesialis pendengaran. Beberapa bayi mungkin perlu dioperasi dalam beberapa bulan pertama setelah kelahiran. Ini mungkin termasuk operasi untuk: Meringankan tekanan atau mengalirkan penumpukan cairan (hidrosefalus) di dalam tengkorak. Buka tulang tengkorak dan berikan ruang otak bayi untuk tumbuh. Membentuk kembali wajah bayi untuk membuat penampilan yang lebih bulat, rata. Gerakkan rahang dan tulang wajah untuk meningkatkan penampilan dan membantu pernapasan. Lepaskan jari berselaput dan terkadang jari kaki. Mencabut gigi jika terlalu banyak (bertumpuk). Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan mungkin membutuhkan bantuan tambahan untuk tetap bersekolah. Mereka mungkin juga membutuhkan bantuan dengan kegiatan sehari-hari. Jadi apapun keadaan anak kita atau anak kerabat kita atau teman kita yang mengalami Apert Syndrom, mari kita sehati tetap mendukung anak-anak ini yah! Salam sehat dan ceria dari Dokter.ID, sampai jumpa!   Sumber : www.webmd.com, www.healthline.com
 19 Feb 2019    11:00 WIB
Mengapa Anda Belum Bisa Punya Anak?
Kehadiran anak dalam sebuah keluarga tentunya merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan dan ditunggu-tunggu bukan? Namun demikian, masih banyak pasangan suami istri yang belum juga dikaruniai momongan walaupun telah lama menikah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai gangguan yang ada pada diri sang suami maupun sang istri. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang membuat seorang wanita sulit hamil.   Sakit Saat seorang wanita sakit atau menderita gangguan kesehatan tertentu, apapun itu, maka hal ini pun akan sangat mempengaruhi kemungkinannya untuk hamil. Hal ini dikarenakan kondisi kesehatan seorang wanita sangat mempengaruhi kemungkinannya untuk hamil.   Baca Juga: Gangguan Tidur Saat Hamil dan Setelah Melahirkan   Menstruasi Tidak Teratur Menstruasi yang tidak teratur juga dapat mempengaruhi kemungkinan seorang wanita untuk hamil. Bila selama ini menstruasi Anda selalu tidak teratur, segera periksakan diri Anda ke seorang dokter kandungan untuk mengetahui apa penyebabnya dan penanganan apa yang Anda perlukan agar periode menstruasi Anda menjadi lebih teratur. Hal ini dikarenakan menstruasi yang tidak teratur menyebabkan sel telur tidak dilepaskan setiap bulannya, sehingga Anda pun lebih sulit hamil.   Usia Anda tentunya telah mengetahui bahwa seorang wanita memiliki usia subur yang sudah tertentu, yaitu sebelum ia memasuki masa menopause. Akan tetapi, saat seorang wanita berusia lebih dari 35 tahun, ia juga akan menjadi lebih sulit hamil.   Gangguan Pada Saluran Telur Gangguan pada saluran telur (tempat di mana sperma dan sel telur matang bertemu), dapat mencegah terjadinya pertemuan di antara sperma dan sel telur. Hal ini tentu saja akan membuat kehamilan lebih sulit terjadi. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan atau kerusakan pada saluran telur adalah infeksi panggul, endometriosis, dan jaringan parut yang terbentuk paska operasi.   Perubahan Kadar Hormonal Sejumlah wanita memang menderita gangguan ovulasi karena kadar hormonnya yang tidak seimbang. Hal ini akan membuat pelepasan sel telur dari indung telur dan penebalan dinding rahim sebagai persiapan kehamilan tidak terjadi. Gangguan keseimbangan hormonal ini biasanya dapat diketahui melalui pemeriksaan darah.   Gangguan Pada Leher Rahim Beberapa orang wanita mungkin mengalami suatu gangguan pada leher rahimnya (serviks), misalnya karena produksi lendir yang abnormal atau akibat tindakan pembedahan pada leher rahim, yang membuat sperma tidak dapat masuk ke dalam rahim. Keadaan ini biasanya dapat diatasi dengan melakukan inseminasi buatan.   Gangguan Pada Rahim Bentuk rahim yang abnormal juga dapat membuat kehamilan lebih sulit terjadi. Selain itu, adanya polip atau mioma rahim (tumor jinak rahim) juga dapat membuat kehamilan lebih sulit terjadi.   Kemandulan Tanpa Penyebab yang Jelas Yang dimaksud dengan kemandulan tanpa penyebab yang jelas di sini adalah para dokter tidak dapat menemukan adanya gangguan apapun pada organ reproduksi seorang wanita, tetapi entah mengapa kehamilan tetap tidak dapat terjadi. Keadaan ini telah mengenai sekitar 20% pasangan suami istri di dunia.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya Dokter sekarang.   Sumber: carabaruku, webmd
 06 Feb 2019    10:00 WIB
Cara Ampuh Meringankan Hidung Mampet Pada Bayi
Mungkin bayi Anda sering mengalami batuk dan pilek pada tahun pertamanya. Ada ratusan virus yang dapat menyebabkan pilek dan bayi Anda belum mampu melawannya karena  karena sistem kekebalan tubuhnya masih belum berkembang. Terlebih bayi Anda belum mampu untuk membersihkan tangan sehingga memberikan kesempatan virus masuk kedalam tubuh.  Tidak ada obat yang akan mengatasi virus lebih cepat, tetapi Anda dapat membantu bayi Anda merasa lebih baik dan mencegah infeksi dari semakin buruk dengan  memastikan bahwa bayi Anda mendapat banyak istirahat dan cairan. Untuk bayi berusia di bawah 4 bulan, itu berarti Anda harus memberikan ASI atau susu formula yang cukup. Pada bayi berusia 4 bulan Anda sudah dapat meminum sedikit air putih, pada usia 6 bulan bayi Anda sudah bisa mulai minum jus.  Karena sebagian besar anak tidak bisa mengendalikan hidungnya untuk membuang ingus sampai usia 4 tahun. Berikut adalah cara untuk membantu meringankan hidung mampet: Gunakan cairan larutan garam (nasal saline) dan hisap. Anda bisa menggunakan cairan saline yang dibeli di apotik kemudian teteskan dalam hidung untuk membantu mengencerkan lendir. Kemudian sedot keluar cairan dan lendir beberapa menit kemudian dengan semprotan karet atau aspirator hidung.  Apabila bayi Anda mengalami kesulitan menyusui dengan hidung tersumbat, coba gunakan cara diatas sekitar 15 menit sebelum menyusui. Sehingga bayi Anda  akan dapat bernapas dan mengisap pada waktu yang sama.  Oleskan petroleum jelly di luar lubang hidung bayi Anda untuk mengurangi iritasi.  Lembabkan udara. Gunakan humidifier atau vaporizer untuk melembabkan udara di kamar bayi Anda. Atau bawa bayi Anda ke kamar mandi dengan Anda, menyalakan air panas, menutup pintu, dan duduk di ruang beruap selama sekitar 15 menit. Mandi hangat dapat mencapai efek yang sama.    Sumber: babycenter