Your browser does not support JavaScript!
 18 Mar 2019    18:00 WIB
Bagaimana Depresi Berhubungan Dengan Bunuh Diri?
Bunuh diri memang tidak selalu menjadi hasil akhir dari depresi, tetapi depresi yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan pemikiran bunuh diri dan juga percobaan bunuh diri. Ketika seseorang mengalami depresi berat, pemikiran untuk menyakiti diri sendiri paling sering muncul dipikiran dan juga menyebabkan peningkatan keinginan melakukan percobaan bunuh diri, menurut mayo clinic. Dengan mengetahui faktor resiko dan bagaimana mendukung seseorang yang mengalami depresi dapat mencegah munculnya keinginan bunuh diri. Ada beberapa pertimbangan dalam memahami hubungan antara depresi dan bunuh diri, seperti fakta-fakta, gejala depresi, tanda-tanda perilaku bunuh diri, dukungan dan pencegahan.   Fakta mengenai depresi dan bunuh diri Menurut data terbaru di US yang dibuat oleh the American Association of Suicidology mengenai tingkat kematian, bunuh diri menempati peringkat ke 11 penyebab kematian di US, dengan rata-rata satu orang bunuh diri setiap 15 menitnya. Tak jarang seseorang melakukan 25 kali percobaan pembunuhan sebelum sukses melakukan bunuh diri. Sebagian besar upaya bunuh diri didahului oleh gejala depresi yang berat. Mereka tidak hanya mencoba untuk mendapatkan perhatian, tapi keinginan yang sebenarnya adalah untuk tidak lagi hidup di dunia ini.    Gejala dari depresi Depresi dapat mempengaruhi tiap orang berbeda dengan range mulai dari ringan, sedang sampai berat ketika didiagnosa. Depresi ditandai oleh gejala signifikan selama dua minggu atau lebih, termasuk: kesedihan terus menerus, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, gangguan tidur, perubahan pola makan, mudah terganggu, peningkatan rasa marah, tidak dapat beristirahat, mengisolasi diri, menolak untuk tampil didepan umum, sulit berkonsentrasi, tidak dapat mengambil keputusan, menangis berkepanjangan, dan munculnya pemikiran untuk bunuh diri.   Tanda dari perilaku bunuh diri Tanda yang sering muncul dari perilaku bunuh diri adalah ketika seseorang berbicara serius mengenai keinginan untuk menyakiti diri sendiri, gejala lain kurang begitu mudah dikenali. Sangat tidak biasa untuk seseorang berniat mengakhiri hidup dalam berbagai macam bentuk kematian. Indikator tinggi resiko seseorang berpotensial melakukan bunuh diri adalah seseorang memiliki keinginan kuat untu bunuh diri, sedang dalam pengobatan tanda-tanda depresi, sedang depresi dan menggunakan obat-obatan atau alkohol, mempunyai riwayat disakiti atau mempunyai kondisi medis yang serius. Sebagai tambahan untuk resiko tinggu bunuh diri adalah perilaku bunuh diri, misalnya, suka mengambil atau menggunakan senjata, mengkonsumsi pil dalam jumlah besar, sering memberikan hadiah kepada orang yang dekat, perubahan pola hidup rutin, suka melakukan kegiatan yang beresiko dan mengucapkan selamat tinggal kepada orang terdekat.     Sumber: livestrong
 24 Feb 2019    16:00 WIB
Apa Beda Stress dan Depresi?
Tahukah anda apa perbedaan antara stress dan depresi? Sebagian besar orang mungkin menganggap bahwa keduanya merupakan hal yang sama. Akan tetapi, terdapat suatu perbedaan besar antara stress dan depresi.Terdapat berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya stress dan depresi. Baik stress maupun depresi dapat mempengaruhi kesehatan anda, baik fisik, emosional, maupun jiwa anda. Apa Itu Stress?Stress merupakan suatu respon terhadap berbagai kejadian atau hal yang membuat anda menyebabkan perubahan atau mengancam kehidupan anda. Stress terjadi akibat pikiran anda dan apa yang anda rasakan mengenai suatu hal. Stress biasanya dicirikan dengan adanya suatu rasa kewalahan. Hal ini dapat diakibatkan oleh telah terlewatinya batas ketahanan anda atau akibat tertekan dalam waktu yang terlalu lama. Kadangkala, rasa stress dapat membantu anda menyelesaikan berbagai pekerjaan atau hal yang harus anda lakukan, akan tetapi terlalu banyak rasa stress yang anda rasakan juga dapat membuat anda merasa tertekan dan kelelahan.Apa Itu Depresi?Depresi merupakan suatu gangguan mood. Diagnosa depresi seringkali ditegakkan saat anda mengalami suatu perasaan sedih dan putus asa pada sebagian besar waktu yang seringkali juga diikuti dengan hilangnya minat untuk melakukan sesuatu hal yang biasanya anda sukai. Anda juga mungkin mengalami gangguan tidur, perubahan nafsu makan, merasa bersalah, tidak ada motivasi hidup, dan menarik diri dari lingkungan. Depresi yang terjadi dapat bervariasi, dari ringan hingga berat (psikosis). Depresi juga dapat terjadi dalam jangka waktu pendek (sebentar) atau dalam waktu lama (gangguan jiwa jangka panjang).Depresi merupakan gangguan yang lebih berat dan berlangsung lebih lama daripada stress, dan memerlukan penanganan yang berbeda.Beda Depresi dan StressBaik depresi maupun depresi memiliki gejala yang hampir mirip. Akan tetapi, gejala depresi biasanya jauh lebih berat dan berlangsung selama setidaknya 2 minggu. Depresi juga menyebabkan perubahan besar pada mood, seperti merasa sangat sedih dan putus asa. Anda juga dapat merasa lelah dan tidak dapat melakukan pekerjaan apapun. Gejala StressBeberapa gejala stress yang dapat ditemukan adalah:•  Sulit tidur•  Merasa kewalahan•  Gangguan daya ingat•  Kesulitan berkonsentrasi•  Perubahan kebiasaan makan•  Merasa gugup atau cemas•  Merasa marah, mudah tersinggung, atau mudah merasa frustasi•  Merasa sangat lelah akibat belajar atau tugas sekolah•  Merasa anda tidak dapat mengatasi berbagai kesulitan di dalam kehidupan anda•  Kesulitan mengikuti pelajaran di dalam kelas atau menjalani kehidupan anda sehari-hari Gejala DepresiBeberapa gejala depresi yang dapat ditemukan adalah:•  Menarik diri dari pergaulan atau lingkungan•  Merasa sedih dan putus asa•  Merasa tidak bertenaga, kurang semangat dan kekurangan motivasi•  Kesulitan membuat keputusan•  Merasa gelisah, mudah marah, dan mudah tersinggung•  Makan lebih banyak atau lebih sedikit daripada biasanya•  Tidur lebih banyak atau lebih sedikit daripada biasanya•  Kesulitan berkonsentrasi•  Gangguan daya ingat•  Merasa bersalah atau merasa diri sangat buruk•  Dipenuhi oleh amarah•  Merasa bahwa anda tidak dapat mengatasi berbagai kesulitan atau masalah di dalam kehidupan anda•  Kesulitan mengikuti pelajaran di dalam kelas atau menjalani kehidupan anda sehari-hari•  Adanya pikiran  untuk bunuh diri Baca juga: Hobi Tepat Atasi Stress Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: mentalhealthamerica, kayefrank
 20 Feb 2019    08:00 WIB
Depresi Saat Hamil, Tingkatkan Resiko Gangguan Mood Pada Anak
Tahukah Anda bahwa mood Anda selama hamil ternyata juga dapat mempengaruhi bagaimana keadaan mood anak Anda di usia remaja? Sebuah penelitian menemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita depresi selama hamil memiliki resiko 1.5 kali lebih tinggi untuk menderita gangguan depresi di usia remaja. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 4.500 orang pasien dan anaknya. Hasilnya adalah anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita depresi ternyata memiliki resiko yang lebih tinggi untuk juga menderita gangguan depresi saat mereka telah berusia 18 tahun. Walaupun faktor genetika merupakan salah satu hal yang turut berperan dalam terjadinya gangguan depresi, akan tetapi para peneliti menduga bahwa menderita gangguan depresi saat hamil mungkin dapat mempengaruhi perkembangan otak janin. Gangguan depresi saat hamil mengenai sekitar 10-15% wanita. Angka ini sebenarnya sama dengan banyaknya wanita yang terkena depresi paska melahirkan. Pada keadaan normal, wanita hamil memang seringkali mengalami perubahan emosional yang cukup drastis di sepanjang hari karena perubahan kadar hormonal, akan tetapi bila perubahan mood ini cukup berat, maka keadaan ini mungkin disebabkan oleh depresi. Beberapa gejala depresi yang mungkin ditemukan adalah merasa sedih, merasa tidak berdaya, merasa sangat lelah, menangis berlebihan, merasa tidak bertenaga, kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal yang dulu disenangi, atau menarik diri dari lingkungan atau pergaulan sosial. Terapi sedini mungkin untuk mengatasi gangguan depresi yang dialami oleh wanita hamil dapat membantu mencegah timbulnya berbagai efek samping pada anak di masa mendatang. Konseling atau terapi perilaku kognitif dapat membantu mengatasi gejala depresi.   Sumber: healthline
 08 Sep 2018    16:00 WIB
Cegah Depresi Sebelum Terlambat Dengan Tips Berikut
Ada banyak cara untuk mencegah terjadinya depresi yang mengganggu hidup Anda. Depresi adalah suatu kondisi yang serius yang dapat dialami oleh jutaan orang di dunia. Depresi dapat menimbulkan masalah dalam setiap aspek kehidupan seseorang. Itulah mengapa kita memerlukan berbagai cara untuk mencegah terjadinya depresi: Berusaha optimis Dengan optimis akan menimbulkan rasa percaya diri untuk mengatasi semua masalah yang sedang dihadapi. Tidur yang cukup Pola tidur yang buruk akan berefek terjadinya depresi. Tidur 8 jam sehari akan membantu Anda untuk menghindarkan Anda dari depresi.  Olahraga Olahraga sangat efektif untuk mencegah terjadinya depresi. Olahraga akan merangsang pengeluaran endorfin. Endorfin akan membuat pikiran menjadi lebih tenang dan membantu melawan depresi. Olahraga juga akan membantu tubuh tetap sehat. Dalam keadaan sehat akan membantu seseorang mencegah terjadinya depresi. Senyum Dengan tersenyum akan membuat Anda menjadi lebih bahagia dapat membantu untuk melawan depresi. Dukungan dari orang terdekat Dukungan dari orang-orang terdekat yang menyayangi Anda adalah kekuatan yang dapat membantu Anda melawan depresi, seperti keluarga, saudara dan teman-teman terdekat Anda. Tertawa Tertawa adalah salah satu hal yang efektif melawan depresi dan akan membuat Anda jauh lebih bahagia. Bersenang-senang Untuk Anda yang sibuk jangan lupakan hal yang satu ini. Bersenang-senanglah, jalan-jalan dengan teman ataupun belanja bareng akan membantu Anda melawan depresi. Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk melawan depresi. Jangan biarkan masalah Anda membuat Anda semakin terpuruk dan depresi.  Baca juga: Hobi Tepat Atasi Stress Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: allwomenstalk
 05 Sep 2018    16:00 WIB
Hati-hati Gejala dan Resiko Depresi Bisa Terjadi Paska Melahirkan
Melahirkan pasti memang merupakan kejadian paling penting dalam kehidupan wanita dan pada sebagian besar kasus, saat ini merupakan saat penuh kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup wanita. Akan tetapi, walaupun demikian, melahirkan juga dapat membuat seorang wanita mengalami stress emosional, fisik, dan psikologis yang cukup berat. Beberapa di antaranya bahkan mengalami gangguan cemas atau bahkan depresi, segera setelah mereka melahirkan. Keparahan depresi atau rasa cemas paska melahirkan ini dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Keadaan ini biasanya disebut dengan depresi paska melahirkan. Pengobatan segera sangat penting untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang. Selain itu, depresi paska melahirkan juga berbeda dengan baby blues, yang merupakan gangguan yang lebih ringan dan lebih sering ditemukan pada wanita yang baru saja melahirkan.   Apa Saja Gejala Depresi Paska Melahirkan? Seperti halnya gangguan depresi pada umumnya, gejala-gejala depresi paska melahirkan dapat menjadi semakin berat dan dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Pada masa ini, ibu yang baru melahirkan mungkin merasa tidak berdaya dan mungkin akan kehilangan sebagian atau seluruh ketertarikannya terhadap bayinya. Pada kasus yang jarang, para wanita ini dapat memiliki keinginan untuk bunuh diri atau melukai bayinya. Oleh karena itu, mendapatkan pertolongan dan pengobatan secepat mungkin sangatlah penting. Tanda dan gejala depresi paska melahirkan biasanya mulai terlihat dalam setahun pertama paska melahirkan dan dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari perubahan kadar hormonal did alam tubuh hingga perubahan fisik dan emosional ibu setelah melahirkan. Stress merupakan pemicu utama dari terjadinya depresi paska melahirkan. Beberapa gejala depresi paska melahirkan yang paling sering ditemukan adalah: Kemarahan yang tidak terkendali dan terjadi secara mendadak Terus merasa sedih Merasa bersalah Merasa tidak memiliki harapan Kehilangan minat akan hobi atau bahkan bayinya Sering menangis Mudah marah Terus merasa lelah Insomnia Perubahan perilaku yang signifikan Mengalami gangguan makan Sangat penting untuk membedakan gejala depresi paska melahirkan dengan baby blues, yang biasanya hanya berlangsung selama 1-2 minggu. Secara umum, gejala baby blues yang sering ditemukan adalah mood yang berubah-ubah, sering menangis, dan selalu merasa cemas. Perbedaannya dengan depresi paska melahirkan adalah tingkat keparahan gejala. Gangguan kejiwaan lainnya yang lebih jarang tetapi lebih berat adalah psikosis paska melahirkan. Tanda dan gejala yang sering ditemukan adalah sikap paranoid, tampak bingung, tidak dapat membedakan waktu atau tempat, mengalami delusi, dan bahkan berhalusinasi. Segera hubungi dokter Anda, bila Anda mengalami berbagai gejala di atas atau gejala terus saja memburuk.   Apa Penyebab Utama Depresi Paska Melahirkan? Penyebab terjadinya depresi paska melahirkan dapat berbeda-beda. Penyebabnya mungkin hanya satu atau kombinasi dari berbagai hal. Perubahan emosional yang dialami oleh sang ibu segera setelah melahirkan seringkali merupakan penyebab utama terjadinya depresi paska melahirkan, di mana ibu selalu kurang tidur dan selalu merasa cemas saat merawat bayinya. Selain itu, perubahan kadar hormonal selama hamil dan melahirkan juga turut mempengaruhi terjadinya depresi paska melahirkan. Selain hormon seksual, perubahan kadar hormon tiroid juga dapat membuat ibu merasa sangat lelah, depresi, mood berubah-ubah, dan sebagainya.   Baca juga: Pengobatan dan Pencegahan Terjadinya Depresi Paska Melahirkan   Apa Saja yang Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Depresi Paska Melahirkan? Walaupun tidak ada cara untuk memprediksi apakah seorang wanita akan mengalami depresi paska melahirkan atau tidak, akan tetapi ada beberapa hal yang diduga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan. Jika Anda pernah mengalami gangguan depresi sebelumnya, maka Anda mungkin akan mengalami depresi paska melahirkan. Selain itu, jika Anda memiliki masalah dalam pernikahan Anda (baik masalah kepercayaan, emosional, atau keuangan), maka resiko terjadinya depresi paska melahirkan juga akan lebih tinggi. Sementara itu, wanita yang pernah mengalami gangguan bipolar sebelum hamil, memiliki resiko tinggi untuk mengalami psikosis paska melahirkan, yang jauh lebih berbahaya daripada depresi, baik bagi ibu maupun bayinya. Stress karena sebab apapun yang dikombinasikan dengan kurangnya dukungan emosional, moral, atau keuangan dan adanya anggota keluarga yang menderita psikosis atau depresi atau keduanya juga dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan. Satu hal lain yang perlu diingat adalah bahwa depresi paska melahirkan merupakan suatu gangguan psikologis berat yang dapat berkembang menjadi psikosis. Oleh karena itu, jangan pernah mengabaikan berbagai gejala depresi di atas. Wanita yang dianggap beresiko tinggi menderita depresi paska melahirkan adalah: Wanita yang merupakan ibu tunggal Wanita yang memiliki status sosial ekonomi bawah Wanita yang tidak menginginkan kehamilannya   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: lifespan
 05 Jul 2018    08:00 WIB
Gampang Depresi ? Mungkin Ini Penyebabnya
Guys pernah kepikir tidak bahwa ternyata kesukaan kita bangun entah di pagi atau siang hari ternyata mempengaruhi keadaan mental kita? Ternyata suatu studi menunjukan bahwa preferensi atau kesukaan kita tidur dan bangun mempengaruhi kebugaran dan keadaan mentalitas kita. Entahkah kita ini jenis burung yang suka tidur dan bangun lebih awal ataukan kita ini jenis burung hantu (kalau di masyarakat Indonesia ada yang menyebut sebagai kalong/kelelawar) yang tidur dan bangun telat ternyata berdampak pada kemungkinan berkembangnya kesehatan mental seperti depresi. Penelitian ini dilakukan oleh beberapa lembaga seperti the University of Colorado Boulder, the Channing Division of Network Medicine di Brigham, dan Women's Hospital di Boston. Tim peneliti melakukan penelitian atas 32.470 perempuan yang usia rata-ratanya 55 tahun. Tim ini juga meneliti hal-hal yang mempengaruhi siklus tidur-bangun seseorang seperti paparan sinar matahari dan jadwal kerja. Selain itu juga mencatat faktor lain yang berhubungan dengan depresi seperti berat badan, akttivitas fisik, penyakit kronis dan tentu saja durasi tidur juga. Dari peserta yang diteliti teridentifikasi 37 persen adalah mereka yang bangun pagian, 10 persennya adalah yang tipe "burung hantu", dan 53 persen adalah diantaranya dua kategori ini. Nah hasil yang di dapat ternyata mereka suka suka tidur terlambat dan bangun siang ada kecenderungan lebih suka hidup menurut maunya, cenderung mau menikah, cenderung memiliki kebiasaan merokok dan pola tidurnya tidak teratur. Mereka yang bangun lebih pagian dibandingkan dengan rata-rata orang memiliki resiko mengalami depresi lebih rendah sekitar 12-27 persen. Sedangkan mereka yang termasuk tipe burung hantu atau kalong ini 6 persen lebih tinggi kemungkinannya mengalami gangguan mood atau suasana hati. Jadi sobat sekalian kalau kita suka galau, gelisah tidak menentu mungkin ada baiknya kita coba untuk bangun bagi, Hindari hang out hingga malam atau pagi hari yang tidak perlu supaya kita bisa istirahat cukup dan bangun lebih pagi dengan tubuh dan otak yang lebih segar….selamat belajar bangun pagi!!! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber : www.medicalnewstoday.com
 15 Apr 2018    08:00 WIB
Olahraga, mengurangi depresi dan meningkatkan gairah seks!!
Olahraga, selain bisa membantu menjaga kesehatan dan berat badan tubuh, ternyata olahraga juga dapat membantu masalah performa seksual.   Wanita yang mengonsumsi obat antidepresan memiliki kecenderungan untuk terkena masalah seksual yang buruk,  sehingga dapat mengganggu keharmonisan dengan pasangan. Namun sebuah studi baru mengungkapkan bahwa berolahraga dapat membantu mengobati masalah kesehatan seksual pada wanita yang disebabkan oleh efek samping dari obat antidepresan. Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Texas, Austin,USA, ini melibatkan 52 partisipan wanita yang memiliki keinginan untuk sembuh dari efek samping obat antidepresan.   Para partisipan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok diminta untuk berolahraga secara rutin sebelum berhubungan seks dengan pasangan dan kelompok kedua diminta berolahraga tanpa diberikan batas waktu untuk berhubungan seks dengan pasangan. Selama tiga minggu para peneliti menganalisa perkembangan para partisipan dalam masalah kesehatan seksual mereka karena efek samping dari obat antidpresen tersebut.   Hasilnya menunjukan, bahwa berolahraga secara umum memang dapat memperbaiki kesehatan seksual karena obat antidepresan, namun melakukan 30 menit olahraga sebelum melakukan hubungan seks diketahui mampu meningkatkan libido secara signifikan dan dapat memperbaiki seluruh fungsi seksual pada wanita.   Selain itu, para peneliti juga menambahkan bahwa olahraga kecil dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik yang memainkan peran dalam aliran darah ke daerah genital, obat antidepresan diketahui menekan sistem tersebut dan menyebabkan aliran darah terhambat untuk masuk ke daerah genital. Menurut para peneliti, olahraga teratur menjadi cara yang murah dan aman untuk mengobati masalah kesehatan dari efek samping obat antidpresan.
 13 Mar 2018    08:00 WIB
5 Cara Mudah Untuk Mengatasi Depresi Paska Melahirkan
Depresi paska melahirkan berbeda dengan baby blues. Depresi paska melahirkan adalah perasaan sangat sedih dan berhubungan dengan gangguan psikologi setelah melahirkan. Banyak wanita mengalami baby blues setelah melahirkan. Baby blues adalah perasaan sedih, tidak karuan, cemas, atau kewalahan setelah melahirkan. Penderita dapat menangis, kehilangan nafsu makan, atau sulit tidur. Gangguan ini seringkali hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari atau seminggu. Gejala-gejala yang ada tidak berat dan tidak membutuhkan terapi. Gejala-gejala depresi paska melahirkan terjadi lebih lama dan lebih berat. Penderita juga dapat merasa putus asa, tidak berguna, dan kehilangan rasa ketertarikan dengan bayinya. Dalam bentuk yang berat, penderita bahkan dapat memiliki pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayinya. Pengobatan perlu segera diberikan untuk mengatasinya. Jika keadaan Anda tidak terlalu berat, maka ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan jiwa Anda. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa tips yang dapat membantu mengatasi gejala depresi ringan.   Tetap Konsumsi Diet Sehat Saat ini Anda mungkin tidak merasa nafsu makan, akan tetapi cobalah untuk tetap makan walaupun sedikit. Makanlah sedikit-sedikit tetapi sering. Pilihlah berbagai jenis makanan yang memang dapat membantu memperbaiki mood seperti nasi, pisang, dan roti untuk memperoleh energi instan. Mengkonsumsi cokelat juga dapat membantu mengatasi stress dan dapat membuat Anda merasa lebih baik.   Olahraga Teratur Walaupun terdengar tidak berhubungan, akan tetapi olahraga sebenarnya dapat sangat mempengaruhi keadaan emosional Anda. Berjalan santai, stretching, atau bermain dengan bayi Anda dapat membantu memperbaiki mood Anda dengan cepat.   Baca juga: Apa Saja Gejala dan Resiko Terjadinya Depresi Paska Melahirkan?   Mengobrol Dengan Teman Curhat pada teman atau keluarga juga dapat membantu membuat Anda merasa lebih baik. Oleh karena itu, jangan ragu untuk curhat pada orang terdekat yang dapat dipercaya.   Istirahat yang Cukup Kurang tidur telah diketahui dapat membuat mood seseorang menjadi buruk dan mudah marah. Selain itu, badan juga dapat terasa sangat lemas. Oleh karena itu, usahakanlah untuk tidur dengan cukup setiap harinya, bila perlu Anda boleh tidur di siang hari.   Berpikir Positif Anda baru saja memiliki seorang bayi! Oleh karena itu, nikmatilah waktu menakjubkan ini dan temukanlah kesenangan dari semua kelelahan yang Anda rasakan saat merawat bayi Anda yang baru lahir. Terus berpikir positif dan ingatlah bahwa setiap masalah yang ada pasti akan segera berlalu. Namun, bila Anda terus merasa depresi dan mulai mengganggu hubungan Anda dengan pasangan dan orang lain, segera cari pertolongan medis.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: momjunction
 11 Mar 2018    08:00 WIB
Benarkah Olahraga Dapat Membantu Mengatasi Gangguan Depresi?
Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa olahraga benar-benar dapat membantu mengatasi depresi dan membuat Anda tidak mudah mengidap gangguan mood tersebut.   Pada penelitian ini, para peserta penelitian yang aktif melaporkan bahwa mereka memiliki lebih sedikit gejala depresi dibandingkan dengan peserta penelitian lain yang memiliki gaya hidup tidak aktif, di mana perbaikan gejala akan semakin tampak bila mereka semakin sering berolahraga.   Bahkan, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang tadinya tidak aktif berolahraga dan baru mulai berolahraga 3 kali seminggu dapat menurunkan resiko terjadinya depresi hingga 19%.   Karena penelitian ini dilakukan dengan mengamati lebih dari 11.000 orang selama lebih dari 30 tahun, maka para peneliti pun lebih dapat mempelajari apa sebenarnya dampak olahraga pada depresi pada orang yang sama setelah sejangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya.   Walaupun berbagai penelitian telah menemukan bahwa olahraga memang dapat membantu memperbaiki gejala depresi, akan tetapi bagaimana hal ini terjadi masih samar-samar.   Pada penelitian ini, para peneliti menduga hal ini mungkin merupakan suatu hubungan tidak langsung dengan cara mengalihkan perhatian Anda dari situasi yang tidak menyenangkan atau dengan mempengaruhi diet atau paparan sinar matahari pada penderita. Akan tetapi, para peneliti juga memiliki dugaan lainnya yaitu bahwa olahraga mungkin bekerja secara langsung pada otak Anda.     Sumber: menshealth
 13 Feb 2018    11:00 WIB
Benarkah Obat Anti Depresi Dapat Mencegah Penyakit Alzheimer?
Sebuah penelitian menemukan bahwa obat anti depresi yang banyak digunakan saat ini dapat menghambat pembentukan salah satu hal yang diduga merupakan penyebab terjadinya penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer dicirikan dengan adanya plak yang melekat pada sel-sel otak yang telah mulai terbentuk 10-15 tahun sebelum gejala pertama Alzheimer muncul. Plak ini tersusun dari suatu protein, yaitu beta amiloid. Pada penelitian ini, para peneliti sedang memeriksa apakah mungkin untuk menghambat pembentukan plak dengan cara mengubah proses pembentukan amiloid di dalam tubuh. Pada penelitian ini, para penelitian melakukan pemeriksaan melalui 2 tahap. Pada tahap pertama, para peneliti memberikan citalopram (salah satu jenis obat anti depresan) pada tikus yang sudah tua, yang juga mengalami kerusakan otak seperti halnya penderita Alzheimer. Walaupun plak pada hewan percobaan yang diamati tidak menghilang, akan tetapi plak ini tidak lagi bertambah banyak atau hanya mengalami sedikit pembentukan plak bila dibandingkan dengan tikus lain yang hanya diberikan air gula. Pada tahap kedua, para peneliti memberikan dosis tunggal citalopram atau plasebo pada 23 orang dewasa muda sehat, yang tidak menderita depresi atau cukup tua untuk memiliki plak pada otak. Melalui pemeriksaan cairan medulla spinalis para peserta penelitian satu setengah hari setelah pemberian citalopram, para peneliti menemukan bahwa produksi amiloid mereka mengalami penurunan hingga 37%. Citalopram merupakan obat anti depresi golongan SSRI yang dapat mengatasi gangguan depresi dengan cara mempengaruhi kadar serotonin di dalam otak. Seperti halnya obat-obatan, citalopram juga memiliki efek samping, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi, yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah obat anti depresi dapat benar-benar membantu mencegah pembentukan plak baru di dalam otak, serta apakah obat ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk menurunkan produksi amiloid atau apakah tubuh akan mengalami reaksi toleransi obat. Sumber: newsmaxhealth