Your browser does not support JavaScript!
 22 Sep 2018    08:00 WIB
Apa Perbedaan Antara Radang Sendi (Osteoartritis) Dengan Rematik Sendi (Artritis Reumatoid)?
Artritis merupakan suatu istilah umum untuk menggambar sendi yang terasa nyeri, kaku, dan meradang. Terdapat beberapa jenis artritis yaitu osteoartritis, artritis reumatoid, spondilitis ankilosing, artritis seprik, gout, dan psoriasis artritis. Artritis yang paling sering terjadi adalah osteoartritis dan artritis reumatoid.   Apa Itu Osteoartritis? Osteoartritis merupakan suatu gangguan degeneratif, di mana tulang rawan di antara dua sendi terkikis habis akibat berbagai hal, yang menyebabkan dua tulang bergesekan satu sama lainnya dan menyebabkan timbulnya nyeri sendi, kaku sendi, peradangan sendi, terbatasnya pergerakan sendi setelah suatu aktivitas fisik, dan nyeri sendi di penghujung hari.   Apa Itu Artritis Reumatoid? Artritis reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun, yaitu suatu keadaan di mana tubuh Anda menyerang sel-sel sehatnya sendiri. Pada keadaan ini, sistem kekebalan tubuh memproduksi suatu antibodi yang menyerang persendian dan berbagai bagian tubuh lainnya.  Sistem kekebalan tubuh menganggap sinovium (suatu lapisan di sekitar sendi) sebagai suatu ancaman seperti halnya virus atau bakteri dan menyerangnya. Hal ini menyebabkan terkumpulnya cairan di sekitar persendian dan menimbulkan rasa nyeri sendi, kaku sendi, dan peradangan sendi. Reaksi autoimun pada artritis reumatoid dapat mengenai seluruh tubuh, tidak hanya persendian. TAnda awal terjadinya artritis reumatoid adalah demam subfebris (demam yang tidak terlalu tinggi), nyeri otot, dan rasa lelah. Penderita artritis reumatoid stadium lanjut mungkin memiliki benjolan kecil pada persendian yang disebut dengan nodul reumatoid. Perbedaan Penyebab dan Gejala Pada umumnya, osteoartritis mengenai sendi yang menyangga berat badan seperti sendi lutut, sendi panggul, dan sendi tulang belakang. Sementara itu, artritis reumatoid biasanya mengenai sendi-sendi yang lebih kecil seperti sendi pergelangan tangan, sendi pergelangan kaki, sendi buku-buku jari, sendi ibu jari, dan baru mengenai persendian besar saat penyakit memasuki tahap lanjut.  Artritis reumatoid merupakan suatu penyakit simetris, di mana gejala terjadi pada kedua sisi tubuh, sedangkan osteoartritis dapat hanya mengenai satu bagian tubuh atau kedua bagian tubuh. Gejala khas artritis reumatoid adalah gejala biasanya memburuk di pagi hari, terutama kekakuan sendi, yang biasanya berlangsung selama sekitar 20-30 menit. Pada osteoartritis, gejala biasanya memburuk di sore atau malam hari.   Perbedaan Pengobatan Pada artritis reumatoid yang berat, jika tidak segera diobati, maka dapat terjadi perubahan bentuk persendian (deformitas) yang dapat terjadi pada leher, lengan, maupun buku jari. Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan osteoartritis maupun artritis reumatoid.  Pengobatan biasanya hanya bertujuan untuk mengurangi gejala seperti mengurangi nyeri dan mengatasi peradangan.  Dokter Anda mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan fisioterapi biasanya dapat membantu menguatkan otot-otot di sekitar sendi yang terkena. Selain itu, menurunkan berat badan bila memiliki berat badan berlebih juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri.  Pada kasus osteoartritis yang berat, dapat dilakukan tindakan pembedahan untuk mengganti persendian lutut.    Sumber: differencebetween
 09 Feb 2015    08:00 WIB
Apa Hubungan Gen Anak Anda Dengan Resiko Terjadinya Artritis Reumatoid?
Sebuah penelitian baru mengenai artritis rheumatoid menemukan sebuah hal mengejutkan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa gen anak, termasuk gen yang diperolehnya dari sang ayah, mungkin dapat mempengaruhi resiko sang ibu untuk menderita artritis reumatoid. Para peneliti menemukan bahwa sel-sel janin yang mungkin membawa gen-gen tertentu dapat meningkatkan resiko terjadinya artritis reumatoid pada sang ibu setelah ia melahirkan. Artritis reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun yang menyebabkan terjadinya proses peradangan pada persendian penderita. Para ahli telah lama mengetahui bahwa wanita memang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita artritis reumatoid dibandingkan dengan pria. Hasil penelitian ini mungkin dapat menambahkan lagi penyebab mengapa wanita memiliki resiko menderita artritis reumatoid yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.   Mengapa Kehamilan Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Artritis Reumatoid? Selama kehamilan, Anda dapat menemukan sejumlah kecil sel-sel janin di dalam aliran darah ibu. Pada beberapa wanita, keadaan ini dapat berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada wanita yang menderita artritis reumatoid dibandingkan dengan wanita yang tidak menderita artritis reumatoid. Dengan demikian, para peneliti pun menduga hal ini juga merupakan salah satu faktor resiko terjadinya artritis reumatoid. Para ahli menduga terjadinya artritis reumatoid mungkin berhubungan dengan gen human leukocyte antigen (HLA), yang berfungsi untuk mengatur sistem imunitas. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa memiliki anak dengan gen HLA tertentu (gen yang diwariskan dari sang ayah) dapat meningkatkan resiko terjadinya artritis reumatoid pada sang ibu. Para peneliti menemukan bahwa berbagai jenis protein yang terdapat di dalam gen ini dapat menstimulasi suatu reaksi sistem imunitas di dalam tubuh ibu, yang membuat sistem kekebalan tubuh sang ibu justru menyerang protein yang dihasilkan oleh janin ini karena dianggap sebagai suatu ancaman. Karena sel-sel janin dapat bertahan hidup di dalam tubuh sang ibu selama berpuluh-puluh tahun, maka proses autoimun pun akan terus berlangsung di dalam tubuh sang ibu walaupun sang bayi telah lahir. Hingga saat ini, para ahli masih tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab pasti dari artritis reumatoid. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti berspekulasi bahwa adanya sel-sel janin di dalam tubuh sang ibu merupakan salah satu hal yang berpotensi memicu terjadinya artritis reumatoid. Karena sistem kekebalan ibu menganggap sel-sel janin sebagai suatu antigen asing, maka hal ini akan memicu terjadinya reaksi antibodi-antigen yang menyebabkan terjadinya peradangan di dalam persendian ibu. Jika proses peradangan ini terus berlangsung, maka ibu pun akan mengalami artritis reumatoid.   Sumber: healthline