Your browser does not support JavaScript!
 19 Jun 2019    11:00 WIB
Vaksin Bagi Penderita HIV/AIDS
Jika anda terinfeksi oleh HIV atau menderita AIDS, maka anda membutuhkan pertahanan lebih terhadap berbagai infeksi seperti flu akibat penurunan sistem kekebalan tubuh anda yang membuat anda sulit melawan berbagai infeksi. Vaksin atau imunisasi dapat membantu tubuh anda mempertahan dirinya dari berbagai infeksi. Akan tetapi, bila anda menderita HIV/AIDS, maka efek imunisasi yang anda alami dapat berbeda dengan efek imunisasi pada orang lain yang tidak menderita HIV/AIDS.Tidak semua vaksin aman diberikan pada penderita HIV/AIDS. Vaksin yang dibuat dari virus hidup yang dilemahkan dapat menyebabkan penderita HIV/AIDS mengalami infeksi ringan. Penderita HIV/AIDS hanya dapat menerima vaksin tertentu yang tidak lagi mengandung virus atau bakteri hidup di dalamnya.Efek Samping VaksinSiapapun dapat mengalami beberapa efek samping vaksin di bawah ini, baik anda menderita HIV/AIDS ataupun tidak. Beberapa efek samping tersebut adalah: •    Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan pada bekas tempat suntikan vaksin•    Badan terasa lemah•    Merasa lelah•    Mual Bila anda menderita HIV/AIDS, maka terdapat beberapa efek samping tambahan saat anda menerima vaksin, yaitu: •    Vaksin dapat meningkatkan jumlah HIV di dalam tubuh anda•    Vaksin mungkin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya bila kadar CD4 (salah satu jenis sel darah putih) anda terlalu rendah. Mengkonsumsi obat antiretrovirus kuat sebelum pemberian vaksin mungkin dapat membantu bila kadar CD4 anda rendah•    Vaksin yang berisi virus hidup yang telah dilemahkan dapat membuat anda mengalami infeksi yang seharusnya dicegah melalui pemberian vaksin tersebut. Oleh karena itu, anda sebaiknya menghindari menerima vaksin berisi virus hidup seperti cacar air atau flu. Selain itu, hindarilah kontak dekat dengan seseorang yang baru saja menerima vaksin berisi virus hidup tersebut selama 2-3 minggu. Vaksin MMR (measles, mumps, dan rubella) merupakan satu-satunya vaksin berisi virus hidup yang kadangkala masih boleh diberikan pada penderita HIV/AIDS. Akan tetapi, hindari vaksin MMR bila kadar CD4 anda kurang dari 200, mengalami gejala HIV, mengalami gejala AIDSVaksin yang Diperlukan Oleh Penderita HIV Bagi Seluruh Orang Dewasa Dengan HIV Positif Hepatitis B (HBV)Vaksin hepatitis B diberikan dalam 3 kali suntikan dalam waktu 6 bulan. Vaksin tidak diberikan bila anda sedang menderita hepatitis atau bila anda masih memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B. Lakukanlah pemeriksaan darah untuk memeriksa kekebalan setelah anda menerima 3 kali suntikan vaksin hepatitis B. Jika kadar kekebalan anda terlalu rendah, maka anda mungkin membutuhkan pemeriksaan lainnya. Vaksin ini efektif selama sekitar 10 tahun. InfluenzaVaksin influenza hanya diberikan satu kali melalui suntikan. Ulangilah pemberian vaksin setiap tahunnya untuk memperoleh perlindungan terbaik. MMR (Measles, Mumps, Rubella)Vaksin MMR diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Anda tidak perlu menerima vaksin ini bila anda lahir sebelum tahun 1957. Vaksin MMR merupakan satu-satunya vaksin yang mengandung virus hidup yang boleh diberikan pada penderita HIV positif, akan tetapi hanya bila jumlah CD4 anda lebih dari 200. PneumoniaVaksin pneumonia ini dapat diberikan melalui 1 atau 2 kali suntikan. Lakukanlah vaksinasi ini segera setelah anda terdiagnosa HIV, kecuali bila anda telah menerima vaksin ini dalam waktu 5 tahun terakhir. Vaksin ini akan efektif dalam waktu 2-3 minggu setelah pemberian. Bila anda menerima vaksin saat jumlah CD4 anda kurang dari 200, maka ulangi pemberiannya setelah jumlah CD4 anda mencapai 200. Ulangi pemberian vaksin setiap 5 tahun. DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) atau DT (Difteria dan Tetanus)Vaksin DT atau DPT diberikan melalui satu suntikan dan diulang setiap 10 tahun. Pemberian vaksin dilakukan segera setelah anda mengalami luka seperti luka terbuka yang lebar yang harus dijahit. Hanya Bagi Beberapa Orang Dewasa Dengan HIV PositifHepatitis A (HAV)Vaksin hepatitis A diberikan dalam 2 suntikan dalam waktu 6 bulan. Pemberian vaksin ini dianjurkan pada:•    Pekerja di bidang kesehatan•    Pria yang berhubungan seksual dengan pria•    Pengguna obat yang diberikan melalui suntikan •    Penderita penyakit hati kronik•    Penderita hemophilia•    Orang yang berpergian ke negara tertentuVaksin ini efektif selama setidaknya 20 tahun. Kombinasi Hepatiti A dan BDiberikan melalui 3 suntikan dalam waktu 1 tahun. Vaksin ini diberikan pada orang yang memerlukan vaksin hepatitis A dan B. Meningitis Bakterial (Haemophilus influenza tipe B)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menerima vaksin ini. Meningitis Bakterial (Meningococcal)Vaksin ini diberikan melalui 1 suntikan. Direkomendasikan bagi mahasiswa, pelajar, anggota militer, dan orang yang berpergian ke negara tertentu. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: webmd
 17 Feb 2019    18:00 WIB
Kenali Gejala Infeksi HIV Berdasarkan Stadiumnya
HIV-AIDS merupakan kondisi yang selalu dianggap mengerikan oleh hampir kebanyakan orang. Namun tidak semua orang tahu apa beda dari HIV dan AIDS. HIV adalah virus yang menyerang manusia, sedangkan AIDS adalah sebutan tahap akhir dari infeksi HIV. Banyak orang yang statusnya adalah HIV, namun buka berarti dia akan terkena AIDS.   Agar Anda lebih mengerti mengenai gejala infeksi HIV berdasarkan stadiumnya, berikut adalah uraian yang dapat Anda simak: Stadium IInfeksi HIV memiliki 3 stadium. Stadium pertama disebut dengan infeksi akut ataru serokonversi, yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 minggu setelah terinfeksi oleh HIV. Pada keadaan ini, sistem kekebalan tubuh anda masih berusaha melawan HIV. Berbagai gejala yang terjadi pada stadium pertama ini biasanya sama dengan berbagai infeksi virus lainnya dan seringkali dikira sebagai flu. Gejala dapat berlangsung selama 1-2 minggu dan kemudian sembuh total. Beberapa gejala yang dapat anda temukan adalah:•  Nyeri kepala•  Diare•  Mual dan muntah•  Merasa sangat lelah•  Nyeri otot•  Nyeri tenggorokan•  Adanya bercak-bercak kemerahan pada kulit yang tidak gatal, biasanya terjadi pada daerah batang tubuh•  DemamStadium II (Periode Tanpa Gejala)Setelah melewati stadium pertama atau saat sistem kekebalan tubuh anda tidak dapat melawan infeksi HIV (kalah), berbagai gejala di atas pun akan menghilang dan infeksi HIV pun memasuki stadium kedua, yang dapat berlangsung lama tanpa menimbulkan gejala apapun (periode asimptomatik). Pada stadium ini, penderita biasanya tidak menyadari dirinya telah terinfeksi oleh HIV dan menularkannya pada orang lain. Stadium ini dapat berlangsung selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini, HIV membunuh sel CD4 secara perlahan dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh anda. Anda dapat memeriksa kadar CD4 anda melalui pemeriksaan darah. Pada keadaan normal, CD4 biasanya berjumlah antara 450-1.400 sel/µL. Jumlah ini dapat berubah-ubah tergantung pada keadaan kesehatan seseorang. Akan tetapi, penderita HIV biasanya mengalami penurunan kadar CD4 secara konstan, yang membuatnya rentan terhadap berbagai infeksi lain.Stadium IIIStadium III adalah saat penderita HIV telah mengalami AIDS (acquired immune deficiency syndrome), yaitu saat CD4 berjumlah kurang dari 200 sel/µL. Selain penurunan kadar CD4, seorang penderita HIV dapat didiagnosa AIDS bila ia menderita sarkoma Kaposi (suatu jenis kanker kulit) atau pneumonia pneumokistik (suatu gangguan paru-paru). Berbagai obat HIV dapat membantu membangun kembali sistem kekebalan tubuh anda, walaupun juga memiliki berbagai efek samping. Orang yang memiliki kadar CD4 yang sangat rendah juga harus mengkonsumsi obat-obatan lain untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik. Obat-obatan ini harus dikonsumsi hingga telah terjadi peningkatan kadar CD4. Beberapa penderita HIV mungkin tidak menyadari dirinya menderita HIV hingga mengalami beberapa gejala di bawah ini, yaitu:•  Selalu merasa lelah•  Mengalami pembesaran kelenjar getah bening leher atau selangkangan•  Demam yang berlangsung selama lebih dari 10 hari•  Berkeringat di malam hari•  Mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas•  Adanya bintik keunguan pada kulit yang tidak dapat hilang•  Sesak napas•  Diare berat dan telah berlangsung lama•  Menderita infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina•  Mudah memar atau mengalami perdarahan tanpa penyebab yang jelas Untuk kondisi yang satu ini selalu tanyakan pada ahlinya, sehingga Anda tidak membuat kesimpulan yang salah dan merugikan orang lain.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.    Sumber: webmd
 20 Dec 2018    11:00 WIB
Kenali Berbagai Jenis Gangguan Kulit Pada HIV/AIDS
HIV merupakan virus penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Virus ini melemahkan kemampuan seseorang untuk melawan berbagai infeksi dan kanker. Penderita HIV dikatakan telah menderita AIDS bila virus ini telah membuat mereka sakit dan menyebabkan timbulnya berbagai infeksi atau kanker. Karena HIV melemahkan sistem pertahanan tubuh, penderita AIDS akan lebih mudah mengalami berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan kulit. Bahkan beberapa gangguan kulit dapat menjadi tanda pertama bahwa seseorang menderita HIV, terutama Kaposi sarkoma. Beberapa kelainan kulit di bawah ini juga dapat diderita oleh setiap orang yang bukan penderita HIV/AIDS.   Thrush Thrush merupakan infeksi pada mulut yang disebabkan oleh infeksi jamur candida. Gejala thrush yang sering ditemukan adalah adanya lapisan berwarna putih, menyerupai krim yang biasanya terlihat pada lidah dan pipi bagian dalam, serta kadang ditemukan pada langit-langit mulut, gusi, amande, atau tenggorokan. Lesi ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan menimbulkan perdarahan bila anda mencoba untuk membersihkan atau mengangkatnya. Infeksi candida dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya, termasuk paru-paru, hati, dan kulit. Keadaan ini lebih sering terjadi pada penderita kanker, HIV, atau berbagai gangguan kesehatan lainnya yang melemahkan sistem pertahanan tubuh anda. Gejala-gejala yang timbul dapat sangat berat dan sulit diobati pada orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Pengobatan thrush adalah obat anti jamur yang diberikan selama 10-14 hari.   Kaposi Sarkoma Kaposi sarkoma merupakan suatu jenis kanker yang terjadi pada kulit dan membran mukosa. Keadaan ini biasanya terjadi pada penderita HIV/AIDS dan berhubungan dengan virus herpes. Kaposi sarkoma tampak sebagai suatu lesi berwarna keunguan atau kehitaman pada kulit. Akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh karena AIDS, maka Kaposi sarkoma dapat menyebar dengan cepat ke berbagai bagian tubuh, termasuk organ-organ dalam. Kaposi sarkoma dapat diatasi dengan tindakan pembedahan (mengangkat lesi dan kulit sekitarnya), kemoterapi, radiasi, atau terapi biologis (menggunakan sel tubuh sendiri untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh). Pengobatan HIV biasanya merupakan pengobatan terbaik bagi Kaposi sarkoma karena dapat meningkatkan sistem kekbalan tubuh sehingga dapat menyembuhkan Kaposi sarkoma ini.   Leukoplakia Pada Mulut Leukoplakia merupakan infeksi yang terjadi pada mulut, yang tampak sebagai suatu lesi berwarna putih pada bagian bawah atau samping lidah. Keadaan ini dapat merupakan salah satu tanda HIV/AIDS. Infeksi ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Leukoplakia mungkin tampak sebagai suatu lapisan datar dan halus atau lapisan menonjol dan berambut. Lesi ini tidak menimbulkan rasa nyeri atau rasa tidak nyaman, oleh karena itu biasanya tidak memerlukan pengobatan. Kelainan ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya dan kemudian kembali terjadi. Jika diperlukan, leukoplakia ini dapat diatasi dengan pemberian acyclovir, suatu obat anti virus.   Moluskum Kontagiosum Moluskum kontagiosum merupakan suatu infeksi yang ditandai oleh benjolan halus berwarna putih atau kemerahan pada kulit. Keadaan ini disebabkan oleh virus dan dapat menular. Keadaan ini bukan merupakan keadaan yang serius dan benjolan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Akan tetapi, pada penderita HIV, infeksi dapat menjadi kronik dan progresif akibat sistem kekebalan tubuh yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bila diperlukan, dokter dapat mengangkat benjolan ini. Pengobatannya dapat berupa pemberian krim asam retinoid atau imiquimod. Bagaimanapun juga, pengobatan terbaik bagi keadaan ini adalah dengan mengobati HIV sehingga sistem kekebalan tubuh dapat kembali normal dan moluskum pun akan sembuh.   Herpes Simpleks Terdapat 2 jenis virus herpes, yaitu herpes simpleks 1 (HSV1), yang sering mengenai daerah mulut dan sekitarnya, serta herpes simpleks 2 (HSV2), yang paling sering mengenai orang reproduksi dan daerah sekitarnya. Virus herpes dapat ditularkan melalui kontak langsung, seperti saat berciuman atau berhubungan seksual. Tidak ada pengobatan untuk herpes, maka setelah seseorang terinfeksi oleh herpes, virus ini akan tetap ada di dalam tubuhnya. Virus akan tinggal diam di dalam sel saraf (laten) hingga sesuatu memicunya untuk aktif kembali. Pengobatan kekambuhan infeksi herpes ini adalah melalui pemberian obat antivirus.   Cacar Air Cacar air merupakan suatu keadaan akibat infeksi virus herpes zoster. Virus ini akan tetap tinggal di dalam sel-sel saraf penderitanya dan dapat kembali aktif di kemudian hari dan menimbulkan penyakit. Gejala awal cacar air adalah adanya perasaan geli, gatal, mati rasa, dan tertusuk-tusuk pada kulit. Berbagai gejala lainnya yang dapat timbul beberapa hari kemudian adalah adanya benjolan pada wajah atau badan (biasanya hanya pada satu sisi tubuh), kecil, berisi air, berwarna merah, dan nyeri yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Seperti halnya berbagai penyakit lain yang disebabkan oleh virus, tidak ada pengobatan untuk mengatasinya. Akan tetapi, penyakit ini biasanya akan sembuh sendiri dan pengobatan biasanya hanya diberikan untuk mengatasi gejala penyerta. Obat anti virus dapat diberikan  untuk mengendalikan infeksi dan mengurangi keparahan serta lama penyakit.   Psoriasis Psoriasis merupakan kelainan kulit yang sering ditemukan yang menyebabkan timbulnya suatu bercak bersisik berwarna kemerahan. Bercak ini biasanya terjadi pada kulit kepala, siku, lutut, dan punggung bawah serta hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh. Selain itu, psoriasis juga dapat mengenai kuku. Psoriasis tidak dapat disembuhkan, akan tetapi pengobatan dapat diberikan untuk mengurangi gejala dan keparahannya. Beberapa obat-obatan yang biasa diberikan adalah krim steroid, salep vitamin D dan retinoid. Terapi sinar dapat diberikan pada keadaan berat.   Dermatitis Seboroik Dermatitis seboroik merupakan suatu peradangan pada kulit di sekitar kelenjar minyak, terutama pada kepala, wajah, dada, punggung atas, dan kemaluan. Saat kelenjar minyak ini meradang, maka kelenjar akan memproduksi minyak secara berlebihan dan menyebabkan kulit menjadi merah dan mengelupas. Tidak ada pengobatan untuk dermatitis seboroik. Untuk mengatasinya anda dapat menggunakan shampo yang mengandung ter, seng, dan selenium sulfat. Pengobatan lainnya adalah dengan pemberian salep kortikosteroid. Pada penderita HIV, pengobatan HIV yang meningkatkan kembali sistem kekebalan tubuh dapat mengatasi dermatitis seboroik. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber: webmd  
 19 Dec 2018    11:00 WIB
Seperti Apa Gejala dan Stadium HIV
Siapa yang tidak tahu penyakit hiv, ini salah salah satu serangan virus yang mematikan, dan merupakan penyakit yang mendunia, karena hampir seluruh negara, masyarakatnya terjangkit oleh virus ini. Contohnya salah satu populasi hiv terbesar, yang berada di urutan pertama adalah Afrika timur dan Selatan, kedua Afrika Barat dan Tengah, ketiga Asia & Pasifik, keempat Timur Tengah & Afrika Utara, kelima Amerika Latin dan Karibia, keenam Eropa Timur & Asia Tengah dan yang ketujuh Eropa Barat, Eropa Tengah & Amerika Utara. Mengerikan bukan, karena virus ini bisa menyerang siapa saja, tidak pandang bulu dan penularannya kebanyakan melalui hubungan seks. Apalagi di jaman sekarang ini, prostitusi semakin merajalela, bertambahnya komunitas LGBT dan tidak sedikit orang yang terlibat seks bebas. Bahkan kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya dan resiko kematian yang akan ditimbulkan virus ini. Nah, sahabat, sebelumnya di benak kita sudah muncul beberapa pertanyaan tentang hiv bukan? seperti, Apa itu HIV/ AIDS? Bagaimana penularannya? Apa yang diserang virus ini? Gejala apa yang ditimbulkan? Apakah ada obatnya? Untuk selengkapnya, mari kita bahas. HIV adalah virus yang menyebabkan infeksi HIV. AIDS adalah tahap infeksi HIV paling tinggi. HIV menular dan menyebar melalui kontak dengan darah, air mani, cairan pra-seminal, cairan rektal, cairan vagina, atau ASI pada orang yang mengidap HIV. Di Amerika Serikat, HIV menyebar terutama dengan melakukan seks anal atau vaginal atau berbagi peralatan narkoba, seperti jarum suntik. HIV secara bertahap menghancurkan sistem kekebalan tubuh, dengan menyerang dan membunuh sel darah putih yang disebut sel CD4. Sel CD4 memainkan peran utama dalam melindungi tubuh dari infeksi. HIV menggunakan sel CD4 untuk berkembang biak (membuat salinannya sendiri) dan menyebar ke seluruh tubuh. Proses ini, disebut siklus hidup HIV. Gejala-gejala yang ditimbulkan virus HIV, adalah: Flu, luka genital, luka mulut, nyeri otot, berkeringat di malam hari, panas dingin, sakit kepala, diare, mual dan muntah, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, kelenjar getah bening membengkak, ruam merah, dan demam. Pada dasarnya tidak ada obat untuk infeksi HIV, tetapi obat-obatan HIV yang disebut ARV (Antiretrovirals) dapat memperlambat atau mencegah HIV berkembang dari satu tahap ke tahap berikutnya. Obat-obatan HIV membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan sehat. Obat-obatan HIV melindungi sistem kekebalan tubuh, dengan memblokir (memperlambat) penyebaran virus HIV, pada berbagai tahap siklus atau tahap stadium lanjut. Tanpa pengobatan dengan obat-obatan HIV, infeksi HIV meningkat secara bertahap, dan bisa semakin memburuk dari waktu ke waktu. Infeksi HIV mempunyai 3 tahap (stadium), yaitu: 1. Infeksi HIV akut. adalah tahap paling awal infeksi HIV, dan umumnya berkembang dalam 2 hingga 4 minggu setelah terinfeksi HIV. Dan gejala yang timbul biasanya seperti gejala flu, demam, sakit kepala, dan ruam. Pada tahap akut infeksi, HIV berlipat ganda dengan cepat dan menyebar ke seluruh tubuh. Selama tahap infeksi HIV akut, tingkat HIV dalam darah menjadi sangat tinggi, yang sangat meningkatkan risiko penularan HIV.   2. Infeksi HIV kronis. Ini adalah tahap kedua dari infeksi HIV, yang juga disebut infeksi HIV asimtomatik atau latensi klinis. Selama tahap ini, HIV terus berkembang biak di dalam tubuh tetapi pada tingkat yang sangat rendah. Orang dengan infeksi HIV kronis mungkin tidak memiliki gejala terkait HIV, tetapi mereka masih dapat menyebarkan HIV ke orang lain. Tanpa pengobatan dengan obat-obatan HIV, infeksi HIV kronis biasanya berkembang menjadi AIDS dalam 10 tahun atau lebih lama, meskipun pada beberapa orang, virus ini dapat berkembang lebih cepat.   3. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). AIDS adalah tahap terakhir dari infeksi HIV yang paling berat. Karena HIV telah merusak sistem kekebalan tubuh, tubuh tidak dapat melawan infeksi oportunistik. (Infeksi oportunistik adalah infeksi dan kanker terkait infeksi, yang terjadi lebih sering atau lebih parah pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah daripada pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat.) Orang dengan HIV didiagnosis menderita AIDS jika mereka memiliki jumlah CD4 kurang dari 200 sel / mm3 atau jika mereka memiliki infeksi oportunistik tertentu. Tanpa pengobatan, penderita AIDS biasanya hanya bertahan hidup sekitar 3 tahun.   Nah, sahabat, setelah mengetahui kebenaran di atas, bukankah dari sekarang kita harus makin waspada dan menjauhkan diri dari yang namanya narkoba, dan seks bebas, karena sekali terinfeksi virus ini, penyesalanpun tiada guna.   Sumber : www.webmd.com, 
 06 Apr 2018    16:00 WIB
Gigitan Nyamuk Bisa Menularkan Virus HIV, Hal Ini Benar Atau Tidak?
Sejak awal epidemi HIV, ada kekhawatiran tentang penularan HIV melalui serangga yang menggigit dan menghisap darah, seperti nyamuk. Pemikiran karena banyak penyakit, seperti demam malaria dan Zika, mudah ditularkan melalui gigitan serangga maka ada yang berpikir bahwa virus HIV juga bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk. Studi epidemiologi yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Infection di Atlanta tidak menunjukkan bukti adanya penularan HIV melalui nyamuk atau serangga lainnya, bahkan di negara-negara dengan tingkat HIV yang sangat tinggi dan jumlah nyamuk yang tidak terkontrol.   Mengapa HIV Tidak Dapat Ditularkan Melalui Nyamuk Dari perspektif biologis, gigitan nyamuk tidak mengakibatkan penularan darah ke darah (yang akan dianggap sebagai rute infeksi virus darah seperti HIV). Sebagai gantinya, serangga menyuntikkan air liur dan antikoagulan yang memungkinkan nyamuk tersebut memberi makan lebih efisien. Dengan demikian, darah itu sendiri tidak disuntikkan dari orang ke orang. Sementara penyakit seperti demam kuning dan malaria mudah ditularkan melalui sekresi ludah dari spesies nyamuk tertentu, HIV tidak memiliki kemampuan untuk bereproduksi atau berkembang dalam serangga karena tidak ada sel inang (seperti sel T), yang virus buktikan untuk bereplikasi. Sebagai gantinya, virus dicerna di dalam usus nyamuk bersama sel darah yang dimakan serangga. Bahkan jika HIV bertahan untuk jangka waktu yang singkat, jumlah virus yang bisa dibawa oleh nyamuk untuk ditularkan adalah hal yang tidak mungkin. Dibutuhkan sekitar 10 juta nyamuk untuk menghasilkan virus yang cukup untuk memungkinkan penularan.   Jenis Penyakit Yang Ditulatkan Nyamuk Nyamuk tidak mengancam penularan HIV, namun ada jenis penyakit lain yang terkait dengan gigitan nyamuk, diantaranya: Chikungunya Demam berdarah Filariasis Japanese ensefalitis Malaria Demam kuning Demam zika Nyamuk diketahui membawa penyebab penyakit menular, seperti virus dan parasit. Nyamuk diperkirakan menularkan penyakit ke lebih dari 700 juta orang setiap tahun yang mengakibatkan jutaan kematian akibatnya.   Wabah penyakit ini paling sering terlihat di Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, di mana merupakan daerah beriklim sedang dan kurangnya kontrol nyamuk memberikan kesempatan lebih besar untuk penyebaran penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.   Baca juga: Tips Menghilangkan Noda Hitam Bekas Gigitan Nyamuk   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang     Sumber: verywell
 03 Apr 2018    16:00 WIB
Berciuman Bisa Menularkan Virus HIV?
Penyebaran virus HIV bisa dibilang sebagai salah satu penyakit menular seksual yang paling ditakuti dan saat seseorang melakukan aktivitas berhubungan intim yang tidak aman sangat takut akan tertular. Kemudian ada pertanyaan yang sering dikait-kaitkan yaitu "apakah berciuman dapat menularkan virus HIV?" Baiklah agar Anda menjadi lebih tahu maka akan Kami bahas disini.   Penting untuk selalu diingat bahwa ada empat kondisi yang harus dipenuhi agar penularan HIV berlangsung: Harus ada cairan tubuh di mana HIV dapat berkembang, seperti air mani, darah, cairan vagina atau ASI. HIV tidak dapat berkembang di udara terbuka atau di bagian tubuh dengan kandungan asam tinggi (seperti perut atau kandung kemih) atau pertahanan antimikroba (seperti mulut). Harus ada jalur penularan, seperti melalui aktivitas seksual yang tidak aman, menggunakan jarum suntik bersama, paparan saat bekerja, atau penularan dari ibu ke anak. Harus ada sarana agar virus bisa mencapai sel rentan di dalam tubuh Anda, entah melalui kerusakan atau penetrasi melalui kulit, penyerapan melalui jaringan mukosa, atau keduanya. HIV tidak bisa menembus kulit utuh. Harus ada cukup kadar virus dalam cairan tubuh, itulah sebabnya air liur, keringat dan air mata bukanlah sumber karena tingkat virus dalam cairan ini dianggap tidak mencukupi untuk infeksi.   Berdasarkan kondisi tersebut, kemungkinan penularan HIV dengan berciuman tidak hanya dianggap rendah namun sangat langka. Berciuman dianggap sebagai cara yang paling tidak efektif untuk menularkan virus HIV dari orang ke orang lain.   Sampai saat ini, hanya ada satu, kasus yang agak meragukan dimana seorang wanita HIV negatif dikatakan telah terinfeksi oleh pasangan laki-laki HIV positif, yang dilaporkan sangat sering berciuman secara teratur selama periode dua tahun, seringkali dengan gusi berdarah.   Apa yang membuat kasus ini dilaporkan ke Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 1996 adalah adanya fakta bahwa pasangan tersebut juga melaporkan kerusakan kondom selama periode yang sama; Melaporkan bahwa mereka telah menggunakan pelumas nonoxynol-9 (sekarang diketahui berpotensi meningkatkan risiko HIV pada wanita); Dan dilaporkan melakukan hubungan seks dengan kondom dan seks oral tanpa kondom selama rentang hubungan mereka.   Sementara CDC melaporkan bahwa mereka menduga penularan HIV "mungkin terkait dengan paparan selaput lendir pada darah yang terkontaminasi," mereka tidak dapat mengecualikan seks vaginal, seks oral, atau kemungkinan lainnya.   Meski berciuman bukanlah salah satu cara dalam menularkan virus HIV namun perlu Anda ketahui agar selalu berhati-hati dan usahakan hanya mencium pasangan resmi Anda untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan.   Baca juga: Ini Dia Cara Seks Sebabkan Terjadinya Perceraian…   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 01 Dec 2017    18:00 WIB
Deteksi dini HIV dari gejala-gejala di mulut
Apakah HIV dan AIDS itu?HIV atau Human immunodeficiency virus  adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus HIV merusak daya tahan tubuh dengan menyerang sistem kekebalan/imunitas dengan  menghancurkan sel-sel darah putih tertentu secara progresif dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Dengan rusaknya sistem kekebalan akan mempermudah semua jenis virus masuk ke tubuh manusia tanpa takut diserang oleh imun tubuh lagi.   Bagaimana penularan HIV ? Melalui hubungan seks tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan cairan mani atau cairan vagina yang mengandung virus HIV masuk ke dalam tubuh pasangannya Dari seorang ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya selama masa kehamilan, waktu persalinan dan/atau waktu menyusui. Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat pemakaian alat suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, terutama terjadi pada pemakaian bersama alat suntik di kalangan pengguna narkoba suntik. Apa saja gejala-gejala HIV di mulut ?Gejala-gejala di mulut seringkali merupakan tanda awal infeksi HIV. Infeksi jamur Infeksi jamur kandida (candidiasis) adalah salah satu tanda yang paling awal dan paling umum ditemukan pada penderita HIV/AIDS. Secara klinis candidiasis tampak sebagai bercak putih atau kombinasi bercak putih dan kemerahan yang dapat terjadi di bagian manapun di rongga mulut. Terkadang bercak ini mudah berdarah dan terdapat daerah kemerahan di bawah bercak putih, disertai rasa sakit dan rasa seperti terbakar. Infeksi virus Kondisi imun yang melemah juga membuka kesempatan yang lebih lebar bagi infeksi virus, yang paling umum adalah virus herpes dan human Papillomavirus (HPV)biasanya menyerang bibir dan sisi lidah. Selain itu juga dapat terjadi lesi oral yang mengarah kepada keganasan, yang paling sering adalah sarcoma Kaposi. Mulut Kering (xerostomia)Penderita HIV/AIDS umumnya mengalami kondisi mulut kering (dry mouth/xerostomia) karena obat-obatan yang dikonsumsi maupun karena penyakitnya itu sendiri. Dikombinasi dengan penurunan sistem imun, mulut yang kering membuat penderita lebih mudah untuk mengalami karies dentis dan penyakit periodontal HIV. Peyakit periodontal HIV Penyakit periodontal sebetulnya dapat terjadi pada siapa saja, namun khusus pada pasien dengan gangguan sistem imun seperti HIV/AIDS, memiliki tampilan yang khas. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, pada gusi kondisi ini dahulu disebut HIV-gingivitis dan kini disebut linear gingival erythema (LGE), terlihat sebagai lesi merah seperti pita di daerah gusi. LGE dapat terasa sakit dan mudah berdarah, dan dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang khas yaitu necrotizing ulcerative periodontitis (NUP) yang dahulu disebut HIV-periodontitis, di mana tulang dan jaringan lunak mengalami kerusakan yang sangat cepat dan progresif. Umumnya berujung dengan kehilangan gigi, dan seringkali disertai rasa sakit yang berat dan mudah berdarah.   Baca Juga: Mencegah HIV Dengan Pengobatan Truvada   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.
 01 Dec 2017    16:00 WIB
Tips Perawatan Penderita HIV/AIDS di Rumah
Saat seseorang mengalami infeksi HIV seringkali merasa bahwa kehidupannya telah berakhir. Padahal kehidupan ini harus terus berjalan. Jangan biarkan seolah-olah hidup ini telah berakhir. Karena menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting terutama untuk orang yang menderita HIV karena daya tahan tubuhnya biasanya akan sangat menurun dan jangan sampai menularkan HIV pada orang lain.   Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para penderita HIV-AIDS saat dirumah: Beberapa hal yang dapat  dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah:•  Cari tahu dan pelajarilah apa itu HIV untuk membantu anda mengambil keputusan dalam pengobatan anda•  Lakukanlah imunisasi dan konsumsilah obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah berbagai infeksi seperti pneumonia atau kanker yang lebih sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah•  Carilah dukungan dari teman, sahabat, atau anggota keluarga anda•  Jangan merokok karena penderita HIV lebih mudah mengalami serangan jantung atau kanker paru-paru. Merokok dapat meningkatkan resiko anda menderita keduanya•  Jangan menggunakan berbagai obat-obatan terlarang•  Batasi konsumsi alkohol anda•  Masaklah makanan anda dengan baik sehingga anda tidak menderita berbagai penyakit yang ditularkan melalui makanan•  Konsumsilah diet sehat dan seimbang untuk menjaga agar sistem kekebalan tubuh anda tetap kuat. Pelajarilah cara-cara mengatasi penurunan berat badan akibat HIV•  Berolahragalah secara teratur untuk mengurangi stress dan memperbaiki kualitas hidup anda serta mencegah timbulnya rasa sangat lelah akibat HIV Hal-hal yang Dapat Dilakukan Oleh Pasangan atau Anggota Keluarga PenderitaBeberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu pasangan atau anggota keluarga anda yang menderita HIV adalah:•  Berilah dukungan emosional pada pasangan atau anggota keluarga anda, anda dapat belajar menjadi pendengar yang baik dan terus semangati dan dukung pasangan atau anggota keluarga anda tersebut•  Lindungilah diri anda sendiri terhadap infeksi HIV atau infeksi lainnya dengan tidak menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita atau melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan apapun (kondom)•  Jagalah kebersihan diri anda, rumah anda, lingkungan sekitar rumah anda, dan penderita untuk mencegah terjadinya infeksi•  Rawat dan jagalah kesehatan diri anda sendiri. Bila anda merasa stress, anda dapat memberitahu masalah anda pada orang lain atau mencari bantuan ahli bila diperlukan•  Pelajarilah bagaimana cara memberikan obat-obatan pada penderita dan carilah bantuan saat keadaan gawat darurat Pemilihan PengobatanDokter anda harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti resistensi obat dan efek samping obat untuk menentukan pengobatan terbaik bagi infeksi HIV yang anda alami. Akan tetapi, pada beberapa orang, HIV akan berkembang menjadi AIDS yang sangat berbahaya bagi jiwa anda. Walaupun tidak dapat menyembuhkan, pengobatan HIV dapat membantu mereka yang menderita HIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Dengan demikian mereka dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan dapat melakukan berbagai keputusan penting dalam hidupnya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 01 Dec 2017    13:00 WIB
Ini Mitos dan Fakta Penularan Virus HIV/AIDS
Penyakit HIV-AIDS seringkali menjadi penyakit yang sangat menyeramkan bagi semua orang. Hal inilah yang membuat banyak orang merasa takut untuk berhubungan secara langsung dengan para penderita HIV-AIDS. Rasa takut yang berlebihan terkadang memunculkan banyak mitos menyesatkan.   Padahal tidak semua mitos semua benar, mitos apa sajakah itu? Ayo disimak ulasan dibawah ini: HIV-AIDS memang dapat menular dengan berbagai cara, namun Agar informasi yang beredar tentang HIV/AIDS tidak menyesatkan dan tidak memunculkan prasangka serta stigma buruk terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS), kenali mitos dan fakta seputar virus dan penyakit mematikan berikut ini: HIV/AIDS Bisa Disembuhkan Lewat Pengobatan Alternatif Fakta: Tak sedikit orang mengklaim mampu menyembuhkannya secara alternatif, sehingga membuat orang banyak percaya untuk menggunakan pengobatan alternatif. Namun kenyataannya sampai sekarang ini belum ditemukan obat untuk mengalahkan HIV/AIDS. Usia di atas 50 Tidak akan Tertular HIV/AIDS Fakta: Tidak benar, ada banyak kasus HIV/AIDS yang ditemukan pada usia di atas itu. Virus ini bisa menyerang segala usia. Pasangan yang sama-sama kena HIV/AIDS, tak perlu pakai ‘pengaman’ Fakta: Tidak benar. Para ahli menilai justru bila mereka tidak menggunakan kondom, bisa menyebabkan kondisi penyakit semakin parah dan proses pengobatan menjadi lebih sulit. HIV/AIDS hanya bisa menularkan kaum gay dan pengguna narkoba Fakta: HIV/AIDS dapat menginfeksi siapa saja. Bahkan, bayi, wanita, manula di atas 50 tahun, remaja, kulit hitam, putih dan hispanik. Orang-orang yang memiliki perilaku berisiko HIV/AIDS tetap dapat terinfeksi. HIV/AIDS tidak bisa tertular lewat seks oral Fakta: Sekali lagi, ini tidak benar dan ini mitos yang sangat berbahaya. Kondom harus tetap digunakan setiap kali melakukan hubungan seksual, anal, dan oral. Setelah Anda mengetahui tentang mitos diatas, jangan mudah percaya mitos-mitos yang berkembang. Jauh lebih baik tanyakan kepada dokter dan tenaga medis lain yang jauh lebih mengerti tentang hal ini.   Baca Juga: Mencegah HIV Dengan Pengobatan Truvada   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: About
 01 Dec 2017    08:00 WIB
Bunga ini Dipercaya Mencegah Virus HIV
Geranium adalah salah satu jenis bunga yang berbentuk kecil dan biasanya tumbuh bergerombol. Bunga ini memiliki warna ungu, biru, pink, atau putih. Selama ini bunga geranium diketahui sebagai tanaman yang bisa mencegah gigitan nyamuk. Namun baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ekstrak bunga geranium dipercayai bisa menyembuhkan AIDS. Peneliti dari Jerman mengungkap bahwa ekstrak tanaman geranium bisa mencegah virus HIV mengenai sel manusia. Virus HIV terbagi menjadi dua jenis, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Kedua virus tersebut bertanggung jawab menyebabkan penyakit AIDS pada manusia. Peneliti mengungkap bahwa ekstrak bunga geranium berpotensi untuk menjadi obat baru untuk mencegah virus HIV-1. Penelitian yang dilakukan di German research Centre for Environmental Health, Munich juga menemukan bahwa ekstrak geranium bisa mencegah virus untuk melakukan replikasi jenis baru dari HIV-1 dan melindungi sel kekebalan tubuh serta sel darah dari infeksi virus HIV tersebut. Para peneliti tersebut juga menemukan jika bunga Geranium mampu melindungi sel darah dan system imunitas tubuh dari infeksi virus, dengan kata lain, Geranium mampu mencegah penyebaran HIV. Peneliti telah melakukan beberapa percobaan klinis untuk mengetahui apakah efek bunga geranium aman untuk dikonsumsi manusia. Di jerman, peneliti juga telah melegalkan penggunaan ekstrak ini sebagai obat herbal untuk mencegah HIV. Ekstrak geranium cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai obat melawan HIV-1. Selain itu, geranium juga bisa didapatkan dan disimpan dengan mudah.   Baca juga: Berbagai Gejala Infeksi HIV Berdasarkan Stadiumnya   Ekstrak dari bunga Geranium ini memiliki cara kerja yang berbeda dari semua obat-obat anti HIV-1 yang telah digunakan dalam uji klinis. Hal ini menjadikan bunga Geranium sangat penting digunakan dalam pengobatan anti HIV sebagai supplemen. Selain itu penggunaan ektrak geranium dalam pengobatan anti HIV sangat menjanjikan karena hanya membutuhkan sumber daya sedikit, mudah dikembangkan dan tidak membutuhkan proses pendinginan. Berdasarkan data WHO, lebih dari 35 juta orang di dunia terkena virus HIV, kebanyakan adalah HIV-1. JIka tak segera dirawat HIV bisa menyebabkan penyakit AIDS yang sangat membahayakan dan bisa menghilangkan nyawa. Penemuan ini bisa menjadi salah satu sinar terang untuk pengembangan obat HIV/AIDS di masa depan.   Sumber : dailymail