Your browser does not support JavaScript!
 11 Mar 2018    08:00 WIB
Benarkah Olahraga Dapat Membantu Mengatasi Gangguan Depresi?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa olahraga benar-benar dapat membantu mengatasi depresi dan membuat Anda tidak mudah mengidap gangguan mood tersebut.   Pada penelitian ini, para peserta penelitian yang aktif melaporkan bahwa mereka memiliki lebih sedikit gejala depresi dibandingkan dengan peserta penelitian lain yang memiliki gaya hidup tidak aktif, di mana perbaikan gejala akan semakin tampak bila mereka semakin sering berolahraga.   Bahkan, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang tadinya tidak aktif berolahraga dan baru mulai berolahraga 3 kali seminggu dapat menurunkan resiko terjadinya depresi hingga 19%.   Karena penelitian ini dilakukan dengan mengamati lebih dari 11.000 orang selama lebih dari 30 tahun, maka para peneliti pun lebih dapat mempelajari apa sebenarnya dampak olahraga pada depresi pada orang yang sama setelah sejangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya.   Walaupun berbagai penelitian telah menemukan bahwa olahraga memang dapat membantu memperbaiki gejala depresi, akan tetapi bagaimana hal ini terjadi masih samar-samar.   Pada penelitian ini, para peneliti menduga hal ini mungkin merupakan suatu hubungan tidak langsung dengan cara mengalihkan perhatian Anda dari situasi yang tidak menyenangkan atau dengan mempengaruhi diet atau paparan sinar matahari pada penderita. Akan tetapi, para peneliti juga memiliki dugaan lainnya yaitu bahwa olahraga mungkin bekerja secara langsung pada otak Anda.     Sumber: menshealth
 13 Feb 2018    11:00 WIB
Benarkah Obat Anti Depresi Dapat Mencegah Penyakit Alzheimer?
Sebuah penelitian menemukan bahwa obat anti depresi yang banyak digunakan saat ini dapat menghambat pembentukan salah satu hal yang diduga merupakan penyebab terjadinya penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer dicirikan dengan adanya plak yang melekat pada sel-sel otak yang telah mulai terbentuk 10-15 tahun sebelum gejala pertama Alzheimer muncul. Plak ini tersusun dari suatu protein, yaitu beta amiloid. Pada penelitian ini, para peneliti sedang memeriksa apakah mungkin untuk menghambat pembentukan plak dengan cara mengubah proses pembentukan amiloid di dalam tubuh. Pada penelitian ini, para penelitian melakukan pemeriksaan melalui 2 tahap. Pada tahap pertama, para peneliti memberikan citalopram (salah satu jenis obat anti depresan) pada tikus yang sudah tua, yang juga mengalami kerusakan otak seperti halnya penderita Alzheimer. Walaupun plak pada hewan percobaan yang diamati tidak menghilang, akan tetapi plak ini tidak lagi bertambah banyak atau hanya mengalami sedikit pembentukan plak bila dibandingkan dengan tikus lain yang hanya diberikan air gula. Pada tahap kedua, para peneliti memberikan dosis tunggal citalopram atau plasebo pada 23 orang dewasa muda sehat, yang tidak menderita depresi atau cukup tua untuk memiliki plak pada otak. Melalui pemeriksaan cairan medulla spinalis para peserta penelitian satu setengah hari setelah pemberian citalopram, para peneliti menemukan bahwa produksi amiloid mereka mengalami penurunan hingga 37%. Citalopram merupakan obat anti depresi golongan SSRI yang dapat mengatasi gangguan depresi dengan cara mempengaruhi kadar serotonin di dalam otak. Seperti halnya obat-obatan, citalopram juga memiliki efek samping, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi, yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah obat anti depresi dapat benar-benar membantu mencegah pembentukan plak baru di dalam otak, serta apakah obat ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk menurunkan produksi amiloid atau apakah tubuh akan mengalami reaksi toleransi obat. Sumber: newsmaxhealth
 05 Feb 2018    16:00 WIB
3 Cara Menghindari Depresi Akibat Media Sosial
Sekarang ini rasanya hampir semua orang memiliki media sosial dan menjadi sesuatu yang wajib untuk menbagi cerita yang dialami entah itu kebahagiaan seperti baru jadian, baru dilamar, baru melahirkan, aktivitas anak atau juga sedang merasa galau, baru putus. Semua ini menjadi sesuatu hal yang harus dibagikan ke media sosial. Media sosial merupakan media yang baik karena Anda bisa bersosialisasi dengan teman-teman Anda, bisa bertemu kembali dengan teman lama, berkenalan dengan teman baru dan ikut aktivitas menyenangkan karena media sosial. Akan tetapi media sosial juga bisa memberi efek buruk misal ada teman yang selalu pamer, hal ini bisa saja menimbulkan rasa iri bahkan merasa stress dan depresi. Ini semua merupakan efek buruk. Jadi, bagaimana kita bisa menghindari efek negatif media sosial?   3 Cara Menghindari Depresi Akibat Media Sosial Memiliki Batas Waktu Brown menyarankan untuk mencatat waktu yang kita habiskan untuk media sosial setiap hari selama seminggu dan mencoba mengekangnya. Misalnya, dia menulis: Banyak orang yang menghabiskan harinya lebih banyak menggunakan media sosial, rasanya sudah lupa akan semua hal. Salah satu cara yang dapat Anda lakukan dalam menghindari efek buruk akibat media sosial adalah dengan memiliki batas waktu. Kurangi waktu Anda menggunakan media sosial setengah dari waktu Anda biasa menggunakan media sosial. Anda dapat membatasi penggunaan dengan memblokir komunikasi dan pemberitahuan dari aplikasi sosial seperti Facebook agar tidak terganggu atau dibanjiri informasi. Ganti penggunaan Gagasan mengubah cara kita menggunakan media sosial adalah mencegah kita membandingkan diri kita dengan orang lain dan merasa cemburu. Jika kita membatasi media sosial untuk melakukan percakapan nyata dengan teman, ini akan menambah hubungan dalam kehidupan nyata, membantu kita merencanakan pertemuan, dan meningkatkan kesejahteraan kita. Lain kali saat mengunjungi sebuah situs, maka Anda harus mulai dengan bertanya pada diri sendiri apa tujuan dari Anda menggunakan media sosial/ Dapatkan Sumber Berita di Luar Media Sosial Sangat mudah untuk mendapatkan semua berita dari media sosial, tapi ini juga berarti kita bisa terganggu karena mencoba untuk tetap waspada. Ketika mendapatkan sumber berita dari media sosial, cenderung terpikat menjelajah media sosial orang lain atau membaca berita palsu. Orang yang menggunakan media sosial sangat sering memiliki 2,7 kali kemungkinan mengalami depresi dibandingkan pengguna yang jarang melihat media sosial. Depresi pada penyebab utama kecacatan di A.S., dan ini mempengaruhi sekitar 6,7 persen populasi berusia 18 dan lebih tua pada tahun tertentu. Pemantauan penggunaan media sosial dapat membantu menjaga kesehatan mental.   Baca juga: Keluar Cairan Abnormal dari Payudara, Apakah Sebabnya???   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: littlethings
 19 Nov 2017    14:00 WIB
Penyebab dan Gejala Depresi
Rasa sedih memang dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja, akan tetapi bila rasa sedih ini terus berlangsung selama beberapa hari, maka hal ini dapat merupakan tanda terjadinya depresi. Depresi merupakan suatu rasa sedih atau acuh tak acuh yang disertai dengan berbagai gejala lain yang berlangsung selama setidaknya 2 minggu berturut-turut dan cukup berat hingga mengganggu aktivitas anda sehari-hari. Depresi bukan merupakan suatu kelemahan atau bentuk dari kepribadian yang negatif. Depresi merupakan suatu gangguan kesehatan yang dapat diobati. Apakah Anda Beresiko?Depresi dapat mengenai siapa saja, akan tetapi para ahli menduga bahwa faktor genetika pun ikut berperan. Resiko terjadinya depresi akan lebih tinggi pada orang yang memiliki orang tua atau saudara yang mengalami depresi. Wanita memiliki resiko depresi dua kali lebih tinggi daripada pria. Penyebabnya:Para ahli masih tidak mengetahui penyebab pasti dari depresi, akan tetapi perubahan struktur otak dan gangguan keseimbangan neurotransmiter di dalam otak diduga sebagai penyebab terjadinya depresi.Gangguan keseimbangan neurotransmiter ini diduga disebabkan oleh adanya peristiwa traumatis atau stress seperti kehilangan seseorang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan.Berbagai hal lainnya yang juga dapat memicu terjadinya depresi adalah:•    Efek samping obat-obatan tertentu•    Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang•    Perubahan hormonal•    Perubahan cuaca Gejalanya: Perubahan Emosional Gejala utama depresi adalah perasaan sedih dan atau kehilangan minat atau ketertarikan terhadap apapun di dalam kehidupannya. Penderita tidak lagi merasa senang saat melakukan suatu aktivitas yang disukainya. Selain itu, penderita juga seringkali dihantui oleh perasaan bersalah atau tidak berharga, putus asa, dan adanya pikiran berulang tentang kematian atau adanya keinginan untuk bunuh diri.   Gejala Fisik Berbagai gejala fisik yang dapat dialami oleh penderita depresi adalah:•    Merasa sangat lelah•    Merasa tidak bertenaga•    Insomnia, terbangun saat subuh dan tidak dapat tertidur kembali•    Tidur lama dan sering•    Nyeri otot yang persisten, nyeri kepala, kram otot, dan gangguan pencernaan yang tidak membaik setelah pemberian obat-obatanDepresi dapat membuat berbagai gangguan kesehatan lainnya memburuk, terutama nyeri kronik. Perubahan Nafsu MakanPerubahan nafsu makan atau berat badan merupakan ciri khas lainnya dari depresi. Beberapa penderita mengalami peningkatan nafsu makan, sementara penderita lainnya kehilangan nafsu makannya. Orang yang menderita depresi dapat mengalami penurunan atau peningkatan berat badan yang cukup berat. Waspadai Tanda-tanda Bunuh Diri Penderita depresi lebih sering melakukan tindakan bunuh diri. Tanda-tanda akan terjadinya tindakan bunuh diri adalah:•    Membicarakan tentang kematian atau tentang keinginan bunuh diri•    Mengancam untuk menyakiti orang lain•    Memiliki perilaku agresif atau berbahaya Sumber: webmd
 30 Sep 2017    08:00 WIB
Kaitan Depresi dengan Gagal Jantung
Sebuah studi terbaru mengatakan depresi dapat meningkatkan terjadinya gagal jantung.Para ahli melakukan penelitian terhadap 63.000 orang di Norwegia yang menjalani pemeriksaan fisik dan mental. Penelitian ini berlangsung selama 11 tahun dan sebanyak 1.500 partisipan ternyata mengidap gagal jantung. Kemudian dilakukan perbandingan tingkat depresi, orang-orang yang tidak memiliki gejala depresi atau mengalami depresi ringan hanya 5% yang mengalami gejala-gejala gagal jantung, sedangkan sebanyak 40% orang dengan tanda-tanda depresi sedang dan berat juga mengalami gagal jantung.Hasil studi ini telah dipresentasikan pada pertemuan ahli jantung di the European Society of Cardiology in Stavanger yang berlangsung di Norwegia. Gejala-gejala depresi dapat meningkatkan resiko terkena gagal jantung, dan semakin berat gejala depresi yang dialami, semakin tinggi resiko terkena gagal jantung. Hal ini dikarenakan orang-orang dengan depresi mempunyai gaya hidup yang tidak sehat sehingga semakin meningkatkan faktor resiko dari penyakit jantung seperi obesitas dan merokok. Pada orang dengan gagal jantung, jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Studi ini memang tidak dapat membuktikan bagaimana depresi dapat berkembang menjadi gagal jantung, mereka hanya membuktikan bahwa kedua kondisi ini saling terkait.   Depresi akan merangsang munculnya hormon stress. Jika Anda stress Anda akan merasakan nadi Anda meningkat, nafas semakin cepat dan akan mempercepat keluarnya hormon stress. Hormon stress ini akan menyebabkan munculnya inflamasi dan mempercepat terbentuknya plak di dinding pembuluh darah. Hal-hal tersebut dapat mempercepat timbulnya penyakit jantung. Ditambah lagi orang-orang dengan depresi akan lebih sulit mengikuti obat-obatan dan perubahan gaya hidup untuk meningkatkan kesehatan Anda. Sebenarnya depresi dapat diobati dengan mudah jika ditangani sejak dini dan tidak memerlukan obat-obatan. Cukup berkonsultasi dengan dokter ahli saja. Ingin mengetahui lebih dalam mengenai gagal jantung? Silahkan membaca di siniSumber: webmd
 19 Jun 2017    18:00 WIB
Selamatkan Ibu Yang Baru Melahirkan Dari Depresi Paska Melahirkan! Lawan Dengan 10 Cara Ini
Berdasarkan data dari National Institute of Mental Health, depresi paska melahirkan bisa terjadi sampai 15% pada wanita yang melahirkan. Hal ini bisa terjadi menjelang atau paska persalinan. Biasanya terjadi seminggu atau sebulan setelah melahirkan.Keluhan yang sering muncul adalah merasa kewalahan, kecemasan yang parah, sering menangis, mudah marah, sedih, lelah, merasa tidak berguna, gangguan pola tidur dan makan, sulit berkonsentrasi dan rasa tidak tertarik pada bayi yang baru dilahirkan. Selain itu menyebabkan masalah fisik seperti sakit kepala, nyeri dada atau sesak napas.Depresi yang berlangsung lama tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayi, oleh karena itu dalam kondisi ini maka orang dekat dari sang ibu harus segera mengajak ibu untuk berkonsultasi dengan dokter.Berikut cara melawan dan mencegah depresi paska melahirkan: 1.      Vitamin DVitamin D merupakan nutrisi yang penting untuk kesehatan mental seseorang. Vitamin ini membantu produksi serotonin, hormon otak yang berhubungan dengan perbaikan mood dan kebahagiaan. Kadar serotonin yang kuat akan membantu mencegah dan mengatasi depresi paska melahirkan.Biasanya saat kehamilan, kadar vitamin D dalam tubuh akan berkurang karena diserap janin. Untuk mendapatkan vitamin D yang cukup adalah dengan terpapar sinar matahari pagi selama 15-20 menit sehari. Konsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti ikan, kuning telur produk susu dan produk gandum.2.      Makanan kaya asam lemak omega-3Asam lemak omega-3 merupakan nutrisi yang penting yang mempengaruhi fungsi sel. Asam lemak ini merupakan kunci komponen membran sel yang akan menjaga kadar serotonin. Serotonin penting dalam membawa pesan ke sel-sel otak untuk mempertahankan suasana hati yang positif.Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan oleh Behavioral Brain Research menunjukkan bahwa minyak ikan, yang kaya omega-3, memberikan efek menguntungkan pada depresi paska melahirkan dan menurunkan biomarker yang berhubungan dengan depresi, seperti kortikosteron dan sitokin pro-inflamasi sitokinUntuk menjaga kadar asam lemak omega-3 maka Anda bisa mengonsumsi flaxseed, ikan salmon, kacang walnut dan telur yang mengandung asam lemak omega-3. Selain itu Anda juga bisa konsumsi suplemen asam lemak omega-3.3.      MenyusuiSeorang ibu yang mengalami depresi paska melahirkan memerlukan sentuhan emosional yang kuat dengan bayi yang baru lahir, begitu juga dengan bayinya yang membutuhkan ibunya. Hubungan emosional ini akan melepas endorfin yang akan membuat seorang ibu merasa lebih bahagia dan merasa lebih percaya diri sebagai seorang ibu.Untuk memperkuat hubungan emosional, menyusui adalah pilihan terbaik. Namun ibu yang mengalami depresi paska melahirkan biasanya akan kurang tertarik untuk menyusui. Oleh karena itu diperlukan perhatian dari suami atau anggota keluarga lain untuk membuat ibu mengerti bahwa menyusui adalah hal yang sangat penting.4.      Konsultasi dengan profesionalSeorang ahli dalam masalah kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, penasihat yang aktif dalam kegiatan melawan depresi paska melahirkan akan membantu untuk menangani perasaan ibu yang mengalami depresi paska melahirkan.Cara ini akan membantu para ibu baru untuk menuangkan semua perasaan takutnya. Melalui terapi ini maka seorang ibu baru akan menerima tanggung jawab menjadi seorang ibu.5.      Pijatan yang menenangkanPijatan merupakan salah satu cara untuk menenangkan tubuh. Pijatan akan memperbaiki kondisi tubuh yang sedang kelelahan. Selain itu membantu mengatasi pemikiran negatif dan mengatasi stres.Pijatan paska melahirkan akan membantu regulasi hormon, mengurangi pembengkakan, tidur yang lebih baik dan menyusui menjadi lebih baik. Namun ada baiknya pijatan ini dilakukan terapis yang memiliki sertfikat dalam memberikan pijatan paska melahirkan.6.      AkupunkturCara lain untuk menangani depresi paska melahirkan adalah dengan melakukan akupunktur. Dalam terapi ini jarum tipis dimasukkan pada titik-titik tertentu yang penting dalam tubuh.Yang akan  membantu menjaga keseimbangan dari berbagai hormon dalam tubuh.Selain itu juga bisa memberikan dorongan energi untuk ibu, mengisi energi terkuras saat melahirkan. Juga, membantu mengatasi rasa sakit dan meningkatkan fungsi tiroid.7.      Tidur dan istirahat yang tepatTidur sangat penting untuk para ibu baru.  Namun tidur delapan jam penuh mungkin tampak mustahil ketika Anda sedang berhadapan dengan bayi yang baru lahir, tapi kurang tidur dapat membuat depresi parah.Kurang tidur menyebabkan perubahan signifikan neurotransmitter otak, yang merupakan salah satu penyebab depresi.Selama kehamilan dan setelah melahirkan, penting untuk mengejar ketinggalan tidur yang hilang dengan tidur siang. Jika memungkinkan, seorang ibu baru harus membawa bayi keluar untuk berjalan-jalan setiap pagi untuk meningkatkan ritme sirkadian ibu dan anak. Anda juga dapat meminta pasangan Anda untuk membantu pekerjaan malam hari.8.      OlahragaOlahraga sama efektifnya dengan obat untuk mengatasi depresi. Oleh karena itu, setelah melahirkan, semakin cepat Anda bangkit kembali dan bergerak semakin baik.Tidak perlu melakukan olahraga yang berat. Cukup 30 menit berjalan kaki setiap hari akan memberi efek yang berarti. Anda juga dapat melakukannya sambil mengajak bayi Anda jalan-jalan menggunakan kereta dorong. Latihan yoga juga sangat membantu dalam mendapatkan bentuk tubuh yang ideal kembali.9.      Terapi cahaya terang (bright light therapy)Dalam terapi ini, mata pasien akan terpapar dengan cahaya terang namun aman. Cahaya ini akan mengatasi masalah gangguan irama sirkardian. Selain itu berefek pada neurotransmitter di otak seperti serotonin, noradrenalin and dopamin, yang penting untuk mengatasi depresi.10.  MeditasiDengan meditasi akan membantu mengontrol emosi, yang akan membuat Anda merasa lebih damai dan mengurangi risiko mengalami depresi paska melahirkan.Cara diatas dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi depresi paska melahirkan. Dalam hal ini sangat dibutuhkan peran suami untuk membantu mengatasi depresi paska melahirkan dan memberi dukungan penuh kepada sang istri.Baca juga: Cara Membangun Kembali Hubungan Dengan KeluargaIngin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: top10homeremedies
 04 Apr 2017    12:00 WIB
Tidak Bisa Ditutupi Lagi, Ini Tanda Bila Anda Mengalami Depresi. Coba Cek Deh!
Mungkin Anda sering mendengar kata-kata orang mengatakan bahwa dirinya mengalami depresi setiap kali sedang mengalami masalah yang kecil dan sepele. Sedikit-sedikit mengatakan depresi atau mungkin Anda sendiri juga begitu? Padahal bila Anda memahami dengan benar apa depresi itu maka adalah suatu yang keadaan yang lebih fatal. Depresi adalah sebuah kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam Seseorang yang mengalami depresi bisa melakukan hal yang nekat seperti melukai diri sendiri atau bahkan mencoba untuk bunuh diri. Oleh karena itu sebelum Anda panik atau melakukan sesuatu yang tidak baik. Penting untuk Anda ketahui bagaimana tanda seseorang mengalami depresi atau mungkin Anda yang mengalami depresi tersebut. Sehingga Anda bisa langsung melakukan konsultasi dengan psikiater. Berikut adalah beberapa tanda bila Anda mengalami depresi: Depresi merubah cara Anda berpikir Saat Anda merasa tertekan bahkan oleh sebuah masalah yang kecil dan sepertinya mudah diatasi. Anda bisa merasakan keinginan untuk bunuh diri dan keinginan ini rasanya memaksa begitu kuat di kepala Anda. Bila Anda mengalami hal ini maka segera lakukan konsultasi dengan psikiater. Anda menjadi sangat egois Saat seseorang mengalami depresi dapat membuatnya menjadi sangat egois dan tidak ingin memikirkan kondisi orang lain bahkan untuk orang yang disayanginya. Kondisi depresi membuat Anda merasa terpuruk dan hanya Anda yang perlu diperhatikan bukan orang lain. Depresi juga bisa disebabkan oleh gangguan kecemasan atau dapat menjadi penyebab gangguan kecemasan Studi menunjukkan bahwa depresi yang dialami oleh banyak orang adalah karena kecemasan dalam waktu yang lama. Hal ini sangat membantu untuk mendapatkan diagnosis ketika Anda merasa tertekan. Emosional dan mudah meledak Setiap saat Anda merasa begitu tertekan, setiap masalah yang dihadapi bisa memicu tangisan atau kemarahan Anda. Sehingga dengan mudahnya Anda bisa memaki atau bahkan memukul orang lain. Sulit tidur Pola tidur Anda sering terganggu? Bisa jadi ini juga merupakan tanda Anda mengalami depresi. Kondisi dimana Anda merasa sangat tertekan membuat pikiran Anda melayang dan tidak pernah tenang sehingga menjadi sulit tidur. Merasa diri sudah tidak berharga Meski banyak orang yang sayang pada Anda, tapi Anda merasa diri Anda sudah tidak berharga. Seolah-olah Anda sudah tidak memiliki kemampuan lagi. Apapun yang Anda lakukan Anda adalah orang yang salah dan tidak berguna. Bila Anda mengalami kondisi ini secara terus menerus, jangan didiamkan saja. Anda perlu , bantuan. Bantuan dari orang terdekat, sahabat baik dan juga tenaga medis. Baca juga: Cara Untuk Mencegah Terjadinya Depresi Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 27 Feb 2017    12:00 WIB
Apa Iya Aktif Di Media Sosial Bisa Buat Depresi?
Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi. Seperti pola kehidupan yang tidak sehat, seperti pola tidur yang tidak baik. Selain itu dikatakan juga ada hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi yaitu terlalu aktif di media sosial. Gangguan interaksi sosial Saat seseorang terlalu aktif di media sosial biasanya akan menyebabkan kecanduan yang mempengaruhi interaksi sosial dengan orang lain. Kebiasaan bergaul secara tidak langsung dapat mengganggu interaksi sosial. Padahal pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Tidur menjadi tidak teratur Kebiasaan terlalu aktif di media sosial seringkali dapat mengganggu pola tidur seseorang. Kurang tidur, tidur tidak teratur, dan terlalu banyak tidur dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas otak terganggu karena kebiasaan tidur yang tidak teratur. Gangguan psikologis Media sosial seringkali menjadi ajang ‘pamer’. Banyak orang memamerkan apa yang dimilikinya. Seperri baru membeli baju baru, mobil baru atau baru memiliki pasangan baru. Untuk orang yang mungkin terobsesi dengan hal-hal tersebut, maka akan mencoba melakukan hal lain agar terlihat lebih hebat. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan masalah psikologis seperti rasa cemas, rendah diri, temperamen, stress dan depresi. Meskipun Anda bisa mendapatkan banya manfaat dari media sosial, namun harus Anda perhatikan hal-hal penting diatas jangan sampai justru Anda menjadi depresi. Baca juga: 3 Makanan Yang Dapat Memperburuk Depresi Sumber: kawankumagz
 22 Feb 2017    15:00 WIB
Dapatkah Depresi Membuat Anda Mengalami Serangan Jantung?
Sejak tahun 1980, para ahli telah berspekulasi mengenai ada tidaknya hubungan antara penyakit jantung dan depresi. Para ahli pun melakukan penelitian, yang menunjukkan bahwa depresi mungkin memiliki peranan dalam terjadinya gangguan jantung. Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa seorang penderita depresi lebih sering mengalami penyakit jantung seperti: Penderita depresi lebih sering merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan jarang berolahraga Seorang penderita depresi lebih jarang mengkonsumsi obat jantung walaupun jika mereka menderita penyakit jantung Stress mental yang terjadi akibat depresi dapat meningkatkan pembentukan plak lemak di dalam pembuluh darah Depresi dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan asam lemak, yang dapat merusak dinding pembuluh darah Orang yang paling sering menderita penyakit jantung yang berhubungan dengan depresi adalah orang lanjut usia. Orang lanjut usia adalah kelompok orang yang paling jarang mencari bantuan medis untuk mengatasi depresi yang dideritanya. Sekitar 19-30% orang yang berusia 65 tahun atau lebih mengalami berbagai gejala dan tanda depresi. Wanita biasanya lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria. Selain itu, orang yang hidup sendirian juga lebih sering menderita depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah universitas di Amerika menemukan bahwa orang lanjut usia yang mengalami beberapa gejala depresi memiliki resiko yang lebih tinggi (40% lebih tinggi) untuk menderita penyakit jantung koroner.  Pada penelitian ini para peneliti mengamati sekitar 4.500 orang lanjut usia yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan jantung maupun penyakit jantung. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa seorang penderita depresi, berapa pun usianya, memiliki resiko yang lebih tinggi (4 kali lipat) untuk mengalami serangan jantung dalam waktu 14 tahun mendatang selama penelitian berlangsung. Walaupun penelitian mengenai apakah depresi berhubungan dengan terjadinya penyakit jantung masih berada dalam tahap awal, para peneliti menduga bahwa depresi memang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung seperti halnya tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol darah yang tinggi.       Sumber: howstuffworks
 05 Jan 2017    08:00 WIB
Bolehkah Minum Obat Anti Depresi Saat Hamil???
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi obat SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors) selama hamil tidak akan membuat bayinya lahir dengan berat badan lahir rendah. Saat seorang wanita hamil, mereka pasti merasa sangat khawatir mengenai makanan dan segala sesuatu yang mereka konsumsi karena dapat berpengaruh pada kesehatan bayi yang dikandungnya. Salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh para wanita hamil adalah bolehkah mengkonsumsi obat saat hamil, termasuk obat anti depresi. Pada zaman dahulu, banyak wanita hamil yang terpaksa menghentikan pengobatan depresinya karena takut mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Akibatnya, bila mereka tidak segera melanjutkan pengobatan segera setelah bayi mereka lahir, kekambuhan pun seringkali terjadi. Akan tetapi, sebuah penelitian baru menemukan bahwa obat anti depresi golongan SSRI yang dikonsumsi selama hamil tidak akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam kandungan.  Para ahli juga tidak menemukan adanya perbedaan pertumbuhan yang signifikan pada anak dari lahir hingga berusia 12 bulan, yang dilahirkan oleh ibu yang mengkonsumsi SSRI saat hamil dengan yang tidak mengkonsumsi SSRI saat hamil. Penelitian lainnya juga menemukan bahwa penggunaan SSRI pada wanita hamil tidak berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya kematian bayi.   Baca juga: Posisi Tidur Terbaik Bagi Ibu Hamil   Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai hal ini sebelum Anda memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan konsumsi obat anti depresi Anda saat hamil.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthline